Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Integritas menjadi nilai yang semakin langka di tengah praktik politik yang kerap diwarnai kepentingan. Namun, hal berbeda ditunjukkan oleh Chairul S Matdiah saat menjabat sebagai pimpinan DPRD Sumatera Selatan periode 2014–2019. Sikap tegas dan konsistennya dalam menolak praktik-praktik yang berpotensi koruptif bahkan membuat Gubernur Sumsel saat itu, Alex Noerdin, terperangah.
Dalam buku biografi Toga Hitam, sejumlah prinsip kuat Chairul terungkap jelas. Ia dikenal sebagai sosok yang menutup rapat segala celah penyimpangan, termasuk praktik “uang ketok palu” yang kerap dikaitkan dengan pengesahan anggaran. Chairul secara terbuka menyampaikan kepada Gubernur bahwa dirinya tidak pernah menerima uang tersebut maupun jatah proyek yang biasanya menyertai proses legislasi anggaran.

Tak hanya itu, Chairul juga menunjukkan sikap sederhana dengan menolak berbagai fasilitas mewah yang ditawarkan. Mulai dari kursi impor, lampu hias mahal, hingga aksesoris rumah dinas yang disertai iming-iming keuntungan pribadi, semuanya ditolaknya. Ia memilih tetap menggunakan fasilitas lama, termasuk pendingin ruangan dan tempat tidur di rumah dinas, sebagai bentuk komitmennya menjaga integritas.
Dalam hal tunjangan, Chairul kembali mengambil langkah berbeda. Chairul menolak uang makan pimpinan. Uang makan pimpinan bisa Rp60 juta per bulan, untuk Ketua DPRD bahkan Rp90 juta. Alasannya sederhana: sebagai pimpinan, ia kerap melakukan perjalanan dinas yang sudah disertai uang saku, sehingga menurutnya tidak etis menerima tambahan tersebut.
Sikap tegasnya juga terlihat saat menghadapi tawaran proyek dari internal, termasuk yang datang melalui Sekretariat Dewan. Berbagai proyek rehabilitasi gedung maupun pengadaan barang ia hindari karena berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, gratifikasi, hingga praktik suap.

Awalnya, sikap seperti ini membuat Alex Noerdin merasa terkejut. Pasalnya, pendekatan tersebut dinilai tidak lazim di dunia politik. Namun seiring waktu, kekagetan itu berubah menjadi rasa hormat. Alex bahkan mengakui bahwa Chairul telah membuktikan jabatan publik dapat dijalankan tanpa harus “mengotori tangan” dengan praktik yang melanggar hukum.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan pilihan sikap yang harus dijaga dalam setiap keputusan. Di tengah tantangan dunia politik, apa yang ditunjukkan Chairul S Matdiah menjadi contoh bahwa kejujuran tetap bisa berdiri tegak—dan bahkan menginspirasi.
(Yanti/rilis)










