• Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
Kamis, Februari 26, 2026
No Result
View All Result
lamanqu.com
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
No Result
View All Result
lamanqu.com
No Result
View All Result
danau ranau, oku selatan banner pemkab muba
ADVERTISEMENT
Home Opini

Beberapa Pendekatan Psikologi Perilaku Pemilih Untuk Timses dan Caleg Ketahui

Reporter Editor Sumsel
11 Desember 2018
Beberapa Pendekatan Psikologi Perilaku Pemilih Untuk Timses dan Caleg Ketahui
Bagikan ke Whatsapp

lamanqu.com – Pada tahun politik saat ini pemandangan poster caleg, caleg DPD dan Capres-Cawapres memenuhi badan dan sudut sudut jalan sudah menjadi etalase publik. Mungkin dengan maksud untuk mengenalkan dan memberi informasi bahkan ajakan untuk memilih sang calon yang ada di gambar atau poster maka wajah wajah ganteng dan cantik itu dipajang. Wajah wajah itu dibuat sedemikian menarik sehingga calon pemilih sudah menjadi familiar dengan sosok yang secara tidak langsung mendukung program yang akan dia laksanakan ketika terpilih nanti dan itu lah bentuk komunikasih satu arah secara tidak langsung antara masyarakat pemilih dengan para caleg yang sedang kampanye poster.

Timses atau badan pemenangan selalu mengemban peran penting sehingga untuk menduduki posisi itu atau untuk memilih posisi yang pantas dan piawai akan tugas tugas memenangkan untuk meraih suara selayaknya lah sosok yang punya pengalaman, dikenal, dan kuat dalam tingkatan tingkatan tertentu cara dan pengetahuan ini lah yang menjadi alasan kenapa tim Pilpres A misal harus memilih A untuk jadi ketua.

Sementara itu secara keilmuan psikologi para ahli telah merumuskan dan kita rasakan dinamika tahun politik ini memang sudah dan sedang berlangsung maka kita berani menyimpulkan tidak ada yang salah apabila kita memahami teori serta pendekatan yang dijalakan oleh kubuh kubuh sedang berseteruh.

Pada tahun 1944, lahir studi baru mengenai pemilu yang fokus pada pemilih secara individual yang menjadi hasil penelitian Paul Lazarsfeld serta rekan rekannya dari Bureau of Applied Social Research Columbia University di pemilu tahun 1940 di Elmira, New York. Dalam perilaku pemilih tersebut, ada beberapa pendekatan psikologi yang digunakan dan akan kami jelaskan dalam ulasan kali ini.

Pendekatan Sosiologis
Pendekatan sosiologis atau sosiologi politik merupakan pendekatan psikologi pertama dalam perilaku pemilih. Preferensi politik dihubungkan dengan karakteristik sosial dengan cara tertentu pada sebuah tempat namun tidak di tempat lain. Politik sendiri bukanlah residu sederhana dari kehidupan sosial dan preferensi politik juga tidak sederhana sehingga secara sosial nantinya yang akan menentukan.

Pendekatan sosiologis pada dasarnya memberi penjelasan jika karakteristik sosial dan pengelompokkan sosial, usia, agama, jenis kelamin, latar belakang keluarga, kegiatan dalam kelompok formal dan informal dan lain sebagainya memiliki pengaruh yang cukup penting dalam pembentukan perilaku memilih.

Sementara menurut Khoirudin, pendekatan sosiologis adalah melihat masyarakat sebagai sebuah kelompok yang bersifat vertical dari tingkat terbawah sampai teratas yang menurut paham ini beberapa tingkat kelompok membentuk sikap, persepsi, keyakinan dan juga sikap politik dari setiap individu.

Ini memperlihatkan jika subkultur tertentu dalam masyarakat mempunyai kognisi sosial tertentu yang pada akhirnya akan bermuara pada perilaku tertentu.

Pendekatan Ekonomi Politik
Anthony Down pada tahun 1957 dalam tulisannya mengenai teori demokrasi ekonomi menyatakan jika individu bertindak rasional berdasarkan dengan kepentingan pribadi, maka hampir bisa dipastikan jika mereka juga akan abstain dari memilih dalam pemilu. Abstain rasional dalam aplikasi psikologi sosial dalam bidang ekonomi merupakan respon yang sensitif pada saat keuntungan pemilih dalam memenuhi partisipasinya dibandingkan dengan biaya partisipasinya.

