• Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
Kamis, April 16, 2026
No Result
View All Result
lamanqu.com
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
No Result
View All Result
lamanqu.com
No Result
View All Result
danau ranau, oku selatan banner pemkab muba
ADVERTISEMENT
Home News Sumsel

Gamelan: Diplomasi “Soft Power” atau Ironi Barang Impor?

Reporter YN
16 April 2026
Bagikan ke Whatsapp

Oleh: Ki Edi Susilo
Anggota Badan Riset dan Inovasi Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa

Palembang. Berita Suara Rakyat. Com

​Dalam beberapa dekade ke depan, sebuah dystopia budaya mungkin akan tersaji di panggung nasional kita. Bayangkan seorang dalang asal Swiss dengan fasih memainkan lakon Dewa Ruci di Jakarta, sementara sebuah ansambel gamelan asal Amerika Serikat menggelar konser di gedung bergengsi dengan tiket yang ludes dalam hitungan jam. Di bangku penonton, cucu-cicit kita berdecak kagum seraya bergumam, “Luar biasa sekali estetika Barat ini.”

 

​Kalimat tersebut bukan sekadar satire pahit, melainkan peringatan dini (early warning) atas gejala amnesia budaya yang kian akut. Di saat kita sibuk menghamba pada algoritma media sosial yang menyeragamkan selera, dunia internasional justru sedang giat “menambang” kearifan lokal kita sebagai modal baru peradaban mereka. Jika tren ini berlanjut, Indonesia tidak hanya akan kehilangan identitas, tetapi juga kedaulatan atas kekayaan intelektualnya sendiri.

 

​Paradoks Apresiasi Global

Data menunjukkan bahwa apresiasi terhadap kebudayaan Nusantara di mancanegara telah merambah wilayah akademik strategis. Di Amerika Serikat, kini terdapat lebih dari 200 ansambel gamelan yang aktif. Universitas bergengsi seperti UC Berkeley dan UCLA telah menjadikannya bagian integral kurikulum musikologi. Begitu pula di Selandia Baru, New Zealand School of Music (NZSM) memosisikan gamelan sebagai mata kuliah favorit yang selalu dipadati peminat.

​Kontras tajam justru terjadi di tanah air. Di luar kantong budaya seperti Yogyakarta atau Bali, akses generasi muda terhadap instrumen tradisional kian menyempit. Seni tradisi sering kali tereduksi menjadi sekadar “muatan lokal” yang bersifat administratif, diajarkan tanpa rasa, atau dianggap sebagai residu masa lalu yang tidak lagi relevan dengan derap zaman digital.

​Sosiolog Pierre Bourdieu pernah mengingatkan tentang konsep “Modal Budaya” (Cultural Capital). Jika suatu bangsa tidak mampu mengonversi warisan budayanya menjadi modal simbolik yang bergengsi, maka warisan tersebut akan berpindah tangan kepada mereka yang mampu memberi nilai tambah secara intelektual dan ekonomi. Tanpa re-branding yang kuat, gamelan hanya akan menjadi artefak eksotis di museum bangsa sendiri.

 

​Menagih Dirigen Negara

Kita perlu bertanya. Mengapa Korea Selatan mampu menginvasi dunia dengan Hallyu, sementara kita yang memiliki kekayaan etnik jauh lebih dalam justru terjebak dalam posisi defensif? Keberhasilan Seoul bukan keajaiban instan, melainkan hasil kemauan politik (political will) yang sistematis melalui kebijakan Creative Korea pasca-krisis 1997.

 

​Negara di sana hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai dirigen yang mengatur simfoni antara kebijakan fiskal, pendidikan, dan industri kreatif. Di sinilah titik lemah kita. Indonesia memerlukan kebijakan afirmatif yang lebih berani. Negara tidak boleh lagi memandang anggaran budaya sebagai “dana hibah” yang bersifat karitatif atau seremoni belaka.

