• Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
Kamis, Oktober 29, 2026
No Result
View All Result
lamanqu.com
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
No Result
View All Result
lamanqu.com
No Result
View All Result
kpid sumsel HUR RI Ke-81, oku selatan banner pemkab muba
ADVERTISEMENT
Home Opini

Menjinakkan Ambisi di Titik Nadir: Menanti Wasit di Papan Catur Global

Reporter lian
17 Januari 2026
Zona Ekonomi Hijau Terbuka
Bagikan ke Whatsapp

Oleh: Ki Edi Susilo
Esais dan Sekretaris Jenderal Himpunan Keluarga Tamansiswa Indonesia (HIMPKA Tamansiswa)


Palembang, LamanQu.Com – ​Dunia seharusnya tak lagi menunda sebuah konsensus besar, mendorong lahirnya traktat baru yang menetapkan wilayah Arktik sebagai “Zona Ekonomi Hijau Terbuka” di bawah pengawasan PBB. Gagasan ini bukan sekadar romantisasi perdamaian, melainkan nilai kebijaksanaan tinggi untuk menjaga jantung bumi. Data ilmiah UNFCCC 2024 menunjukkan bahwa Arktik memanas tiga kali lebih cepat dibanding wilayah lain di planet ini. Menjadikan Greenland sebagai pangkalan militer NATO, yang diperkirakan bakal menyedot belanja pertahanan hingga 2-2,4% PDB negara-negara Nordik pada 2026—hanya akan mempercepat retaknya es dan nalar kemanusiaan. Arktik harus menjadi laboratorium transisi energi, bukan arena pacuan senjata.

​Namun, kenyataannya pahit. Para pemimpin dunia tampak masih keras kepala, memeluk erat pola pikir usang abad ke-20—di mana kedaulatan diukur dari moncong meriam dan penguasaan fisik wilayah—untuk menyelesaikan sengkarut tahun 2026. Laporan Global Risks 2026 dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) dengan gamblang menempatkan “konfrontasi geo-ekonomi” sebagai risiko global nomor satu, melampaui perubahan iklim dan polarisasi sosial. Jika logika usang ini terus dipaksakan untuk membedah realitas baru yang makin kompleks, kita sejatinya hanya sedang menghitung mundur hingga papan catur geopolitik ini terbalik. Dan dalam permainan brutal ini, tak akan ada pemenang; semua pemain akan tumbang oleh ambisinya sendiri.

​Lihatlah betapa riuhnya blokade teknologi China yang baru saja melarang penggunaan perangkat lunak keamanan dari belasan perusahaan AS dan Israel per Januari 2026, atau manuver Washington yang mulai mengeruk keuntungan hingga US$ 500 juta dari penjualan minyak Venezuela di minggu-minggu pertama tahun ini. Di tengah kebisingan itu, kita patut bertanya dengan nada getir: di mana posisi Indonesia?

​Sejauh ini, sikap Jakarta masih tampak seperti meniti buih di tengah samudera yang bergejolak. Pemerintah seolah mempraktikkan “diplomasi senyap” yang saking senyapnya, nyaris sulit dibaca arahnya. Indonesia terjepit dalam dilema akut: ketergantungan pada rantai pasok teknologi dan investasi China di satu sisi, dan keterikatan pada sistem finansial serta stabilitas moneter yang didominasi Washington di sisi lain. Sikap mendua atau sekadar “main aman” tak lagi memadai di tahun 2026, ketika fragmentasi perdagangan dunia diprediksi akan menggerus pertumbuhan ekonomi global hingga ke level 2,7%.

​Maka, sudah saatnya Indonesia mengambil peran sebagai “The Great Mediator”. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi kendaraan taktis atau penonton saat terminal internet dikirim sebagai senjata diplomasi ke Iran. Indonesia harus berani menyuarakan bahwa keamanan global bukan soal siapa yang paling banyak menumpuk tentara di kutub, melainkan siapa yang paling gigih menjaga keadilan distribusi sumber daya.

