• Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
Sabtu, Mei 2, 2026
No Result
View All Result
lamanqu.com
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
No Result
View All Result
lamanqu.com
No Result
View All Result
danau ranau, oku selatan banner pemkab muba
ADVERTISEMENT
Home News

Diskusi Publik dan Launching Buku Monolog di Simpang Republik, Haekal Al Haffah: Ketika Trias Politika Lemah, Civil Society Harus Bangkit

Reporter YN
31 Januari 2026
Launching Buku Monolog
Bagikan ke Whatsapp

Palembang, LamanQu.Com – Diskusi Publik dan Launching Buku Monolog di Simpang Republik digelar di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Jumat (31/1/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Kepemimpinan Politik, Civic Virtue, dan Tanggung Jawab Intelektual”, dengan menghadirkan sejumlah tokoh intelektual, akademisi, dan pengamat politik Sumatera Selatan.

Hadir sebagai narasumber utama penulis buku Monolog di Simpang Republik, M. Haekal Al Haffah, S.Sos, M.Sos, didampingi Ketua Umum DPP Gencar Charma Afrianto, SE, Ketua PDHI Sumsel Drh. Alfin Suhanda, Akademisi Ilmu Politik Sumsel Dr. Zulfikri Suleman, MA, Ilmuwan Politik dan Kebijakan Publik Dr. Husni Thamrin, M.Si, serta Pengamat Politik Sumsel Ade Indra Chaniago. Acara ini turut dihadiri kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

M. Haekal Al Haffah menegaskan bahwa salah satu persoalan mendasar demokrasi Indonesia hari ini adalah lemahnya tradisi intelektual dan tidak hidupnya komunitas kritis di ruang publik.

“Tradisi intelektual kita masih sangat lemah. Komunitas push atau komunitas yang mendorong lahirnya gagasan kritis itu tidak hidup,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tidak berjalannya fungsi trias politica secara semestinya. Menurutnya, ketika fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif melemah, maka variabel penentu terakhir yang harus hidup adalah civil society.

“Kita butuh NGO, kelompok intelektual, akademisi, dan kelas menengah yang kritis. Ketika trias politika tidak berjalan, maka kelompok kritis inilah yang harus bersuara,” tegas Haekal.

Namun, ia menekankan bahwa komunitas kritis tidak bisa muncul secara instan. Tradisi intelektual harus dibangun melalui interaksi gagasan yang sehat dan berkelanjutan, bukan sekadar didorong oleh rasa suka atau tidak suka.

“Diskusi publik seharusnya menghasilkan pikiran berkualitas. Tapi hari ini, diskusi kita justru terjebak pada persoalan receh. Masyarakat dibuat asal senang, happy sesaat. Kita miskin imajinasi,” katanya.

Menurut Haekal, demokrasi hanya dapat hidup jika dua kanal berjalan bersamaan, yakni kanal koalisi dan kanal oposisi.

“Demokrasi tidak akan berjalan jika hanya satu kanal yang hidup. Oposisi harus tumbuh, terpelihara, dan punya basis intelektual,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keseimbangan antara negara dan masyarakat sipil sangat penting. Negara yang terlalu kuat berpotensi melahirkan otoritarianisme, sementara masyarakat yang terlalu dominan tanpa institusi akan memicu kekacauan.

“Negara harus tumbuh, masyarakat juga harus tumbuh. Kalau hanya kelompok ekonomi yang kuat, maka kapitalisme yang akan menyerap semuanya,” bebernya.

Menanggapi kondisi Sumatera Selatan, Haekal menilai parlemen di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi masih lemah. Oposisi tidak berjalan, dan hampir tidak ada perda inisiatif yang lahir dari pemikiran legislator.

“Yang ada justru bagaimana menyiasati efisiensi anggaran, memanfaatkan pokok-pokok pikiran (pokir), dan mencari profit. Ini melemahkan institusi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa institusi yang kuat hanya bisa dibangun melalui ideologi dan pemikiran yang kuat, bukan semata karena uang atau kendaraan partai.

