Palembang,LamanQu.com-Aroma cat yang masih baru samar-samar memenuhi ruangan Mushola Baitul Magfurin di RT 26 RW 05, Komplek Griya Sinar Rose Abadi, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami. Sinar matahari sore menembus pintu utama dan memantul di atas lantai granit yang kini mengilap. Di sudut bangunan, beberapa ember cat, kuas, dan adukan semen mulai disusun rapi. Suara palu yang sejak berminggu-minggu menjadi irama keseharian perlahan mulai berkurang.
Pekerjaan hampir usai.
Beberapa anggota Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0418/Palembang masih terlihat menyelesaikan sentuhan akhir. Ada yang merapikan dinding yang baru diplamir, ada pula yang memeriksa hasil pengecatan agar tidak ada bagian yang terlewat. Sesekali mereka saling melempar canda dengan warga yang ikut membantu.
Tak tampak jarak antara seragam loreng dan pakaian sederhana masyarakat. Yang terlihat hanyalah sekelompok orang yang bekerja dengan tujuan yang sama.
Di tengah suasana itu, Marpensi berdiri memandangi mushola yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berkumpul warga. Senyum haru tak lepas dari wajah Ketua Mushola Baitul Magfurin tersebut. Matanya berkali-kali menyapu setiap sudut bangunan, seolah memastikan bahwa semua yang dilihatnya bukan sekadar mimpi.
Baginya, sore itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar melihat pembangunan hampir selesai.
Hari itu, Mushola Baitul Magfurin menerima kunjungan Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Katim Wasev) TMMD, Kolonel Inf Andi M. Ali, yang didampingi Wakil Komandan Satuan Tugas (Wadan Satgas) TMMD Ke-129 Kodim 0418/Palembang, Letkol Inf Dery Septriandi, S.T., M.M., M.Han., dalam rangka meninjau langsung progres rehabilitasi mushola, Kamis (6/8/2026).
Bagi sebagian orang, kunjungan itu mungkin merupakan bagian dari agenda rutin pengawasan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Namun, bagi Marpensi dan warga Talang Jambe, kehadiran rombongan tersebut menghadirkan kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Seumur hidup saya tidak pernah membayangkan mushola kecil kami akan didatangi pejabat dari Jakarta. Ini menjadi kebanggaan sekaligus kehormatan bagi seluruh warga,” ujarnya dengan mata berbinar.
Ucapan itu lahir dari rasa syukur yang tulus. Selama ini, Mushola Baitul Magfurin hanyalah rumah ibadah sederhana di tengah permukiman warga. Dengan adanya rehab TMMD Kodim 0418/Palembang, dinding tampak lebih cerah. Lantai granit memberikan kesan bersih dan nyaman. Bangunan yang dahulu terlihat kusam perlahan menjelma menjadi rumah ibadah yang lebih layak dan representatif.
Namun, bagi Marpensi, perubahan terbesar justru bukan terletak pada bangunannya.
Selama hampir tiga pekan pelaksanaan TMMD, ia menyaksikan sendiri bagaimana prajurit TNI datang setiap pagi membawa semen, pasir, kuas, dan peralatan kerja. Mereka bekerja sejak matahari mulai meninggi hingga sore hari tanpa mengenal lelah.
Hubungan yang semula hanya sebatas antara aparat dan masyarakat perlahan berubah menjadi kedekatan layaknya keluarga.
“Yang kami rasakan bukan hanya bangunan mushola menjadi bagus. Kami melihat sendiri bagaimana bapak-bapak TNI bekerja tanpa mengenal lelah. Mereka makan bersama warga, bercanda bersama, bergotong royong bersama. Mereka benar-benar menjadi bagian dari masyarakat,” tutur Marpensi.
Ia mengaku, sebelum TMMD hadir, bayangannya tentang seorang prajurit tidak jauh dari tugas menjaga perbatasan, latihan militer, dan pengamanan negara.
Namun, pengalaman selama beberapa pekan terakhir mengubah cara pandangnya.
“Selama ini kami berpikir tentara hanya menjaga perbatasan atau bertugas di markas. Ternyata mereka juga turun langsung membantu masyarakat. Mereka tidak sekadar membangun lalu pergi. Mereka mendengarkan keluhan kami, ikut bekerja, bahkan memberikan semangat kepada warga,” katanya.
Saat rombongan Katim Wasev memasuki mushola, suasana berlangsung hangat. Kolonel Inf Andi M. Ali melaksanakan sholat Azhar di Mushola Baitul Magfurin, kemudian menyusuri setiap sudut bangunan yang telah direhabilitasi. Ia beberapa kali berhenti untuk berbincang dengan warga, mendengarkan cerita mereka, serta memastikan pembangunan berjalan sesuai harapan masyarakat.
Tak ada kesan formal yang kaku.
Percakapan berlangsung sederhana, diselingi senyum dan tawa. Beberapa warga memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian TNI terhadap lingkungan mereka.
Bagi Marpensi, kehadiran pejabat dari tingkat pusat menjadi bukti bahwa pembangunan di lingkungan kecil seperti Talang Jambe tidak luput dari perhatian.