 

​Budaya harus diposisikan sebagai sektor strategis dalam APBN. Ini mencakup insentif pajak bagi korporasi yang membangun laboratorium seni, subsidi instrumen gamelan berkualitas standar konser untuk tiap sekolah, hingga perlindungan hak cipta atas struktur musikal tradisi yang selama ini rentan diklaim pihak asing. Tanpa langkah struktural, pelestarian budaya hanya akan menjadi romantisasi utopis tanpa dampak kesejahteraan bagi pelakunya.

 

​Digital – Tradisi Fusion

Dalam studi hubungan internasional, Joseph Nye memperkenalkan konsep Soft Power, kemampuan memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, bukan pemaksaan militer. Gamelan adalah instrumen soft power yang paripurna. Ia bukan sekadar alat musik, ia adalah representasi nilai musyawarah, harmoni, dan gotong royong yang tertuang dalam estetika bunyi.

​Di era Big Data, tantangannya adalah bagaimana tradisi mampu “menunggangi” algoritma global. Kita memerlukan strategi “Digital – Tradisi Fusion”. Pemerintah dan lembaga riset harus mendukung kreator yang berani melakukan dekonstruksi seni, mengemas gamelan dalam format lo-fi, EDM, hingga skor film blockbuster agar masuk ke dalam ekosistem gaya hidup Generasi Z dan Alpha. Tujuannya jelas, membuat gamelan tetap relevan di telinga global tanpa kehilangan esensi filosofisnya.

 

​Pendidikan Karakter dan Perut yang Kenyang

Namun, industrialisasi budaya akan kehilangan kompas tanpa akar pendidikan yang kuat. Meminjam semangat Ki Hadjar Dewantara melalui Tamansiswa, seni tradisi harus diposisikan sebagai praksis pendidikan karakter. Gamelan adalah laboratorium sosial yang melatih ketajaman rasa (wiraga, wirama, wirasa). Maka, kebijakan Muatan Lokal di sekolah harus ditransformasi secara total menjadi ruang ekspresi yang membanggakan, bukan beban hafalan yang membosankan.

​Lebih jauh lagi, negara harus memastikan bahwa menjadi praktisi budaya, pengrawit, penyungging wayang, atau perajin gamelan adalah profesi yang menjanjikan secara ekonomi dan terhormat secara sosial. Kedaulatan budaya tidak akan berdiri tegak di atas perut yang lapar. Jaminan kesejahteraan adalah prasyarat mutlak jika kita ingin memenangkan persaingan identitas global.

​Menjaga Rumah Besar

Pada akhirnya, konsep Tri Sakti Bung Karno khususnya “Berkepribadian dalam Kebudayaan”. Harus dimaknai secara kontemporer sebagai kedaulatan identitas di tengah kepungan ideologi global. Kita tentu tidak ingin melihat suatu hari nanti, anak cucu kita harus terbang ke Zurich atau Nevada hanya untuk mempelajari teknik menabuh slendro-pelog.

 

​Kebudayaan adalah rumah besar yang melindungi jiwa bangsa. Jika pemiliknya tak lagi mengenali setiap sudut pintu dan jendelanya, jangan kaget jika suatu saat orang asing yang akan memegang kuncinya. Sudah saatnya kedaulatan budaya ditegakkan dengan investasi besar-besaran, sebelum pusaka ini benar-benar “pulang” ke pangkuan kita sebagai barang impor dengan label harga yang mahal. Kita harus memilih: menjadi pemilik sah kebudayaan, atau sekadar penonton yang termangu di tanah sendiri.

 

 

ADVERTISEMENT
Previous Post

Sah PBPI Sumsel Dikukuhkan PBPI Pusat, Berikut Beberapa Pesan Disampaikan

Next Post

Gamelan: Diplomasi “Soft Power” atau Ironi Barang Impor?

