• Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
lamanqu.com
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
No Result
View All Result
lamanqu.com
No Result
View All Result
danau ranau, oku selatan banner pemkab muba
ADVERTISEMENT
Home Opini

Menjinakkan Ambisi di Titik Nadir: Menanti Wasit di Papan Catur Global

Reporter lian
17 Januari 2026
Zona Ekonomi Hijau Terbuka
Bagikan ke Whatsapp

Oleh: Ki Edi Susilo
Esais dan Sekretaris Jenderal Himpunan Keluarga Tamansiswa Indonesia (HIMPKA Tamansiswa)


Palembang, LamanQu.Com – ​Dunia seharusnya tak lagi menunda sebuah konsensus besar, mendorong lahirnya traktat baru yang menetapkan wilayah Arktik sebagai “Zona Ekonomi Hijau Terbuka” di bawah pengawasan PBB. Gagasan ini bukan sekadar romantisasi perdamaian, melainkan nilai kebijaksanaan tinggi untuk menjaga jantung bumi. Data ilmiah UNFCCC 2024 menunjukkan bahwa Arktik memanas tiga kali lebih cepat dibanding wilayah lain di planet ini. Menjadikan Greenland sebagai pangkalan militer NATO, yang diperkirakan bakal menyedot belanja pertahanan hingga 2-2,4% PDB negara-negara Nordik pada 2026—hanya akan mempercepat retaknya es dan nalar kemanusiaan. Arktik harus menjadi laboratorium transisi energi, bukan arena pacuan senjata.

​Namun, kenyataannya pahit. Para pemimpin dunia tampak masih keras kepala, memeluk erat pola pikir usang abad ke-20—di mana kedaulatan diukur dari moncong meriam dan penguasaan fisik wilayah—untuk menyelesaikan sengkarut tahun 2026. Laporan Global Risks 2026 dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) dengan gamblang menempatkan “konfrontasi geo-ekonomi” sebagai risiko global nomor satu, melampaui perubahan iklim dan polarisasi sosial. Jika logika usang ini terus dipaksakan untuk membedah realitas baru yang makin kompleks, kita sejatinya hanya sedang menghitung mundur hingga papan catur geopolitik ini terbalik. Dan dalam permainan brutal ini, tak akan ada pemenang; semua pemain akan tumbang oleh ambisinya sendiri.

​Lihatlah betapa riuhnya blokade teknologi China yang baru saja melarang penggunaan perangkat lunak keamanan dari belasan perusahaan AS dan Israel per Januari 2026, atau manuver Washington yang mulai mengeruk keuntungan hingga US$ 500 juta dari penjualan minyak Venezuela di minggu-minggu pertama tahun ini. Di tengah kebisingan itu, kita patut bertanya dengan nada getir: di mana posisi Indonesia?

​Sejauh ini, sikap Jakarta masih tampak seperti meniti buih di tengah samudera yang bergejolak. Pemerintah seolah mempraktikkan “diplomasi senyap” yang saking senyapnya, nyaris sulit dibaca arahnya. Indonesia terjepit dalam dilema akut: ketergantungan pada rantai pasok teknologi dan investasi China di satu sisi, dan keterikatan pada sistem finansial serta stabilitas moneter yang didominasi Washington di sisi lain. Sikap mendua atau sekadar “main aman” tak lagi memadai di tahun 2026, ketika fragmentasi perdagangan dunia diprediksi akan menggerus pertumbuhan ekonomi global hingga ke level 2,7%.

​Maka, sudah saatnya Indonesia mengambil peran sebagai “The Great Mediator”. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi kendaraan taktis atau penonton saat terminal internet dikirim sebagai senjata diplomasi ke Iran. Indonesia harus berani menyuarakan bahwa keamanan global bukan soal siapa yang paling banyak menumpuk tentara di kutub, melainkan siapa yang paling gigih menjaga keadilan distribusi sumber daya.

​Kita harus menyarankan agar pemerintah tidak lagi hanya duduk manis dalam kerangka non-blok yang pasif. Indonesia harus mempelopori gerakan negara-negara menengah (middle powers) untuk menolak militerisasi area vital seperti Arktik dan ruang siber. Inilah saatnya diplomasi kita tampil mencerdaskan, mengingatkan dunia, melalui semangat kebangsaan yang inklusif. Bahwa di atas kepentingan nasional setiap negara, ada kepentingan planet yang jauh lebih mendesak untuk diselamatkan.