“Kami merasa sangat dihargai. Beliau datang jauh-jauh dari Jakarta. Itu menunjukkan bahwa pemerintah dan TNI benar-benar serius memastikan program ini berjalan dengan baik. Kami sebagai masyarakat merasa diperhatikan,” ungkapnya.
Sementara itu, rehabilitasi Mushola Baitul Magfurin sendiri telah mencapai sekitar 90 persen. Pemasangan granit selesai sepenuhnya. Pekerjaan plamir telah rampung. Pengecatan bagian atas bangunan juga selesai, sedangkan bagian bawah tinggal penyempurnaan akhir.
Namun, bagi warga, mushola yang baru bukan sekadar bangunan yang lebih indah.Mereka melihatnya sebagai awal kehidupan sosial yang kembali tumbuh.
Marpensi membayangkan suara anak-anak mengaji kembali memenuhi ruangan setiap sore. Pengajian ibu-ibu akan kembali digelar secara rutin.
Remaja mushola akan diaktifkan agar generasi muda memiliki ruang belajar dan berkumpul dalam kegiatan positif.
“Kalau musholanya nyaman, masyarakat juga semakin semangat datang. Anak-anak lebih rajin mengaji. Orang tua lebih sering berkumpul. Dari situ hubungan antarwarga akan semakin erat,” ujarnya.
Ia pun menceritakan kepada Katim Wasev bahwa manfaat TMMD dirasakan hampir seluruh masyarakat Talang Jambe. Selain merehabilitasi mushola, Satgas TMMD juga membangun jalan sepanjang 750 meter, memperbaiki rumah tidak layak huni, membangun gorong-gorong, mendirikan pos keamanan lingkungan, hingga menghadirkan sumur bor sebagai solusi kebutuhan air bersih.
Menurutnya, seluruh pembangunan tersebut saling melengkapi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“TMMD benar-benar membawa perubahan. Jalan menjadi lebih baik, rumah warga diperbaiki, mushola direhab, air bersih tersedia. Semua manfaatnya langsung kami rasakan.”
Namun, setelah berpikir sejenak, ia menambahkan satu kalimat yang terasa lebih dalam daripada sekadar daftar pembangunan fisik.
“Kami merasakan kebersamaan yang luar biasa. TNI bukan hanya membangun fisik, tetapi membangun kehidupan sosial masyarakat. Nilai gotong royong yang sempat memudar kini hidup kembali.”
Pernyataan itu diamini Katim Wasev TMMD, Kolonel Inf Andi M. Ali. Menurutnya, tujuan utama TMMD bukan sekadar menyelesaikan proyek pembangunan, tetapi memastikan hasilnya mampu memberikan manfaat berkelanjutan sekaligus mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
“Kami datang untuk melihat langsung progres rehabilitasi Mushola Baitul Magfurin. Alhamdulillah hasilnya sangat baik dan hampir selesai. Harapan kami, setelah selesai nanti mushola ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pusat ibadah, pendidikan agama, dan kegiatan sosial masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Wadan Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0418/Palembang, Letkol Inf Dery Septriandi. Ia menyebut seluruh sasaran TMMD menunjukkan perkembangan yang menggembirakan berkat semangat gotong royong antara prajurit dan masyarakat.
“Untuk rehabilitasi Mushola Baitul Magfurin progresnya sudah mencapai sekitar 90 persen. Kami optimistis lima hari ke depan seluruh pekerjaan selesai seratus persen. Seluruh sasaran terus kami evaluasi agar hasilnya benar-benar berkualitas dan dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang,” katanya.
Beberapa hari lagi, pekerjaan itu akan benar-benar selesai.
Prajurit-prajurit yang setiap pagi datang membawa cangkul, semen, cat, dan peralatan bangunan akan kembali ke satuan mereka. Suara palu akan berhenti. Ember-ember cat akan diangkat. Tumpukan material akan menghilang.
Namun, ada sesuatu yang tidak akan ikut pergi. Jejak pengabdian itu akan tetap tinggal.
Ia akan hidup di lantai granit yang setiap hari dipijak jamaah. Di dinding mushola yang menjadi saksi lantunan ayat suci. Di tawa anak-anak yang kembali mengaji. Di pengajian ibu-ibu yang kembali ramai. Di setiap salat berjamaah yang menghidupkan rumah ibadah ini.
Lebih dari itu, jejak tersebut akan terus hidup dalam ingatan masyarakat Talang Jambe—sebagai kenangan tentang sekelompok prajurit yang datang bukan hanya membawa semen dan cat, tetapi juga membawa kepedulian, harapan, serta semangat gotong royong.
Saat cat di Mushola Baitul Magfurin benar-benar mengering nanti, mungkin pekerjaan TMMD telah usai. Namun persaudaraan yang tumbuh selama proses pembangunan akan tetap tinggal, mengakar di hati masyarakat, menjadi bukti bahwa kemanunggalan TNI dengan rakyat bukan sekadar slogan, melainkan kisah nyata yang lahir dari kerja bersama, ketulusan, dan pengabdian.
(Yanti)










