Palembang,LamanQu.com-Muhammad Fariz Dwi Saputra atau yang lebih dikenal di kalangan otomotif dengan sapaan Fariz Montesz, menyatakan diri maju sebagai calon Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumatera Selatan (Sumsel) periode 2027-2031.
Fariz menegaskan, keputusannya mencalonkan diri bukan semata-mata untuk mengejar jabatan, melainkan karena dorongan untuk membenahi organisasi dan membangun ekosistem otomotif Sumsel agar semakin maju.
“Saya maju sebagai calon Ketua IMI Sumsel bukan karena jabatan, tapi karena panggilan. Panggilan untuk membenahi rumah besar kita, IMI Sumatera Selatan,” kata Fariz.
Menurut Fariz, Sumsel memiliki potensi besar di bidang otomotif. Hal itu didukung keberadaan sejumlah sirkuit, termasuk Sirkuit Skyland dan Sirkuit Manggul, serta tingginya antusiasme generasi muda terhadap olahraga otomotif.
Namun, menurut dia, potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal.
Ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi, mulai dari pembinaan atlet, penyelenggaraan event, persoalan perizinan, sponsorship hingga penguatan organisasi.
“Selama ini saya melihat sendiri, atlet berbakat belum dibina secara optimal. Klub penyelenggara juga masih menghadapi kesulitan, termasuk biaya dan proses mengurus izin event. Event yang sebenarnya bagus terkadang tenggelam karena kurang gaung,” ujarnya.
Karena itu, Fariz membawa gagasan menjadikan IMI Sumsel sebagai rumah bersama bagi seluruh klub otomotif dan 17 Pengcab IMI kabupaten/kota.
Menurutnya, seluruh klub harus mendapatkan ruang yang sama untuk berkembang. Klub besar harus dihargai, sementara klub-klub kecil harus dirangkul dan diberi kesempatan untuk tumbuh.
“IMI Sumsel harus menjadi rumah untuk seluruh klub sebagai pemilik mandat dan 17 Pengcab kabupaten/kota. Klub besar dihargai, klub kecil dirangkul. Atlet dibina, event digelorakan, dan organisasi dibenahi,” katanya.
Fariz sendiri bukan nama baru dalam dunia otomotif Sumsel. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang memiliki sejarah panjang di dunia otomotif.
Ayahnya, Barnas Bursyah, merupakan salah satu pendiri Montesz Sport Club bersama Handoko Halim, Beben Bursyah dan Deden Bursyah. Montesz yang berdiri sejak era 1980-an dikenal sebagai salah satu klub otomotif tertua di Indonesia.
Seiring waktu, Montesz berkembang menjadi salah satu event organizer (EO) balap yang produktif. Di bawah generasi penerus, termasuk Fariz bersaudara, Montesz konsisten menghadirkan berbagai event otomotif, termasuk konsep night race dan sportainment yang menyesuaikan perkembangan industri motorsport.
Sebelum pandemi Covid-19, Montesz mampu menggelar rata-rata 20-30 event setiap tahun di berbagai wilayah Sumatera dan Jawa.
Meski pandemi sempat membuat industri otomotif vakum, Fariz mengaku tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia yang sudah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Di tengah kesibukannya membangun bisnis transportasi dan kuliner melalui YAFA Group, Fariz tetap aktif di lingkungan IMI Sumsel. Ia juga masih terlibat sebagai pimpinan lomba maupun dewan juri dalam sejumlah kegiatan otomotif.
“Saya sudah bergabung dengan IMI Sumsel selama sekitar 20 tahun, sejak masih duduk di bangku SMA. Saat itu ayah saya menjabat sebagai sekretaris umum. Selama 20 tahun itu, kemampuan organisasi dan jaringan ekosistem saya ditempa dari level paling bawah,” ujarnya.
Pengalaman panjang tersebut, menurut Fariz, membuat dirinya memahami berbagai persoalan yang dihadapi stakeholder otomotif, mulai dari pengurus, klub, atlet, sponsor hingga penyelenggara event.
Ia pun menawarkan konsep kepemimpinan yang lebih terbuka, transparan dan hadir di tengah seluruh stakeholder.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah jembatan. Ketua harus punya waktu, totalitas dan hadir untuk menjembatani semua stakeholder, mulai dari pengurus provinsi, Pengcab kabupaten/kota, klub, atlet, sponsor sampai media,” katanya.
Target Tiga Besar Nasional
Dalam pencalonannya, Fariz membawa visi menjadikan IMI Sumsel masuk dalam tiga besar Pengprov IMI terbaik di Indonesia.
Untuk mencapai target tersebut, ia menyiapkan sejumlah program yang mencakup bidang event, pembinaan, mobilitas, sarana dan prasarana hingga sosial kemanusiaan.
Di bidang event, Fariz menargetkan Sumsel menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional, termasuk Jambore Nasional dan event Kejuaraan Nasional. Ia juga ingin memperbanyak kegiatan komunitas serta mempermudah klub dalam menyelenggarakan event.
