Sudah Susah Ketimpa Tangga Ibarat Pepatah Mengatakan, Berikut Kronologis Kejadian Dialami Warga Kecamatan Gandus Pulokerto

News, Sumsel
dugaan penipuan , mengaku aparat , motif penipuan

Palembang, lamanqu.comBegitu malang nasib yang di alami salah satu warga Kelurahan Pulokerto Kecamatan Gandus Palembang, berinisial M. Bagaimana tidak, sudah suami M berinisial G ditangkap malahan dirinya tertipu mentah-mentah oleh seorang oknum yang mengaku aparat dengan motif dugaan di iming-imingi dapat menyelesaikan masalah yang dialami suaminya tersebut.

Hal tersebut, seperti disampaikan Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat berinisial MD (45) saat menggelar jumpa pers di salah satu Rumah Makan di kawasan Jakabaring beberapa hari yang lalu.

Dimana dirinya menceritakan kronologis awal kejadian dugaan penipuan yang dialami oleh warganya tersebut kepada awak media.

Beberapa waktu yang lalu kurang lebih jam 10.00, ada salah satu warga menelepon ke nomor saya untuk meminta izin untuk memberikan nomor saya kepada seseorang yang saya pun tidak kenal sama sekali.

“Kemudian, Lanjut MD, saat ditanya siapa yang meminta nomornya, warga tersebut bilang bahwa yang meminta nomor tersebut adalah oknum yang mengaku sebagai aparat yang ingin menelpon,” ujarnya.

Kemudian, lantas dirinya bertanya terkait apa? Warga tersebut bilang terkait masalah G.
“Kasihkan saja, nomor handphone saya, karena sepertinya penting sekali.” ucapnya

Tidak lama kemudian kira kira berselang waktu kurang lebih 20 menit setelah warga tersebut habis menelpon, ada salah satu nomor handphone yang menelpon ke WhatsApp.

“Kurang lebih 20 menit kemudian, ada yang telepon melalui WA (WhatsAPP red) saya, ya saya angkat. Kemudian saya tanya, maaf ini dengan siapa? Lantas oknum yang menelepon tadi bilang ke saya bahwa dirinya mengaku sebagai oknum aparat,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, di dalam percakapan telepon tersebut, oknum tersebut meminta saya untuk menghubungkan ke pihak keluarga si G, tak selang beberapa waktu kemudian saya menghubungkan lah sambungan telepon tersebut ke pihak G.

Saya hubungilah, adik ipar saya, untuk minta bantuan menghubungi istri dari G, yakni M. Kemudian terjadilah percakapan antara M dengan oknum yang mengaku sebagai aparat tadi.

“Setelah kurang lebih 30 menit setelah oknum tersebut menelpon M, kemudian antara mereka berdua terjadilah suatu kesepakatan,” katanya.

Masih dilanjutkannya, jadi setelah telepon-teleponan antara mereka (M dan Oknum tadi) ada kesepakatan di antara mereka, yakni M bersedia menyiapkan sejumlah uang cash sebesar Rp 7.700.000,- yang akan diserahkan ke oknum yang mengaku sebagai aparat tadi.

Dengan dalil oknum tersebut dapat membantu permasalahan yang menimpa suami dari M tadi.

“Didalam perjalanan menuju suatu titik yang telah di janjikan tadi tiba-tiba dapat telpon lagi dari oknum tersebut yang menyatakan tidak bisa menerima uang tersebut secara cash namun harus di transfer melalui nomor rekening yang dikirimkannya melalui pesan singkat,” imbuhnya.

Masih disampaikannya, di pertengahan perjalanan kami mendapatkan telp bahwa uang tersebut tidak bisa dikasihkan melalui cash tapi mesti di transfer saja. Lantas saya bertanya ke pihak keluarga G, apakah mau di transfer atau bagaimana? terus pihak keluarga G tadi bilang transfer saja.

Masih dikatakannya, berhubung nomor rekening tadi salah. Dirinya mempertanyakan kembali ke pihak keluarga G,

“Bagaimana untuk tindak lanjutnya apa mau di transfer atau tidak, karena keputusan ada di kalian,” ucapnya kepada pihak keluarga G untuk meminta ketegasan pihak keluarga.

Masih diungkapkannya, saya tanya kembali apakah mau di transfer atau tidak, karena semuanya keputusan ada di tangan kalian. Lantas setelah berselang waktu, paman dari G atau M tadi bilang silahkan transfer saja.

Setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga G dan M, kemudian, pihak keluarga G dan M meminta bantu untuk mentransferkan uang sebesar Rp 7.700.000 ke oknum tersebut.

“Tanpa keraguan, saya terus membantu mereka mentransferkan uang tersebut melalui M Banking milik saya pribadi sejumlah uang yang diminta oleh oknum tersebut. Dan bukti transferan pun sudah saya beri tahu ke pihak keluarga M,” jelasnya.

Masih dijelaskannya, setelah di transfer, janji yang oknum itu tawarkan ke pihak keluarga tak kunjung jelas kabar beritanya bahkan nomor hp yang oknum tersebut pun tak aktif lagi hingga sekarang.

Kemudian kita menunggu kabar berita dari oknum yang mengaku sebagai aparat tadi, nomer WhatsApp dan nomer handphonenya tidak aktif lagi.

“Dengan demikian, lanjutnya dapat disimpulkan bahwa Saya bersama keluarga dari M telah tertipu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab,” tegasnya.

Ditambahkannya, alhasil, saya dan pihak keluarga G tadi sudah tertipu mentah-mentah. Masalah tidak selesai uang raib begitu saja.

Atas kejadian ini, saya menghimbau kepada seluruh warga di tempat saya tinggal untuk tidak mudah-mudah percaya dengan nomor yang tidak di kenal apalagi dengan oknum yang mengimingi-imingi hadiah, lelang mobil dan dapat menyelesaikan perkara.

“Jangan mudah-mudah tergiur dengan tawaran apalagi melalui telp yang belum jelas keasliannya. Lebih baik cek dulu kebenarannya. Waspadalah motif penipuan,” pungkasnya.