PALEMBANG,LamanQu.com– Pekerjaan fisik dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0418/Palembang memang telah mencapai garis akhir. Namun, bagi Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., selesainya pembangunan bukan berarti berakhir pula tanggung jawab untuk memastikan manfaat program tersebut terus dirasakan masyarakat.
Sehari menjelang penutupan TMMD ke-129, Rabu (12/8/2026), Kolonel Erik masih turun langsung ke lapangan. Ia berkeliling mengecek sejumlah sasaran sekaligus memastikan berbagai hasil pembangunan benar-benar siap dimanfaatkan masyarakat.
Di tengah aktivitas persiapan penutupan, perhatian Satgas tidak hanya tertuju pada seremonial. Sejumlah titik pembangunan kembali diperiksa, mulai dari jalan yang menjadi akses baru bagi warga, rumah yang telah direhabilitasi, sumur bor sebagai sumber air bersih, hingga fasilitas lingkungan seperti pos kamling dan mushola.
Bagi Kolonel Erik, seluruh sasaran tersebut memiliki arti tersendiri karena dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat.
“Proses TMMD ke-129 di Kota Palembang berjalan lancar. Seluruh sasaran, baik sasaran fisik, sasaran tambahan maupun sasaran nonfisik, dapat terlaksana dengan baik,” ujar Kolonel Erik.
Salah satu sasaran yang memberikan dampak langsung terhadap aktivitas warga adalah pembangunan jalan sepanjang sekitar 750 meter di wilayah Talang Jambe.
Jalan tersebut tidak sekadar menjadi infrastruktur penghubung. Kehadirannya membuka akses yang sebelumnya belum memadai sehingga kendaraan, termasuk roda empat, dapat melintas dengan lebih mudah.
Bagi warga, jalan itu menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari. Anak-anak lebih mudah menuju sekolah, masyarakat dapat menjalankan kegiatan ekonomi, sementara akses menuju fasilitas pendidikan dan pondok pesantren juga semakin terbuka.
Pembangunan jalan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa infrastruktur memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Jalan yang lebih baik dapat memperpendek hambatan mobilitas dan membuka peluang aktivitas warga berkembang.
Selain jalan, kebutuhan air bersih juga menjadi perhatian utama Satgas TMMD ke-129. Sejumlah sumur bor dibangun di beberapa titik yang dinilai membutuhkan akses sumber air yang lebih layak.
Kolonel Erik mengatakan, air merupakan kebutuhan dasar yang manfaatnya akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Sumur bor merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, penyediaan air yang layak bagi rakyat menjadi salah satu prioritas TNI AD,” katanya.
Salah satu fasilitas yang mendapat dukungan sumur bor adalah Rumah Tahfidz Al Fatihah di Talang Jambe. Fasilitas tersebut selama ini digunakan untuk mendukung aktivitas belajar para santri. Dengan adanya sumur bor dan tandon air, kebutuhan air di lokasi diharapkan dapat lebih mudah dipenuhi.
Pembangunan sumber air juga dilakukan di sejumlah fasilitas ibadah dan lingkungan masyarakat. Kehadiran sumur bor diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan air dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi fasilitas yang dapat digunakan dan dirawat bersama oleh masyarakat.
Sementara itu, melalui rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Satgas TMMD berupaya menghadirkan perubahan yang lebih nyata bagi warga kurang mampu.
Sejumlah rumah yang sebelumnya berada dalam kondisi memprihatinkan diperbaiki sehingga menjadi hunian yang lebih layak, sehat dan nyaman.
Kolonel Erik menuturkan, kondisi rumah warga yang menjadi sasaran rehabilitasi sangat beragam. Bahkan, terdapat tempat tinggal warga yang berdampingan dengan kandang ternak dan dinilai tidak memenuhi standar hunian yang layak.
“Ada rumah yang kondisinya tidak layak, bahkan ada kandang sapi yang berdampingan dengan tempat tinggal. Karena memang tidak layak, kita bangun dan kita perbaiki,” ujarnya.
Bagi warga penerima manfaat, pembangunan tersebut bukan hanya perubahan bentuk bangunan. Rumah yang sebelumnya menghadapi persoalan kebocoran, kondisi lantai maupun keterbatasan ruang kini dapat digunakan sebagai tempat tinggal yang lebih nyaman.
Di sisi lain, TMMD ke-129 juga meninggalkan fasilitas sosial yang diharapkan mampu memperkuat kebersamaan warga.
Salah satunya adalah pembangunan dan penyempurnaan pos kamling. Fasilitas tersebut tidak hanya dipandang sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai ruang bagi masyarakat untuk kembali membangun kepedulian terhadap keamanan lingkungan.
“Selain menjadi tempat berkumpul, keberadaannya juga diharapkan dapat mendukung peningkatan keamanan lingkungan,” kata Kolonel Erik.
Menurutnya, keberlanjutan hasil TMMD sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Setelah Satgas kembali ke satuan masing-masing, masyarakat menjadi pihak yang paling menentukan apakah fasilitas yang telah dibangun dapat bertahan dan terus memberikan manfaat.
Karena itu, ia meminta warga menjaga seluruh hasil pembangunan dengan baik. Jalan, sumur bor, rumah, pos kamling, mushola maupun fasilitas lainnya harus dipandang sebagai aset bersama yang membutuhkan perawatan secara berkelanjutan.
Kolonel Erik memastikan seluruh sasaran TMMD ke-129 telah mencapai progres 100 persen. Namun, angka tersebut bukanlah akhir dari seluruh proses.
Justru setelah program selesai, tantangan berikutnya adalah memastikan hasil pembangunan tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
“Yang paling penting setelah TMMD selesai adalah bagaimana masyarakat menjaga dan memanfaatkan hasil pembangunan ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan TMMD tidak semata-mata dapat diukur dari jumlah sasaran yang berhasil diselesaikan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh hasil pembangunan mampu memberikan perubahan bagi kehidupan masyarakat.
Sebab, jalan sepanjang ratusan meter akan memiliki arti apabila benar-benar digunakan dan dirawat. Sumur bor akan menjadi lebih berarti apabila airnya terus dimanfaatkan. Rumah yang telah direhabilitasi akan menjadi bukti keberhasilan apabila penghuninya dapat menjalani kehidupan dengan lebih nyaman. Begitu pula pos kamling akan memberikan manfaat apabila masyarakat menghidupkan kembali semangat menjaga lingkungan secara bersama-sama.
“Karena tujuan akhirnya adalah memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Sehari menjelang penutupan, aktivitas Satgas TMMD ke-129 memang mulai beranjak dari pekerjaan pembangunan menuju persiapan akhir. Namun, harapan yang ditinggalkan jauh lebih panjang daripada masa pelaksanaan program.
Jejak TMMD di Palembang kini berada di tangan masyarakat. Bukan lagi dalam bentuk personel Satgas yang bekerja di lapangan, melainkan dalam bentuk jalan yang dilalui warga, rumah yang menjadi tempat berlindung, air yang digunakan sehari-hari, serta ruang-ruang kebersamaan yang terus dihidupkan.
Dengan demikian, penutupan TMMD ke-129 bukan menjadi akhir dari manfaat program, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk menjaga apa yang telah dibangun.
(Yanti)










