PALEMBANG,LamanQu.com– Malam telah turun di Talang Jambe. Suara aktivitas pembangunan yang sejak pagi mewarnai pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0418/Palembang perlahan mereda.
Pekerjaan fisik di sejumlah sasaran mulai dihentikan. Peralatan kerja ditata kembali. Para prajurit yang sejak pagi bergelut dengan pekerjaan pembangunan pun mulai beristirahat setelah seharian berada di tengah masyarakat.
Namun, suasana berbeda masih terasa di Pos Komando Taktis (Poskotis).
Minggu malam (9/8/2026), sejumlah pemuda Karang Taruna Talang Jambe tampak duduk bersama personel Satgas TMMD.
Tidak ada aktivitas pembangunan yang sedang dikerjakan. Tidak pula ada target fisik yang harus diselesaikan malam itu.
Yang tersisa hanyalah waktu.
Waktu untuk berbincang, saling mengenal dan sesekali tertawa bersama.
Percakapan mengalir begitu saja. Ada cerita tentang aktivitas sehari-hari, kondisi lingkungan hingga pengalaman selama pelaksanaan TMMD. Suasana berlangsung santai, tanpa sekat antara prajurit dan pemuda.
Seragam yang dikenakan memang berbeda. Para prajurit tetap mengenakan pakaian dinas, sedangkan para pemuda hadir dengan pakaian sehari-hari. Namun, ketika duduk bersama dalam satu ruang, perbedaan itu seperti kehilangan maknanya.
Mereka berbicara sebagai sesama warga yang sedang menikmati malam.
Bagi para prajurit Satgas TMMD, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal masyarakat lebih dekat. Sebab, selama pelaksanaan TMMD, hubungan yang terbangun tidak hanya terjadi ketika mereka bekerja di lokasi sasaran.
Prajurit dan masyarakat bertemu sejak pagi di lokasi pembangunan. Mereka mengangkat material, membersihkan lingkungan, mengerjakan sasaran fisik hingga berbincang di sela pekerjaan.
Hari demi hari, pertemuan yang berulang itu perlahan mengubah hubungan.
Pemuda yang sebelumnya mungkin hanya mengenal prajurit sebagai anggota TNI, mulai melihat sisi lain dari sosok yang berada di balik seragam tersebut. Begitu pula prajurit, yang tidak hanya melihat pemuda sebagai warga di sekitar lokasi TMMD, tetapi sebagai bagian dari lingkungan yang ikut menjaga keberlanjutan hasil pembangunan.
Poskotis yang pada siang hari menjadi tempat koordinasi dan aktivitas Satgas, berubah menjadi ruang sederhana untuk mempererat silaturahmi.
Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., mengatakan kedekatan antara prajurit dan masyarakat merupakan bagian penting dari pelaksanaan TMMD.
“TMMD bukan hanya membangun sarana dan prasarana. Kita juga membangun hubungan, kebersamaan dan komunikasi dengan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Erik, pembangunan fisik akan memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, hubungan baik yang terjalin selama pelaksanaan TMMD juga diharapkan dapat menjadi modal sosial setelah program tersebut berakhir.
Terlebih, generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga kebersamaan dan semangat gotong royong di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Karang Taruna sebagai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga semangat gotong royong dan membangun lingkungan,” katanya.
Karena itu, menurut dia, interaksi antara prajurit dan pemuda tidak seharusnya berhenti ketika pekerjaan TMMD selesai.
Justru dari pertemuan-pertemuan sederhana seperti itulah komunikasi dapat terus tumbuh.
Malam itu, tidak ada suara mesin pembangunan. Tidak terdengar bunyi palu atau aktivitas mengangkut material. Poskotis hanya dipenuhi percakapan ringan dan tawa yang sesekali pecah.
Namun, di balik kesederhanaan itu ada sesuatu yang sedang dibangun.
Bukan jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Bukan pula rumah yang diperbaiki, sumur bor yang menghasilkan air bersih atau fasilitas umum yang menjadi sasaran TMMD.
Yang dibangun adalah kepercayaan.
Kepercayaan yang tumbuh karena masyarakat melihat langsung bagaimana prajurit hadir dan bekerja bersama mereka. Kepercayaan yang tumbuh karena prajurit juga bersedia mendengar cerita, harapan dan persoalan masyarakat.
Sebab, kemanunggalan TNI dan rakyat tidak selalu lahir dari pekerjaan besar.
Kadang, ia tumbuh dari hal-hal yang sederhana: sebuah sapaan ketika bertemu, bantuan saat bekerja, percakapan di sela pekerjaan, atau sekadar duduk bersama ketika malam mulai larut.
Di Talang Jambe, proses itu telah berlangsung selama 26 hari.
Selama itu pula, batas antara “prajurit” dan “masyarakat” perlahan menjadi semakin tipis. Mereka tidak hanya bertemu karena pekerjaan, tetapi karena kebersamaan yang terbangun setiap hari.
Ketika pembangunan fisik berhenti, hubungan antarmanusia justru terus berjalan.
Dan ketika seragam masih melekat di tubuh masing-masing, rasa persaudaraan membuat mereka duduk dalam jarak yang sama.
Mungkin pertemuan itu tidak akan tercatat dalam daftar capaian pembangunan TMMD. Tidak ada angka panjang jalan, jumlah rumah, kedalaman sumur bor atau persentase progres yang bisa mengukurnya.
Tetapi bagi mereka yang duduk malam itu, ada kenangan yang akan tinggal lebih lama.
Sebab setelah TMMD berakhir dan para prajurit kembali meninggalkan Talang Jambe, yang diharapkan tidak ikut pergi adalah rasa kebersamaan yang telah tumbuh selama mereka bersama.
Bukan dengan pekerjaan besar, melainkan dengan percakapan sederhana yang membuat prajurit dan pemuda menyadari satu hal: seragam boleh berbeda, tetapi mereka tetap berada di tengah masyarakat yang sama dan memiliki kepedulian yang sama terhadap lingkungan tempat mereka hidup.
(Yanti)










