Palembang,LamanQu.Com-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru, S.H., M.M dengan didampingi Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Sumsel Dr Darmayanti, S.E., M.M menghadiri kegiatan Sriwijaya Economic Forum, kerjasama Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sumsel dengan Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sumsel, Selasa (3/11/2026).
Adapun tema kegiatan ini sendiri yakni “Advancing Value Added Devel Developmentc Throuch Synergy To Strengithen South Sumatera’s Food and Energy Security” dimana kegiatan ini dipusatkan di Grandballroom Hotel Arya Duta Palembang.
Turut hadir didalam kegiatan ini Kepala DPMPTSP Provinsi Sumsel, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumsel, Kepala Biro Perekononian Setda Provinsi Sumsel, Kepala BI Kantor Wilayah Perwakilan Provinsi Sumsel, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumsel, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel, serta undangan lainnya.
Dikatakan Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru, S.H., M.M, investasi yang masuk ke Sumsel harus mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah melalui penguatan hilirisasi.
Sumsel tidak boleh terus bergantung pada penjualan komoditas mentah, tetapi harus mulai memperkuat industri pengolahan agar kekayaan sumber daya alam (sda) mampu memberikan manfaat ekonomi lebih besar, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Penyelenggaraan Sriwijaya Ekonomi Forum untuk ketiga kalinya menunjukkan konsistensi sinergi antara BI, Pemprov Sumsel, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat ekosistem investasi sekaligus merumuskan arah kebijakan pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya.
Kemudian, Pemprov Sumsel bersama Kantor BI Perwakilan Provinsi Sumsel memperkuat sinergi untuk mengakselerasi transformasi ekonomi daerah dari ketergantungan bahan mentah menuju industri bernilai tambah.
Bahwa forum tahunan ini menjadi langkah strategis Task Force percepatan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang resilien dan berkelanjutan ditengah ketidakpastian geopolitik global dan tantangan iklim.
“Kinerja ekonomi Sumsel pada Triwulan II tahun 2026 tumbuh kuat sebesar 5,20 persen (%) year on year (yoy), melampaui rata-rata regional Sumatera yang tercatat 5,06% (yoy),” ungkapnya.
Dilanjutkannya, namun, struktur ekonomi kita masih bertumpu pada komoditas mentah batu bara dan kelapa sawit. Untuk mencapai target RPJMD sebesar 8% pada tahun 2030 serta mendukung Visi Indonesia EMAS 2045, kota wajib menghadirkan mesin pertumbuhan baru melalui hilirisasi.
Pemprov Sumsel telah menyiapkan karpet merah bagi para investor melalui kepastian hukuk dam regulasi penanaman moda, penyederhanaan perizinan berbasis resiko (OSS), hingga penyusunan dokumen investment project ready to offer (PRO).
“Beberapa komoditas unggulan yang siap diakselerasi nilai tambahnya meliputi kopi robusta, kelapa, perikanan, dan peternakan,” katanya.
Menurut Kepala DPMPTSP Sumsel H Lusapta Yudha Kurnia, S.E., M.M, kegiatan ini dihadiri Ammasador Of the people’s Republic of Bangladesh to Indonesia Mr MD Abdul Hasan Mridha, Deputy Head Of Mission-Embasy Of Tunisia Mr Daniel Dobrev, Kepala Kantor Wilayah BI Perwakilan Sumsel Bambang Pramono, Wakil Bupati Banyuasin Ir Netta Indian, S.P., M.M, Direktur Pengembangan Promosi Investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI Rahmat Yulianto, dan masih banyak lainnya.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan stakeholder mengenai kondisi dan prospek perekonomian Sumsel, mendiskusikan berbagai isu dan arah kebijakan investasi dan mengakselerasi promosi investasi di provinsi Sumsel dalam mendukung penguatan perekonomian daerah.
“Kehadiran DPMPTSP Provinsi Sumsel dalam forum strategis ini merupakan wujud komitmen dan sinergi bersama BI serta seluruh stakeholders dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan iklim investasi,” ucapnya.
Begitu juga disampaikan Kepala BI Kantor Wilayah Perwakilan Sumsel Bambang Pramono, di mana empat proyek tersebut mencakup pengolahan kelapa, ikan patin, peternakan sapi potong, dan budidaya udang vaname. Dan kami mendorong hilirisasi komoditas unggulan agrobisnis.
Ada kelapa, ikan patin, sapi potong, dan udang vaname agar komoditas ini tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk yang bernilai tambah bagi Sumsel.
“Disini saya jua menjelaskan proyek pertama berupa industri pengolahan kelapa di Kabupaten Banyuasin dengan nilai investasi 7,16 juta dolar AS. Proyek tersebut memanfaatkan potensi produksi kelapa Banyuasin yang mencapai 47.456 ton pada 2025,” imbuhnya.
Ditambahkannya, pengolahan diarahkan untuk menghasilkan produk berupa virgin coconut oil (VCO) dan briket arang dengan target produksi VCO mencapai 1,8 juta liter per tahun.
Proyek kedua berupa pengolahan ikan patin terintegrasi di Kabupaten Ogan Ilir dengan nilai investasi 7,8 juta dolar AS. OI merupakan salah satu sentra produksi ikan patin di Sumsel dengan produksi mencapai 4.865 ton pada 2024 atau meningkat 51 persen dibandingkan 2020.
“Peluang investasi tersebut mencakup integrasi pengolahan ikan, penyediaan pakan, hingga produksi filet beku dalam satu kawasan untuk memenuhi kebutuhan pasar makanan beku (frozen food) yang diperkirakan tumbuh hampir tujuh persen per tahun,” bebernya.
(rilis)