​Kita harus menyarankan agar pemerintah tidak lagi hanya duduk manis dalam kerangka non-blok yang pasif. Indonesia harus mempelopori gerakan negara-negara menengah (middle powers) untuk menolak militerisasi area vital seperti Arktik dan ruang siber. Inilah saatnya diplomasi kita tampil mencerdaskan, mengingatkan dunia, melalui semangat kebangsaan yang inklusif. Bahwa di atas kepentingan nasional setiap negara, ada kepentingan planet yang jauh lebih mendesak untuk diselamatkan.

​Jangan sampai sejarah mencatat bahwa saat dunia sedang menuju kehancuran di tahun 2026, kita hanya sibuk menghitung investasi sambil berharap badai tak mampir ke halaman rumah sendiri.

Tags: Data Ilmiah UNFCCCThe Great MediatorZona Ekonomi Hijau Terbuka
ADVERTISEMENT
Previous Post

Festival Tring Pegadaian Ramaikan Palembang Icon, Investasi Emas Kini Bisa Mulai Rp 10 Ribu

Next Post

Dimulai dari Hal Sederhana, Kilang Pertamina Plaju Perkuat Budaya Operasi Aman

lian

Info Terkait

No Content Available

Berita Terbaru

Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Kilang Plaju Perkuat Semangat Persatuan dan Pengabdian untuk Negeri

HLN ke-81: PLN Perkuat Peran Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Bareskrim Polri Bongkar Kilang Minyak Ilegal di Muratara, Amankan 51.200 Liter Minyak Olahan

Ombudsman RI Lakukan Monitoring dan Pengawasan Layanan Pemasyarakatan di Rutan Kelas I Palembang

AMKI Musi Rawas Resmi Dilantik, Kolaborasi dengan Pemerintah Tak Boleh Menggerus Independensi Pers

Begini Cara Menghitung Tagihan Rekening Air, Pelanggan Perlu Pahami Pemakaian dan Tarif per Meter Kubik

Sudah Berjualan Sejak 2005, UMKM 2 Ulu Minta Kepastian di Tengah Ancaman Relokasi

Terancam Kehilangan Tempat Usaha, Pedagang UMKM 2 Ulu Minta Perlindungan HAM

Bantu Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Relawan Pertamina Peduli RU Plaju Hadir untuk Masyarakat di Tiga Wilayah

Berita Populer

Bagikan Seribu Bingkisan Vitamin, Madu, Air Mineral, dan Masker FOKAL IMM Bergerak Bersama Peduli Kabut Asap

Bagikan Seribu Bingkisan Vitamin, Madu, Air Mineral, dan Masker FOKAL IMM Bergerak Bersama Peduli Kabut Asap
Reporter YN
14 Oktober 2026

Palembang,LamanQu.Com-Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Sumatera Selatan terlihat melakukan kegiatan sosial membagikan seribu bingkisan berupa vitamin, madu,...

Read more

Ponpes Darul Quran Mufidatul Ilmi Menjadi Pilot Projek Penanaman Perdana GSMP, Ini Yang Disampaikan

Ponpes Darul Quran Mufidatul Ilmi Menjadi Pilot Projek Penanaman Perdana GSMP, Ini Yang Disampaikan
Reporter YN
17 Oktober 2026

Banyuasin,LamanQu.Com-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Gubernur Sumsel dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin (Pemkab) dalam ini Bupati Banyuasin...

Read more

Bersama Masyarakat, Polda Sumsel Berantas Premanisme demi Keamanan dan Kelancaran Pembangunan

Bersama Masyarakat, Polda Sumsel Berantas Premanisme demi Keamanan dan Kelancaran Pembangunan
Reporter YN
14 Oktober 2026

PALEMBANG,LamanQu.Com— Polda Sumatera Selatan memperkuat komitmen dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat melalui penindakan terhadap aksi premanisme di seluruh wilayah...

Read more

Lebri Oktora Desak Kapolda Sumsel Usut Tuntas Dugaan Pengeroyokan Mahasiswa Cipayung dan Insan Pers

Pengeroyokan Mahasiswa Cipayung
Reporter Editor Sumsel
14 Oktober 2026

Palembang, LamanQu.Com — Konsultan Hukum dan Aktivis Sumatera Selatan dari Yayasan Bantuan Hukum Sumsel Berkeadilan, Lebri Oktora, S.H., mendesak Kapolda...

Read more

© 2026 DIgital Media Sriwijaya

  • Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi

© 2026 DIgital Media Sriwijaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In