PALEMBANG,LamanQu.com– Panen tanaman sawi menjadi salah satu hasil nyata dari program ketahanan pangan yang dijalankan dalam kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0418/Palembang. Namun, bagi Satgas TMMD, keberhasilan memanen tanaman tersebut bukanlah akhir dari kegiatan.
Memasuki hari ke-25 pelaksanaan TMMD, tanaman sawi yang sebelumnya dibudidayakan bersama masyarakat di lahan sasaran telah memasuki masa panen. Hasil tersebut menjadi bukti bahwa lahan yang dikelola secara produktif dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam waktu relatif singkat.
Proses budidaya dilakukan melalui tahapan pengolahan lahan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Dalam pelaksanaannya, personel Satgas TMMD turut mendorong keterlibatan masyarakat agar kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga memberikan pengalaman dalam mengelola lahan secara produktif.
Setelah sawi dipanen, Satgas TMMD mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan lahan kembali kosong. Lahan yang telah selesai digunakan untuk satu jenis tanaman diharapkan dapat segera dimanfaatkan kembali dengan menanam komoditas lain sesuai kondisi lahan dan kebutuhan masyarakat.
Langkah tersebut dinilai penting agar program ketahanan pangan tidak berhenti pada satu kali kegiatan. Pemanfaatan lahan secara berkelanjutan diharapkan dapat membentuk kebiasaan baru di tengah masyarakat untuk mengelola lahan yang tersedia menjadi sumber pangan sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., mengatakan kesinambungan menjadi salah satu hal yang diharapkan dari program ketahanan pangan yang dilaksanakan selama TMMD.
“Harapannya kegiatan ini tidak berhenti pada satu kali panen. Masyarakat dapat terus memanfaatkan lahan yang tersedia sehingga mampu mendukung kebutuhan pangan keluarga,” katanya.
Menurut Erik, keberhasilan program ketahanan pangan tidak hanya dilihat dari banyaknya hasil yang dapat dipanen. Hal yang lebih penting adalah munculnya kemauan masyarakat untuk melanjutkan kegiatan tersebut secara mandiri setelah program TMMD selesai.
Karena itu, panen sawi diharapkan dapat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk kembali mengolah lahan. Pengalaman selama proses budidaya dapat menjadi bekal bagi warga untuk menentukan tanaman berikutnya yang dapat dikembangkan.
“Yang terpenting adalah bagaimana lahan tersebut terus dimanfaatkan. Setelah panen, bisa kembali ditanami sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Program ketahanan pangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelaksanaan TMMD tidak hanya diarahkan pada pembangunan sarana dan prasarana fisik. Pemanfaatan potensi lahan dan pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan warga di wilayah sasaran.
Dengan adanya kegiatan budidaya hingga panen, masyarakat dapat melihat secara langsung manfaat dari pengelolaan lahan secara produktif. Hasil tanaman juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga maupun dikembangkan menjadi kegiatan yang memiliki nilai tambah.
Bagi Satgas TMMD, keberhasilan tersebut diharapkan dapat diteruskan oleh masyarakat secara mandiri. Ketika lahan tetap produktif setelah program TMMD berakhir, manfaat kegiatan tidak berhenti bersamaan dengan selesainya penugasan personel di lapangan.
Panen sawi pada H+25 akhirnya bukan sekadar penanda berakhirnya satu siklus budidaya. Lebih dari itu, panen tersebut diharapkan menjadi awal bagi masyarakat untuk terus menanam, mengelola lahan, dan membangun ketahanan pangan dari lingkungan sendiri.
Dengan demikian, lahan yang sebelumnya berpotensi tidak termanfaatkan dapat terus menghasilkan, sementara semangat gotong royong dan kemandirian yang tumbuh selama TMMD dapat tetap dilanjutkan oleh masyarakat.
(Yanti)










