PALEMBANG. Lamanqu. Com
Kasus pembacokan yang sempat disebut sebagai aksi kekerasan sepihak di Terminal Lemabang, Palembang, kini memasuki babak baru yang jauh lebih serius.
Fakta di lapangan mengarah pada dugaan bentrokan terencana, bukan sekadar insiden spontan seperti yang sebelumnya beredar.
DR, sosok yang semula dituding sebagai pelaku utama, justru tampil dengan pernyataan keras: dirinya bukan penyerang, melainkan target.
Menurut pengakuannya, situasi berubah drastis hanya dalam hitungan detik saat dua pria tak dikenal mendekat dan langsung menghunus senjata tajam tanpa peringatan.
“Tidak ada cekcok, tidak ada pemicu. Mereka datang dan langsung menyerang,” tegas DR.
Yang lebih mengejutkan, serangan disebut tidak hanya datang dari depan. DR mengklaim ada pelaku lain yang sudah bersiap dari arah belakang indikasi kuat adanya skenario pengeroyokan.
Dalam kondisi terdesak, ia mengaku melakukan perlawanan seadanya.
“Ini bukan soal berkelahi. Ini soal bertahan hidup,” katanya singkat.
Pernyataan ini sekaligus meruntuhkan narasi sebelumnya yang menyebut AS sebagai korban tunggal. DR menyebut klaim tersebut sebagai upaya membalikkan fakta.
“Kalau itu dibilang melerai, itu tidak logis. Mereka datang bawa senjata. Itu bukan melerai, itu menyerang,” ujarnya.
Sementara itu, keterangan dari aparat di lokasi justru memperkuat gambaran situasi yang jauh lebih brutal dari yang diperkirakan.
Kepala Pos Polisi Pasar Lemabang mengungkap adanya sekelompok pria bersenjata yang bergerak agresif dan memicu kepanikan massal.
“Mereka berjumlah empat orang, tiga membawa senjata tajam. Situasinya chaos. Warga berlarian,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku sempat berhadapan langsung dengan kelompok tersebut sebelum mereka akhirnya melarikan diri saat aparat tambahan dikerahkan.
Fakta adanya lebih dari satu pelaku bersenjata, ditambah pola serangan dari dua arah, kini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini aksi kriminal biasa, atau bentuk kekerasan yang sudah direncanakan?
Hingga kini, aparat kepolisian belum memberikan kesimpulan final.
Namun satu hal mulai terlihat jelas narasi tunggal yang beredar sebelumnya tidak lagi cukup untuk menjelaskan kompleksitas kejadian ini.
Publik kini menunggu keberanian aparat untuk membuka fakta sebenarnya, tanpa kompromi dan tanpa tekanan. Karena jika benar ada upaya pembelokan cerita, maka kasus ini bukan sekadar pembacokan, melainkan pertarungan atas kebenaran itu sendiri.










