PALEMBANG,LamanQu.com– Upacara penutupan TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang di Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Kamis (13/8/2026), menandai berakhirnya satu bulan kegiatan pembangunan yang melibatkan TNI bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
Namun, berakhirnya TMMD bukan sekadar tanda selesainya pekerjaan fisik. Ada sesuatu yang diharapkan tetap tinggal setelah personel Satgas meninggalkan lokasi, yakni semangat kebersamaan dan gotong royong yang selama sebulan tumbuh di tengah masyarakat.
Selama pelaksanaan TMMD, sejumlah sasaran pembangunan telah diselesaikan dan dinyatakan mencapai 100 persen. Salah satunya pembangunan jalan sepanjang sekitar 750 meter dengan lebar lima meter yang kini menjadi bagian dari akses warga di Talang Jambe.
Jalan tersebut bukan hanya berupa hamparan fisik baru. Bagi masyarakat, keberadaan jalan diharapkan mempermudah mobilitas sehari-hari, memperlancar akses menuju permukiman dan mendukung aktivitas ekonomi warga.
Selain jalan, Satgas TMMD juga menyelesaikan rehabilitasi lima unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Rumah yang sebelumnya berada dalam kondisi kurang layak kini telah diperbaiki sehingga menjadi hunian yang lebih nyaman dan aman bagi keluarga penerima manfaat.
Pembangunan fasilitas air bersih melalui sumur bor juga menjadi salah satu sasaran yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Sejumlah sumur bor dibangun di lokasi yang membutuhkan dukungan akses air, termasuk fasilitas ibadah dan lingkungan pendidikan keagamaan.
Fasilitas umum lainnya juga menjadi bagian dari sasaran TMMD, seperti pembangunan dan rehabilitasi tempat ibadah, poskamling, fasilitas sanitasi, serta jembatan yang mendukung aktivitas warga.
Di balik berbagai bangunan tersebut, terdapat proses yang tidak kalah penting. Selama satu bulan, prajurit TNI bekerja berdampingan dengan masyarakat.
Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang Kolonel Arh. Erik Novianto, S.Sos., mengatakan keberhasilan TMMD tidak semata-mata diukur dari jumlah sasaran fisik yang berhasil diselesaikan.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Selama pelaksanaan TMMD, masyarakat ikut terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk gotong royong,” kata Erik.
Keterlibatan tersebut menjadi salah satu ukuran penting bagi Satgas. Sebab, sejak awal TMMD memang tidak dirancang sebagai pembangunan yang hanya dikerjakan oleh TNI.
Masyarakat menjadi bagian dari proses. Mereka ikut membantu pekerjaan, bergotong royong, berinteraksi dengan prajurit, sekaligus mengikuti berbagai kegiatan yang disiapkan selama program berlangsung.
Pertemuan antara prajurit dan masyarakat itu pula yang membuat TMMD tidak hanya meninggalkan hasil pembangunan secara fisik.
Ada hubungan sosial yang terbangun. Ada kepedulian terhadap lingkungan. Ada kebiasaan bekerja bersama yang kembali diperkuat melalui berbagai kegiatan di lapangan.
Selain sasaran fisik, TMMD ke-129 juga diisi dengan berbagai kegiatan nonfisik. Penyuluhan hukum, bela negara, pelayanan kesehatan, Posyandu dan keluarga berencana menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang menyasar kebutuhan masyarakat.
Program lingkungan dan ketahanan pangan turut dilakukan. Satgas bersama masyarakat menjalankan kegiatan penanaman 500 pohon serta mendukung ketahanan pangan melalui pemberian bibit dan pupuk kepada petani.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan dalam TMMD tidak berhenti pada membangun jalan, memperbaiki rumah atau membuat sumur.
Pembangunan juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, kesehatan, kepedulian lingkungan dan kemandirian masyarakat.
Saat upacara penutupan, Kasdam II/Sriwijaya Brigjen TNI Iwan Ma’ruf Zainudin membacakan amanat Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A.
Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa kekuatan utama TMMD berada pada kebersamaan antara TNI, pemerintah dan masyarakat.
“Ini merupakan bukti nyata gotong royong yang menjadi ruh bangsa kita,” demikian amanat Pangdam.
Pesan tersebut menjadi penting karena keberhasilan sebuah program pembangunan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh proses pengerjaan, tetapi juga oleh bagaimana hasilnya dipelihara setelah program selesai.
Karena itu, masyarakat diminta menjaga berbagai hasil pembangunan yang telah dikerjakan selama TMMD.
“Infrastruktur yang sudah dibangun agar dipelihara, dijaga dan dirawat sehingga dapat dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang,” pesan Pangdam.
Kini, setelah upacara penutupan selesai, personel Satgas TMMD akan kembali melanjutkan tugas masing-masing. Aktivitas di lokasi TMMD perlahan kembali menjadi rutinitas masyarakat Talang Jambe.
Namun, jejak selama satu bulan itu tidak ikut pergi.
Jalan sepanjang 750 meter tetap membentang dan akan dilalui warga. Rumah-rumah yang telah direhabilitasi tetap menjadi tempat keluarga menjalani kehidupan. Sumur bor tetap menyediakan akses air. Tempat ibadah, poskamling dan fasilitas umum lainnya tetap digunakan.
Lebih dari itu, pengalaman bekerja bersama selama satu bulan menjadi bagian yang tidak terlihat secara fisik, tetapi justru menjadi salah satu warisan penting TMMD.
Sebab, pembangunan dapat selesai ketika target telah mencapai 100 persen. Tetapi semangat gotong royong tidak seharusnya memiliki batas waktu.
Ketika personel Satgas meninggalkan Talang Jambe, harapannya bukan hanya hasil pembangunan yang tetap terawat, melainkan juga kebiasaan masyarakat untuk terus saling membantu dan bekerja bersama.
Dengan demikian, penutupan TMMD ke-129 bukan benar-benar menjadi akhir. Ia menjadi awal bagi masyarakat untuk menjaga, memanfaatkan dan mengembangkan apa yang telah dibangun bersama.
Satu bulan TMMD boleh berakhir. Namun, jalan yang dibangun, rumah yang diperbaiki, air yang dialirkan dan semangat gotong royong yang tumbuh di tengah masyarakat diharapkan terus menjadi bagian dari kehidupan warga Talang Jambe.
(Yanti)