“Kemudahan perizinan dan sponsor menjadi salah satu hal yang harus kita bantu. Jangan sampai klub yang ingin membuat event justru kesulitan karena persoalan administratif dan pembiayaan,” ujarnya.
Sementara di bidang pembinaan, Fariz menggagas pembentukan sekolah balap atau racing school. Program tersebut diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet sejak usia dini hingga mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Ia juga berkomitmen memberikan dukungan kepada pembalap Sumsel yang berlaga di luar daerah.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia pengurus dan petugas lapangan juga menjadi salah satu perhatian.
Fariz menilai kualitas penyelenggaraan event sangat bergantung pada kompetensi orang-orang yang berada di balik kegiatan tersebut.
Untuk sarana dan prasarana, ia mendorong optimalisasi keberadaan sirkuit permanen yang ada di Sumsel. Sekretariat IMI Sumsel juga akan diarahkan menjadi “Rumah Bersama” yang representatif, inklusif dan nyaman bagi pengurus, klub, atlet, sponsor, media serta stakeholder lainnya.
Di era digital, Fariz juga ingin mengoptimalkan media sosial IMI Sumsel serta membuat podcast yang membahas perkembangan dunia otomotif.
Program lainnya adalah optimalisasi kerja sama merchant melalui KTA IMI serta kegiatan sosial seperti Jumat Berkah.
Punya Rekam Jejak di Dunia Balap
Fariz membawa pengalaman cukup panjang di dunia otomotif, baik sebagai pembalap, manajer tim, penyelenggara event maupun organisatoris.
Sebagai pembalap, Fariz pernah turun di ajang slalom pada 2004-2008 dan mengikuti sejumlah seri Kejurnas Slalom bersama Montesz Slalom Team. Ia juga beberapa kali berhasil naik podium.
Sebagai manajer tim, Fariz pernah menjadi manajer kontingen balap motor Pra-PON Riau 2012 di Sentul Karting. Saat itu kontingen yang ditanganinya menjadi satu-satunya kontingen dari Sumatera yang berhasil lolos di seluruh nomor pertandingan.
Di bidang penyelenggaraan event, Fariz tercatat sebagai CEO Montesz Indonesia sejak 2015 hingga sekarang. Montesz dikenal produktif menggelar event otomotif dengan rata-rata 20-30 event setiap tahun.
Sementara sebagai organisatoris, Fariz telah menjadi bagian dari kepengurusan IMI sejak 2004 dengan berbagai posisi yang pernah diamanahkan kepadanya.
Ia juga mendukung berbagai event balap melalui brand bisnis Yafa Rent Car.
Tokoh Otomotif Dorong IMI Transparan
Pencalonan Fariz mendapat perhatian dari sejumlah tokoh otomotif Sumsel.
Tokoh otomotif Sumsel, Arief Purnomo yang akrab dipanggil pupung mengatakan dunia otomotif sudah menjadi bagian dari kehidupan Fariz sejak kecil.
Menurutnya, setiap daerah memiliki pembalap dan talenta yang dapat menjadi andalan untuk bersaing di tingkat nasional. Karena itu, tantangan ke depan adalah bagaimana IMI mampu menciptakan sistem pembinaan yang mampu mengantarkan talenta daerah ke level lebih tinggi.
“Fariz ini dari kecil sudah berada di dunia otomotif. Setiap daerah ada jagoannya untuk tingkat nasional.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana ke depan supaya IMI semakin maju,” katanya.
Ia juga berharap IMI Sumsel dapat dikelola secara transparan dan profesional, termasuk dalam proses penerbitan KTA maupun penyelenggaraan event.
“IMI jangan menjadi alat politik. Ke depan kita ingin IMI transparan, baik dalam membuat KTA maupun dalam membuat event,” ujarnya.
Sementara itu, mantan pengurus IMI Sumsel sekaligus tokoh otomotif Sumsel, Ridwan Tumenggung, memberikan pesan kepada Fariz jika nantinya terpilih memimpin IMI Sumsel.
Menurut Ridwan, hal pertama yang harus dilakukan adalah membangun komunikasi dan merangkul seluruh klub.
“Pesan saya untuk ananda Fariz, benahi dulu jumlah suara karena klub itu satu klub satu suara. Klub-klub ini harus dirangkul semua,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar struktur kepengurusan tidak terlalu gemuk. Menurutnya, yang lebih penting bukan jumlah pengurus, melainkan kemauan untuk bekerja.
“Jangan banyak-banyak pengurus. Yang penting orang-orangnya mau bekerja,” ujarnya.
Fariz berharap pencalonannya dapat menjadi momentum untuk menyatukan seluruh elemen otomotif Sumsel.
“Buku profil ini kami persembahkan sebagai komitmen. Mari bersama kita satukan tekad, raih prestasi dan harumkan nama Sumsel di kancah nasional. Bismillah, untuk IMI Sumsel yang lebih maju,” kata Fariz.
(Yanti)