Pendekatan Ekonomi
Kahneman dan juga Tversky mengidentifikasi empat prinsip heuristic yang fundamental yang membawa individu untuk fokus pada seperangkat informasi terbatas sehingga bisa mengambil sebuah keputusan dibandingkan terlibat pada analisis detail dari semua informasi yang ada sebagai salah satu cara mengatasi depresi ekonomi.

Prinsip prinsip tersebut adalah ketersediaan atau availability, keterwakilan atau representativeness, penyesuaian atau adjustment dan juga simulasi atau simulation.

Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural melihat kegiatan memilih sebagai produk dari konteks struktur yang lebih luas seperti struktur sosial yakni struktur sosial yang dijadikan sumber kemajemukan politik bisa berbentuk agama, kelas sosial, nasionalisme dan juga bahasa, sistem partai, sistem pemilihan umum, permasalahan dan juga program yang ditawarkan setiap partai.

Pendekatan Rasional
Apabila pendekatan psikologi memberi penjelasan tentang pemilih tetap, maka sebagian pemilih juga ada yang merubah pilihannya ketika pemilu ke pemilu lain.

Peristiwa politik tertentu bisa merubah preferensi pilihan politik seseorang dan ini yang dijelaskan dalam pendekatan rasional. Ahmad Nursal berkata jika pendekatan rasional khususnya yang berhubungan dengan orientasi utama pemilih adalah orientasi isu dan orientasi kandidat.

Perilaku pemilih berorientasi isu memusatkan pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah untuk cara menyelesaikan masalah dalam psikologi yang sedang dihadapi masyarakat, bangsa dan juga negara. Sedangkan orientasi kandidat lebih kepada sikap seseorang pada pribadi kandidat tanpa memperdulikan label partai.

Pendekatan Kognitif
Dalam pendekatan psikologi kognitif menyatakan jika manusia cenderung mengalami ketegangan ketika kebutuhan psikologi mereka belum terpenuhi.Pada saat seperti itu, maka seseorang akan termotivasi untuk mengurangi ketegangan tersebut sehingga akan mengoptimalkan perasaan, persepsi, kognisi dan juga pengalaman.

Pendekatan Sosiologi
Pada lingkungan ilmuwan sosial di Amerika Serikat, model sosiologis pada awalnya dikembangkan oleh mahzab Columba yakni The Columba School of Electoral Behavior.
Peran sosiologi dalam psikologi dan pendekatan ini menjelaskan jika karakteristik sosial dan juga pengelompokkan pengelompokkan sosial memiliki pengaruh signifikan untuk menentukan perilaku memilih seseorang. Model sosiologis dilandasi dengan pemikiran jika perilaku pemilih dari segi ras, etnik, agama, keluarga dan juga hubungan emosional yang dialami pemilih secara historis bisa terjadi karena beberapa kelompok tersebut memiliki peran besar dalam membentuk sikap, persepsi dan juga orientasi seseorang.

Gerald Pomper memperinci pengaruh pengelompokan social tersebut dalam kajian voting behavior dalam dua variabel yakni variabel predisposisi sosial ekonomi pemilih dan keluarga pemilih. Preferensi politik keluarga juga akan berpengaruh pada pilihan politik seseorang.

Pendekatan Intuitif
Pendekatan atau metode intuitif dalam psikologi merupakan melakukan penyelidikan dengan jalan sengaja atau tidak sengaja dalam pergaulan sehari hari.

Dalam kondisi terakhir tersebut, maka akan diadakan penilaian terhadap sesama atau betul betul ingin mengetahui kondisinya lewat kesan terhadap orang tersebut. Dalam langkah ini, kesan pertama adalah kesan yang memiliki peran paling besar dalam mengambil kesimpulan sehingga harus dikombinasikan dengan beberapa metode lain untuk memperoleh kesimpulan yang bisa dipercaya.

Perilaku Memilih Emosional
Untuk perilaku memilih emosional lebih banyak terjadi karena beberapa faktor yang berasal dari lingkungan seperti struktur sosial, sosiologis, ekologi dan juga sosiopsikologi.

Pendekatan Psikologis
Pendekatan yang merupakan macam pendekatan dalam psikologi ini pada dasarnya adalah melihat sosialisasi sebagai dereminasi dalam menentukan perilaku politik pemilih dan bukan karakter sosiologi.

