LamanQu.Com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengumumkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp105 miliar untuk revitalisasi sekolah di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Oleh karena itu, langkah ini diharapkan dapat mendongkrak kualitas pendidikan secara signifikan di wilayah tersebut.
Selain itu, program ini diselaraskan langsung dengan visi besar pembangunan nasional. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan, “Revitalisasi sekolah ini merupakan bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam AstaCita keempat yaitu membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, sehat, dan berdaya saing tinggi,”
Maka dari itu, apresiasi tinggi diberikan atas terciptanya kerja sama yang solid antara pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah. Selanjutnya, Kemendikdasmen menegaskan dua pilar utama yang menjadi fokus pergerakan mereka saat ini, yaitu program revitalisasi bangunan dan digitalisasi sekolah.
Sebagai rincian, pada periode 2025, Kemendikdasmen telah mengucurkan total bantuan revitalisasi senilai Rp527,575 miliar untuk 531 sekolah di wilayah NTB dan NTT. Jaringan bantuan tersebut tersebar merata mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, hingga pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).
Sementara itu, khusus di wilayah Kabupaten Lombok Timur, program peningkatan fasilitas fisik ini menyasar sebanyak 87 sekolah. Adapun alokasi dana Rp105 miliar tersebut dibagi untuk merenovasi 7 PAUD, 36 SD, 19 SMP, 9 SMA, 12 SMK, dan 4 SLB.
Selanjutnya, lompatan besar juga dilakukan pada sektor modernisasi ruang kelas melalui program digitalisasi. Hal ini karena Kemendikdasmen sukses mendistribusikan 7.080 perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Pintar senilai Rp236,168 miliar ke berbagai sekolah di NTB.
Terlebih lagi, Kabupaten Lombok Timur mendapatkan porsi yang cukup besar dalam distribusi teknologi ini. Sebanyak 1.739 unit papan pintar senilai Rp47,179 miliar telah disalurkan, di mana seluruh proses pengerjaan fisik dan digitalisasi tersebut dilaporkan telah rampung 100 persen.
Oleh sebab itu, Mendikdasmen mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi dan kemewahan fasilitas tidak akan bermakna tanpa adanya aspek spiritual dan kualitas pengajar yang hebat.
“Guru adalah kunci, teknologi penting, sarana penting, tapi guru tidak bisa digantikan. Karena itu kami fokus pada kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru,” tegas Mendikdasmen.