Sementara itu, terkait kondisi politik nasional, Haekal menyebut Indonesia saat ini berada dalam cengkeraman oligarki politik dan oligarki ekonomi. Ia juga menyoroti wacana pemilihan kepala daerah melalui DPR yang dinilainya sebagai bentuk kemunduran demokrasi.

“Dalam demokrasi, kebebasan publik seharusnya luas dan elit dibatasi. Faktanya hari ini kebebasan publik hanya sebatas pemilu, sementara elit justru semakin bebas. Ini adalah arus balik demokrasi,” tegasnya.

Ketua Umum DPP Gencar, Charma Afrianto, SE, dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasinya terhadap buku karya Haekal Al Haffah. Menurutnya, buku tersebut menawarkan perspektif kritis dan reflektif tentang demokrasi dan kepemimpinan politik.

“Buku ini sangat unik dan luar biasa. Ini adalah hasil pemikiran yang jernih tentang demokrasi dan kepemimpinan agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mudah-mudahan ke depan akan lahir karya-karya kritis lainnya,” pungkas Charma.

Tags: Buku Monolog
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kilang Pertamina Plaju Dukung Kesiapan Infrastruktur Proyek DME

Next Post

Proyek Gudang PT Sriwijaya Ban Diduga Langgar Hak Pekerja, Karyawan Tanpa APD dan Tak Terdaftar BPJS

YN

Info Terkait

No Content Available

Berita Terbaru

Gubernur Sumsel Herman Deru : Forum Komite Sekolah Sumsel Diharapkan Jadi Role Model Nasional

Hari Pendidikan Nasional: Kilang Plaju Dukung Pendidikan Bermutu untuk Masa Depan Gemilang

Sejumlah Aksi Rusak Fasilitas Kota, Dari Lampu Lalu Lintas Hingga Jaringan Fiber Optic

Mengejutkan! Diduga seorang Advokat di Sumsel Menggunakan Ijazah Palsu

Polda Jabar Tangkap Sejumlah Pelaku Kericuhan May Day 2026 di Kota Bandung

Satgas TMMD Dan Warga Mendorong Mobil Matrial Terjebak di Lumpur

Istimewa! Peringati Hari Pendidikan, SD Plumbungan IV, TNI jadi Irup

DPRD Kota Palembang Komisi IV Siap Kawal Seleksi Capim BAZNAS Kota Palembang Sampai Tuntas

Dukung Ketahanan Pangan Trenggalek, Proyek Bendungan Bagong Targetkan Selesai Tepat Waktu

Berita Populer

Reses Dapil II DPRD Palembang: Mie Gacoan Dinilai Bantu Kurangi Pengangguran di Alang-Alang Lebar

Reses Dapil II DPRD Palembang: Mie Gacoan Dinilai Bantu Kurangi Pengangguran di Alang-Alang Lebar
Reporter YN
24 April 2026

Palembang. Lamanqu. Com Dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat secara langsung, anggota DPRD Kota Palembang dari Daerah Pemilihan (Dapil) II yang...

Read more

Pasca-Kecelakaan di Bekasi, Kemenhub Prioritaskan 10 Titik Perlintasan Sebidang

penertiban perlintasan sebidang
Reporter lian
1 Mei 2026

LamanQu.Com - Kemenhub bersama PT KAI mempercepat penertiban perlintasan sebidang di seluruh wilayah. Selain itu, langkah ini bertujuan meningkatkan keselamatan...

Read more

Pacu Ekonomi Daerah, Wamendagri Tekankan Sinergi Pusat dan Daerah untuk Anggaran Rasional

efisiensi anggaran
Reporter lian
29 April 2026

LamanQu.Com - Wamendagri Bima Arya menekankan efisiensi anggaran dan sinergi pusat-daerah. Selain itu, hal tersebut menjadi kunci utama ekonomi daerah....

Read more

Respons Kesimpangsiuran Informasi, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tegaskan Jalan Diponegoro Tidak Ditutup

Jalan Diponegoro Tidak Ditutup
Reporter lian
30 April 2026

LamanQu.Com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan plang penutupan Jalan Diponegoro Bandung tidak sah. Selain itu, akses jalan tersebut...

Read more

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

  • Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In