Pendekatan ini memberi penjelasan jika sikap seseorang adalah refleksi dan juga kepribadian seseorang yang menjadi variabel cukup untuk menentukan dalam mempengaruhi perilaku politik seseorang sebab pendekatan tersebut mendekati tiga aspek psikologi sebagai kajian utamanya yakni ikatan emosional pada sebuah partai politik, beberapa isu dan beberapa kandidat.

Pendekatan Domain Kognitif
Pendekatan domain psikologi kognitif dikembangkan untuk memberi keterangan dan memprediksi perilaku pemilih. Newman dan juga Sheth mengembangkan model perilaku pemilih atas dasar beberapa yang berhubungan dengan marketing. Menurut pendekatan ini, perilaku pemilih ditentukan dari tujuh domain kognitif yang berbeda dan terpisah, yakni:

Isu dan kebijakan politik: dipresentasikan kebijakan yang dijanjikan oleh partai atau kandidat politik.
Citra sosial: Citra kandidat dalam pemikiran pemilih tentang keberadaan kelompok sosial atau tergabung sebagai apa dalam sebuah partai atau kandidat politik.
Perasaan emosional: Dimensi emosional yang terpancar dari kontestan atau kontestan yang ditunjuk oleh kebijakan politik yang ditawarkan.
Peristiwa mutakhir: mengacu pada sifat pribadi yang penting dan dianggap sebagai karakter kandidat.
Peristiwa personal: Mengacu pada kehidupan pribadi dan peristiwa yang dialami secara pribadi oleh kandidat.
Faktor epistemik: Isu pemilihan spesifik yang bisa memicu keinginan para pemilih tentang hal baru.
Pendekatan Ekonomi
Model pendekatan psikologi dalam perkembangan manusia ini diadaptasi dari ilmu ekonomi yakni pemilih bertindak rasional dengan cara memilih partai politik atau kandidat yang dianggap bisa mendatangkan keuntungan paling besar atau menekan kerugian sekecil mungkin.

Down memberi penjelasan jika pemilih akan memilih kandidat atau partai pemerintah apabila masyarakat menilai kinerja pemerintah bisa mendatangkan perbaikan ekonomi pada tingkat keluarga dan masyarakat. Sebaliknya, pemilih juga akan beralih di partai atau kandidat oposisi apabila pemerintah gagal ketika meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat.

Pendekatan ini cukup bisa menjelaskan perubahan pemenang dari pemilu dan pemilu. Pengejawantahan dalam pendekatan ini harus disampaikan keberhasilan kinerjanya di sektor ekonomi pada masyarakat luas dan terkadang perubahan tetap terjadi namun tidak disadari sehingga membutuhkan sosialisasi.

Sedangkan untuk penantang atau oposisi juga harus bisa menawarkan program tandingan peningkatan ekonomi masyarakat yang jauh lebih baik dibandingkan dengan uncumbet. Program yang ditawarkan tersebut hendaknya bisa menjawab tantangan dan juga kebutuhan rill pada tingkat masyarakat tidak makro namun mikro.

Pendekatan Sosio Psikologis
Pendekatan ini lahir dari kritikan jika asumsi pemilih yang memiliki daya sosial ekonomi lebih baik dan juga ada dalam sebuah jaringan sosial belum tentu berpartisipasi dalam pemilu jika ia tidak tertarik atau tidak memiliki ikatan psikologis dengan partai atau kandidat tertentu.

Campbell menjelaskan jika faktor psikologis individu memiliki peran signifikan untuk menentukan pilihan politik seseorang. Selain itu, faktor psikologis tersebut juga terdiri dari tiga hal yaitu identifikasi kepartaian, orientasi kandidat dan juga orientasi isu kampanye.

Pada beberapa pilkada juga ditemui fakta jika kandidat yang diusung mayoritas partai di DPRD tidak selalu berbanding lurus dengan perolehan suara kandidat. Ini mengartikan jika orientasi pemilih pada daerah tersebut tidak pada partai namun pada kandidatnya.

Pendekatan Pemilihan Rasional
Melihat jika pemilih akan menentukan pilihan atas dasar penilaian terhadap isu isu politik serta kandidat yang diajukan yang menjadi salah satu contoh rasionalisasi dalam psikologi. Ini mengartikan jika pemilih bisa menentukan pilihannya atas dasar pertimbangan pertimbangan rasional. Untuk mengetahui jenis pemilih, ada beberapa jenis pemilih yang harus diketahui.

