Palembang, LamanQu.Com – Minggu pagi (26/7/2026) biasanya menjadi waktu bagi warga RT 26 RW 05, Jalan Pertanian, Perumahan Griya Sinar Rose, Kelurahan Talang Jambe, Kota Palembang, menikmati suasana santai bersama keluarga. Sebagian menyapu halaman, ada yang duduk di teras rumah, sementara anak-anak mulai bermain di jalan lingkungan.
Namun, pagi itu menghadirkan pemandangan yang berbeda.Puluhan prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0418/Palembang justru memilih memulai aktivitas mereka dari tempat yang mungkin dihindari banyak orang.
Mengenakan seragam loreng, mereka turun langsung ke dalam saluran drainase yang dipenuhi endapan lumpur, rumput liar, serta tumpukan sampah yang menghambat aliran air.
Tak ada raut enggan di wajah mereka. Dengan cangkul, sekop, dan karung, satu per satu lumpur diangkat. Sampah yang bertahun-tahun mengendap dikumpulkan, sementara rumput liar dibersihkan hingga drainase kembali terlihat.
Beberapa orang yang semula hanya menyaksikan dari depan rumah mulai mendekat. Mereka memperhatikan bagaimana para prajurit bekerja tanpa canggung, meski harus berlumur lumpur dan terkena percikan air kotor.
Melihat hal tersebut, warga mengambil sekop, cangkul, hingga karung bekas. Tanpa ada komando panjang, gotong royong pun tumbuh dengan sendirinya.
Suasana yang awalnya hanya diisi suara gesekan cangkul kini berubah menjadi pemandangan penuh keakraban.
TNI dan warga bekerja berdampingan, saling membantu mengangkat lumpur, membersihkan sampah, dan memperlancar saluran air.
Di sela-sela kegiatan itu terdengar tawa ringan, obrolan hangat, hingga candaan yang membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan.
“Saya salut melihat bapak-bapak TNI tidak gengsi turun ke selokan. Melihat mereka bekerja dengan semangat, kami malu kalau hanya berdiri menonton. Akhirnya kami ikut membantu agar lingkungan kami menjadi bersih,” tutur Agus, salah seorang warga, sambil tetap memegang cangkul.
Bagi Agus, yang paling membekas bukan hanya hasil pekerjaan tersebut, melainkan keteladanan yang diperlihatkan para prajurit.
Menurutnya, kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan program pembangunan, tetapi juga menunjukkan bahwa pengabdian dapat diwujudkan melalui pekerjaan sederhana yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan.

Di sisi lain, Babinsa Talang Jambe, Serma Mulyadi Zaki, mengatakan bahwa kegiatan gotong royong merupakan bagian dari semangat TMMD yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antara TNI dan masyarakat.
“Gotong royong pagi ini kami laksanakan dengan membersihkan selokan di RT 26 RW 05. Kami ingin hadir bersama masyarakat, tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menumbuhkan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, drainase yang bersih memiliki manfaat besar bagi kehidupan warga. Aliran air menjadi lancar sehingga dapat mengurangi risiko banjir saat hujan turun, sekaligus mencegah munculnya berbagai penyakit yang bersumber dari genangan air dan tumpukan sampah.
Namun, lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana membangun kembali budaya gotong royong yang selama ini mulai berkurang di tengah kesibukan masyarakat perkotaan.
Semangat itu tampak nyata sepanjang kegiatan berlangsung. Tidak ada lagi batas antara prajurit dan warga. Semua larut dalam pekerjaan yang sama, saling menyemangati dan saling membantu hingga pekerjaan selesai.
Pemandangan seperti inilah yang menjadi ruh dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).
Program ini bukan hanya menghadirkan jalan baru, sumur bor, rumah layak huni, maupun fasilitas umum lainnya. TMMD juga menghadirkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan semangat untuk membangun kampung secara bersama-sama.
Dansatgas TMMD Ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., mengatakan bahwa keberhasilan TMMD tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari tumbuhnya partisipasi masyarakat.
“TMMD bukan hanya membangun jalan, rumah, atau fasilitas umum. Yang tidak kalah penting adalah membangun kepedulian sosial. Ketika masyarakat dan TNI bekerja bersama, di situlah kemanunggalan benar-benar terwujud,” tegasnya.
Pernyataan tersebut seolah tergambar jelas di lokasi gotong royong pagi itu.
Menjelang siang, wajah drainase berubah total. Lumpur yang sebelumnya memenuhi saluran telah diangkat. Sampah-sampah dikumpulkan dalam karung untuk kemudian dibuang ke tempat semestinya. Air pun kembali mengalir dengan lancar tanpa hambatan.
Namun, perubahan terbesar sesungguhnya bukan hanya pada saluran air yang kembali bersih.
Yang tumbuh pagi itu adalah rasa memiliki terhadap lingkungan. Warga menyadari bahwa kebersihan bukan semata tugas pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama.
Anak-anak yang melihat orang tua mereka bergotong royong ikut belajar tentang arti kepedulian. Para orang tua kembali merasakan hangatnya bekerja bersama tetangga. Sementara para prajurit TNI menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dilakukan melalui tugas-tugas besar, tetapi juga lewat tindakan sederhana yang mampu menggerakkan hati banyak orang.
Di sudut kecil Talang Jambe, sebuah selokan menjadi saksi bahwa keteladanan masih memiliki kekuatan yang luar biasa.
Ketika prajurit rela menginjak lumpur tanpa memikirkan seragam yang kotor, masyarakat pun tergerak meninggalkan kenyamanan di rumah untuk ikut bekerja.
Dari sebuah saluran drainase yang kini kembali bersih, lahirlah harapan baru bahwa budaya gotong royong, yang menjadi jati diri bangsa Indonesia, tetap hidup dan akan terus diwariskan.
Karena sejatinya, pembangunan tidak hanya dibangun dengan semen dan batu. Pembangunan juga lahir dari kepedulian, keteladanan, dan kebersamaan. Dan pagi itu, semua nilai itu tumbuh dari sebuah selokan di Talang Jambe.
(Yanti)










