Palembang,LamanQu.Com— Matahari siang perlahan meninggi ketika beberapa prajurit TNI bersama warga membungkuk di atas hamparan tanah di Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang, Jumat (31/7/2026).
Suara cangkul yang membelah tanah berpadu dengan obrolan ringan antara personel Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Kodim 0418/Palembang dan masyarakat.
Tidak ada sekat di antara mereka. Semua bekerja dalam semangat gotong royong, meyakini bahwa ketahanan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui pertahanan negara, tetapi juga melalui kemampuan rakyat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Di tengah pelaksanaan TMMD yang telah memasuki hari ke-17, pembangunan jalan, rumah layak huni, hingga sumur bor memang terus dikebut. Namun, di sudut lain wilayah sasaran, sebuah pekerjaan yang tak kalah penting sedang dirintis. Sebidang lahan mulai disulap menjadi kawasan pertanian produktif yang diharapkan mampu menjadi sumber pangan sekaligus sumber penghasilan baru bagi masyarakat.
Lahan ketahanan pangan terpadu itu menjadi salah satu sasaran nonfisik TMMD Ke-129. Program tersebut dirancang agar manfaat TMMD tidak berhenti ketika seluruh pembangunan fisik selesai, melainkan terus dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Sejak pagi, personel Satgas bersama warga membersihkan lahan, menggemburkan tanah, menyiapkan bedengan, hingga memastikan area tanam siap digunakan. Seluruh proses dilakukan secara bersama-sama. Bagi warga, kegiatan itu bukan sekadar kerja bakti, melainkan awal dari harapan baru untuk memanfaatkan lahan yang selama ini belum tergarap secara optimal.
Komandan Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., mengatakan bahwa ketahanan pangan menjadi salah satu fokus pengabdian TNI kepada masyarakat karena memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan warga.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur memang penting untuk membuka akses dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, keberlanjutan pembangunan juga harus didukung oleh kemampuan masyarakat mengelola potensi yang dimiliki, termasuk sektor pertanian.
“Melalui lahan ketahanan pangan terpadu ini, kami berharap masyarakat semakin termotivasi memanfaatkan lahan yang ada secara produktif. Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga, hasilnya juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Erik.
Ia menambahkan, program tersebut merupakan bagian dari dukungan TNI terhadap kebijakan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Karena itu, TMMD tidak hanya hadir membangun jalan, rumah, atau fasilitas umum, tetapi juga berupaya membangun kemandirian masyarakat melalui sektor pertanian.
Semangat itu terlihat dari antusiasme warga yang terlibat langsung dalam setiap tahapan pengolahan lahan. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama yang nantinya akan merawat dan mengembangkan kawasan pertanian tersebut.
Pendampingan yang dilakukan personel Satgas TMMD juga memberikan motivasi tersendiri bagi masyarakat. Kehadiran prajurit di tengah aktivitas pertanian menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Warga merasa tidak berjalan sendiri dalam memulai langkah menuju kemandirian pangan.
Program ini diharapkan mampu menjadi contoh bagaimana lahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diubah menjadi sumber kehidupan baru. Dengan pengelolaan yang baik, kawasan ketahanan pangan terpadu tersebut diproyeksikan menghasilkan berbagai komoditas pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan warga sekaligus memberikan nilai ekonomi.
Lebih dari itu, keberadaan lahan produktif juga menjadi investasi sosial bagi lingkungan sekitar. Anak-anak dapat belajar mengenal pertanian sejak dini, para orang tua memiliki aktivitas produktif, sementara semangat gotong royong yang telah menjadi budaya masyarakat kembali tumbuh melalui kerja bersama.
Bagi Satgas TMMD, keberhasilan program bukan semata diukur dari panjang jalan yang dibangun atau jumlah bangunan yang selesai dikerjakan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika masyarakat mampu melanjutkan apa yang telah dirintis bersama dan merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pengembangan lahan ketahanan pangan menjadi simbol bahwa pembangunan sejati tidak hanya membangun fisik desa, tetapi juga membangun harapan, kemandirian, dan masa depan masyarakat.
Di Talang Jambe, langkah-langkah para prajurit dan warga yang menapaki lahan itu mungkin tampak sederhana. Namun, dari setiap ayunan cangkul dan setiap bibit yang ditanam, tersimpan keyakinan bahwa swasembada pangan bukan sekadar program pemerintah, melainkan cita-cita yang dapat diwujudkan melalui kerja bersama.
(Yanti)