Pemilih rasional: Mengutamakan kemampuan partai politik atau calon peserta pemilu dengan program kerjanya dimana peserta dengan program kerjanya akan melihat kinerja partai atau kontestan di masa lalu.
Pemilih kritis: Proses untuk menjadi pemilih bisa lewat 2 hal yakni menjadikan nilai ideologis sebagai pijakan untuk menentukan pada partai atau kontestan dan bisa juga terjadi sebaliknya dimana pemilih tertarik lebih dulu dengan program kerja yang ditawarkan sebuah partai.

Tags: KampanyePendekatan Psikologiperilaku pemilihTimses
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mawardi Yahya: Darma Budhi Plt Kadis PUBM Tata Ruang Karena Pernah Menjabat OPD

Next Post

Kadinkes Sumsel Ungkap Perpres No 82 2018, Faktanya 41 Persen Masyarakat Belum Rasakan BPJS

Editor Sumsel

Info Terkait

Damai dan Sehat, Kampanye, kampanye jaga jarak, pembagian masker serentak, Penanganan COVID-19, Penggunaan Masker, pertumbuhan ekonomi, Pilkada Serentak 2020, Protokol kesehatan, Kampanye Penggunaan Masker

Popo Selalu Ingatkan Masyarakat Selalu Patuhi Protokol Kesehatan

10 September 2020
Semua Partai Pengusung Bakal Beri Sanksi Caleg Yang Tak Kampanyekan Jokowi-Ma’ruf

Semua Partai Pengusung Bakal Beri Sanksi Caleg Yang Tak Kampanyekan Jokowi-Ma’ruf

16 November 2018

Berita Terbaru

Wamen Dikdasmen Resmikan Revitalisasi Sekolah di Palembang, Ingatkan Pentingnya Kejujuran Data

Ketua DPRD Sumsel Andie Dinialdie Ungkap H. Alex Noerdin Tinggalkan Warisan Besar bagi Pembangunan Daerah

Kepedulian Babinsa di Lokasi TMMD, Dampingi Anak Sekolah Lintasi Jalan Berlumpur

Langkah Tegap di Tanah Pengabdian: Dandim Kebumen Tinjau TMMD dan Rangkul Hangat Warga Somagede

TMMD ke-127 Gelar Sosialisasi PHBS ke Pelajar SMKN 1 Rancabali

Energi Sepenuh Hati, Kilang Pertamina Plaju Salurkan 500 Paket Sembako

Polda Sumsel Perkuat Kamtibmas Kota Palembang Selama Ramadhan

Rumah Reyot Kini Jadi Bagus, Aksi TMMD Kodim 0624/Kabupaten Bandung Banjir Pujian

Harper Palembang Tawarkan Promo Spesial dan Live Music di Program Bukber Ruby Al Barakah

Berita Populer

Dari Kepedulian Menjadi Aksi, SPP RU III Dukung Pemulihan Sumatera

Pemulihan Sumatera
Reporter YN
20 Februari 2026

Palembang, LamanQu.Com - Semangat solidaritas dan kepedulian terhadap sesama terus menjadi nilai yang hidup di lingkungan PT Pertamina Patra Niaga...

Read more

Sinergi TNI dan Rakyat di TMMD ke-127 Kodim 0624/Kabupaten Bandung

TMMD ke-127 Kodim 0624
Reporter UMR
20 Februari 2026

Kabupaten Bandung, LamanQu.Com Semangat kebersamaan TNI dan masyarakat terus membara di Kabupaten Bandung. Hal ini terlihat jelas dalam pelaksanaan program...

Read more

TMMD Reguler Ke-127 di Cipelah, Progres Pengecoran Jalan Capai 666 Meter

Progres Pengecoran Jalan
Reporter UMR
21 Februari 2026

Kabupaten Bandung, LamanQu.Com – Semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat kembali terlihat dalam pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)...

Read more

Tingkatkan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa Cipelah, Satgas TMMD ke-127 Cek Bantuan Benih Lele

Ekonomi Desa Cipelah
Reporter UMR
21 Februari 2026

Kabupaten Bandung, LamanQu.Com - Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0624/Kab. Bandung Serma Choirul bersama Babinsa Serda Taryana melaksanakan pengecekan bantuan...

Read more

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

  • Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In