PALEMBANG,LamanQu.com – Sebuah rumah tidak pernah berdiri sendiri. Di balik dinding dan atap yang melindungi penghuninya, ada halaman, jalan, saluran air, serta lingkungan yang ikut menentukan apakah sebuah tempat tinggal benar-benar terasa nyaman.
Pemahaman itulah yang terlihat dalam pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0418/Palembang di rumah Pak Karyo, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang.
Memasuki hari ke-26 pelaksanaan TMMD, personel Satgas tidak hanya berkonsentrasi menyelesaikan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Setelah bagian rumah dikerjakan, perhatian mereka juga diarahkan pada lingkungan di sekitar tempat tinggal tersebut.
Rumput yang tumbuh tidak beraturan dibersihkan. Sampah dikumpulkan. Material sisa pembangunan yang tidak lagi digunakan disingkirkan. Halaman yang sebelumnya tampak kurang tertata perlahan dibersihkan agar menjadi ruang yang lebih rapi dan nyaman.
Aktivitas itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Satgas TMMD, kebersihan lingkungan merupakan bagian dari pembangunan yang tidak kalah penting.
Sebab, rumah yang sudah diperbaiki akan kehilangan sebagian manfaatnya jika lingkungan di sekitarnya tetap kotor dan tidak terawat.
Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., mengatakan pembangunan harus melihat kebutuhan masyarakat secara utuh.
“Bukan hanya rumahnya yang kita perbaiki, lingkungan di sekitarnya juga harus kita perhatikan. Kita ingin setelah selesai direhab, rumah Pak Karyo berada di lingkungan yang bersih, rapi dan nyaman,” ujarnya.
Menurut dia, pembangunan fisik dalam program TMMD tidak semata-mata diukur dari berdirinya bangunan atau selesainya sebuah pekerjaan. Lebih dari itu, pembangunan diharapkan dapat memberikan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, kegiatan membersihkan lingkungan dilakukan sebagai bagian dari rangkaian pekerjaan di sasaran RTLH Pak Karyo.
Di tengah aktivitas tersebut, suasana gotong royong kembali terlihat. Personel Satgas bekerja bersama warga. Ada yang membersihkan halaman, mengumpulkan sampah, merapikan material, hingga memastikan lingkungan sekitar rumah tidak lagi dipenuhi benda-benda yang mengganggu.
Tidak ada sekat antara prajurit dan masyarakat. Pekerjaan dilakukan bersama dengan cara sederhana, tetapi menyimpan makna yang lebih besar.
Gotong royong tidak hanya membuat pekerjaan menjadi lebih ringan. Interaksi selama bekerja juga membuka ruang bagi prajurit dan warga untuk saling berbincang, bertukar cerita, sekaligus membangun kedekatan.
Bagi warga, kehadiran Satgas TMMD bukan hanya membawa bantuan berupa pembangunan rumah. Kehadiran prajurit juga memberikan dorongan agar masyarakat ikut mengambil bagian dalam menjaga hasil pembangunan.
Rumah Pak Karyo yang direhabilitasi menjadi salah satu bentuk nyata perhatian tersebut. Bangunan yang sebelumnya membutuhkan perbaikan perlahan berubah menjadi tempat tinggal yang lebih layak.
Namun, perubahan itu tidak berhenti pada dinding rumah.
Halaman yang bersih, lingkungan yang tertata, serta kebiasaan menjaga kebersihan menjadi bagian dari harapan yang ingin ditinggalkan setelah program TMMD berakhir.
Di sinilah pembangunan memiliki makna yang lebih luas. Rumah memang menjadi sasaran yang terlihat secara fisik, tetapi perubahan perilaku dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan hasil yang diharapkan dapat bertahan lebih lama.
Satgas TMMD juga berupaya menanamkan pemahaman bahwa merawat hasil pembangunan merupakan tanggung jawab bersama. Setelah para prajurit meninggalkan lokasi dan seluruh program TMMD selesai, rumah serta lingkungan tersebut akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Karena itu, kebersihan bukan pekerjaan yang cukup dilakukan sekali. Lingkungan yang sudah dibersihkan perlu dijaga agar tetap nyaman bagi penghuni rumah dan masyarakat di sekitarnya.
Memasuki H+26, Satgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang terus bergerak menyelesaikan berbagai sasaran pembangunan. Waktu pelaksanaan memang terbatas, tetapi manfaat yang ingin ditinggalkan di tengah masyarakat diharapkan dapat berlangsung jauh lebih panjang.
Pada akhirnya, TMMD bukan sekadar tentang berapa banyak rumah yang berhasil direhabilitasi, jalan yang dibangun, atau fasilitas yang diselesaikan.
(Yanti)