YN

Info Terkait

Sah PBPI Sumsel Dikukuhkan PBPI Pusat, Berikut Beberapa Pesan Disampaikan

Sah PBPI Sumsel Dikukuhkan PBPI Pusat, Berikut Beberapa Pesan Disampaikan

16 April 2026
Perkuat Sinergi Penegak Hukum, Karutan Kelas I Palembang Laksanakan Audiensi dengan Kejari dan Polrestabes

Perkuat Sinergi Penegak Hukum, Karutan Kelas I Palembang Laksanakan Audiensi dengan Kejari dan Polrestabes

15 April 2026
Rutan Kelas I Palembang Ikuti Kunjungan Kerja Komisi XII DPR RI Secara Virtual

Rutan Kelas I Palembang Ikuti Kunjungan Kerja Komisi XII DPR RI Secara Virtual

15 April 2026
Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Gelar Grand Safety Talk, Satukan Langkah Sukseskan Pit Stop 2026

Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Gelar Grand Safety Talk, Satukan Langkah Sukseskan Pit Stop 2026

15 April 2026
Kolaborasi PLN dan SMK Lebong Jadi Panggung Lahirnya Teknisi Listrik Kompeten di Masa Depan

Kolaborasi PLN dan SMK Lebong Jadi Panggung Lahirnya Teknisi Listrik Kompeten di Masa Depan

15 April 2026
Inisiasi Penghematan Energi, Puluhan Ribu Insan PLN Serentak Terapkan Clean Energy Day

Inisiasi Penghematan Energi, Puluhan Ribu Insan PLN Serentak Terapkan Clean Energy Day

15 April 2026

Berita Terbaru

Hanya Miliki 8 Pos, Damkar Palembang Dorong Penambahan hingga 14 Pos

Wujudkan SDM Unggul, Pemkab Muba Biayai Penuh Pelatihan Migas bagi 40 Putra-Putri Daerah ke Cepu

Pegadaian Bidik Generasi Muda sebagai Investor Baru

Siswa SMPN 1 Sembawa Raih Juara 1 Tenis Lapangan di Kejuaraan HUT Banyuasin ke 24 Tahun 2026

Polsek Bayung Lencir dan Tim Gabungan Tertibkan Puluhan Sumur Minyak Ilegal di Bayung Lencir

Jembatan P6 Lalan Tak Kunjung Rampung, Warga Muba Geram: Akses Utama Terbengkalai

Uang Perusahaan Rp981 Juta Raib, Pelaku Dihukum 3,5 Tahun

Halal Bil Halal Irmas Masjid Babul Ihsan Bersama DitPol Airud Polda Sumsel

Implementasikan Perda Nomor 2 Tahun 2020, Disnakertrans Muba Umumkan Hasil Seleksi PT Gorby Putra Utama

Berita Populer

Rutan Kelas I Palembang Gelar Bantuan Sosial, Wujud Kepedulian untuk Keluarga Warga Binaan dan Warga Sekitar

Rutan Kelas I Palembang Gelar Bantuan Sosial, Wujud Kepedulian untuk Keluarga Warga Binaan dan Warga Sekitar
Reporter YN
27 Maret 2026

Palembang. Lamanqu. Com Dalam rangka meningkatkan kepedulian sosial serta mempererat hubungan kekeluargaan, Rumah Tahanan Negara Kelas I Palembang menggelar kegiatan...

Read more

Dua Hari Hilang, Tersangka Narkoba di Palembang Diduga Dianiaya Oknum Polisi, Propam Turun Tangan

Dua Hari Hilang, Tersangka Narkoba di Palembang Diduga Dianiaya Oknum Polisi, Propam Turun Tangan
Reporter YN
27 Maret 2026

Palembang, LamanQu.Com - Dugaan brutalitas aparat kembali mencoreng wajah penegakan hukum. Seorang tersangka kasus narkoba di Sumatera Selatan diduga mengalami kekerasan...

Read more

Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Lakukan Aksi Nyata Hemat Energi Melalui Earth Hour 2026

Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Lakukan Aksi Nyata Hemat Energi Melalui Earth Hour 2026
Reporter YN
29 Maret 2026

Plaju. Lamanqu. Com Kilang Plaju berpartisipasi dalam gerakan global Earth Hour 2026 sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Aksi ini...

Read more

Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Berdayakan Warga Olah Eceng Gondok Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Berdayakan Warga Olah Eceng Gondok Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Reporter YN
27 Maret 2026

  Plaju. Berita Suara Rakyat. Com Pertamina Patra Niaga Refinery Unit III Plaju terus mendorong penguatan inovasi berbasis lingkungan secara...

Read more

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

  • Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In