​Jangan sampai sejarah mencatat bahwa saat dunia sedang menuju kehancuran di tahun 2026, kita hanya sibuk menghitung investasi sambil berharap badai tak mampir ke halaman rumah sendiri.

Tags: Data Ilmiah UNFCCCThe Great MediatorZona Ekonomi Hijau Terbuka
ADVERTISEMENT
Previous Post

Festival Tring Pegadaian Ramaikan Palembang Icon, Investasi Emas Kini Bisa Mulai Rp 10 Ribu

Next Post

Dimulai dari Hal Sederhana, Kilang Pertamina Plaju Perkuat Budaya Operasi Aman

lian

Info Terkait

No Content Available

Berita Terbaru

Ekonomi Tumbuh 5,76 Persen, Wali Kota Bandung Dorong Koperasi jadi Penggerak Pemerataan

Kolaborasi Strategis Disnakertrans Muba dan PT AMS: Buka Lowongan Kerja 22 Posisi, Bupati Tegaskan Prioritas Warga Ber-KTP Muba Sesuai Perda No. 2 Tahun 2020

DPRD Sumsel Tetapkan 7 Komisioner KPID Periode 2026–2029, Tinggal Menunggu Pelantikan

Perkuat Keandalan Operasi di Era Digital, Kilang Plaju Tingkatkan Kompetensi Pekerja

Borong 5 Penghargaan HR Asia 2026, Pegadaian Kembali Raih Best Company to Work For in Asia

Polsri Gelar Ujian Seleksi Mandiri Konsorsium Politeknik Negeri 2026, Diikuti 2.362 Peserta

Bawa Segudang Prestasi, Ria Wilastri Siap Wujudkan Inovasi Pendidikan di SMAN 5 Palembang

Dilantik Jadi Kepala SMA Negeri 17 Palembang, Rozali Siap Jalankan Amanah Baru

NasDem Sumsel Luruskan Status Edison: Bukan Kader, Murni Birokrat yang Diusung Bersama PDIP dan Golkar

Berita Populer

Kesederhanaan Wagub Cik Ujang Bikin Salfok, Ikut Masak di Dapur Warga

Kesederhanaan Wagub Cik Ujang Bikin Salfok, Ikut Masak di Dapur Warga
Reporter YN
31 Mei 2026

LAHAT,LamanQu.Com-Di balik gagah pakaian dinas Wakil Gubernur Sumatera Selatan, sosok Cik Ujang kembali menampakkan kesederhanaannya saat pulang ke kampung halaman....

Read more

Ayu Nur Suri: Keselamatan Publik Harus Jadi Prioritas Utama Setiap Aktivitas Usaha

Ayu Nur Suri: Keselamatan Publik Harus Jadi Prioritas Utama Setiap Aktivitas Usaha
Reporter YN
1 Juni 2026

PALEMBANG,LamanQu.Com-Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Palembang, Ayu Nur Suri, SE., MM,...

Read more

Sebanyak 22 Warga Binaan di Lapas dan Rutan Sumsel Dapat Remisi Khusus Waisak 2026

Sebanyak 22 Warga Binaan di Lapas dan Rutan Sumsel Dapat Remisi Khusus Waisak 2026
Reporter YN
31 Mei 2026

Palembang,LamanQu.Com-Dalam rangka memperingati Hari Raya Waisak Tahun 2026, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sumatera Selatan memberikan Remisi Khusus (RK)...

Read more

Pemuda ICMI Sumsel Sembelih 1 Sapi dan 2 Kambing, Daging Kurban Dibagikan ke Masyarakat

Pemuda ICMI Sumsel Sembelih 1 Sapi dan 2 Kambing, Daging Kurban Dibagikan ke Masyarakat
Reporter YN
29 Mei 2026

Palembang,LamanQu. Com-Idul Adha 1447 H / 2026 Ini di rayakan Dengan suka cita oleh masyarakat luas. Dalam momentum Idul Adha...

Read more

© 2026 DIgital Media Sriwijaya

  • Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi

© 2026 DIgital Media Sriwijaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In