PALEMBANG,LaamanQu.Com-Sejak pagi, halaman Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang, dipenuhi prajurit TNI, pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat, dan warga. Kamis (13/8/2026), tempat itu menjadi saksi berakhirnya satu bulan pengabdian melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0418/Palembang.
Upacara penutupan dihadiri Kepala Staf Kodam (Kasdam) II/Sriwijaya Brigjen TNI Iwan Ma’ruf Zainudin, S.E., M.M., yang mewakili Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A. Hadir pula Komandan Kodim 0418/Palembang sekaligus Dansatgas TMMD ke-129 Kolonel Arh. Erik Novianto, S.Sos., unsur Forkopimda, toko masyarakat serta tamu undangan lainnya.
TMMD ke-129 dibuka pada 15 Juli 2026 dan berlangsung hingga 13 Agustus 2026. Selama satu bulan, prajurit TNI bersama Polri, pemerintah daerah dan masyarakat mengerjakan berbagai sasaran pembangunan di Talang Jambe dan wilayah sekitarnya.

Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang Kolonel Arh. Erik Novianto mengatakan seluruh sasaran yang telah ditetapkan berhasil diselesaikan sesuai target.
“TMMD ke-129 ini memiliki tiga sasaran utama, yakni sasaran fisik, sasaran nonfisik dan sasaran tambahan. Alhamdulillah, seluruh sasaran yang kita kerjakan sudah selesai 100 persen,” kata Erik.
Secara keseluruhan terdapat 14 sasaran utama dalam program tersebut. Sasaran itu meliputi pembangunan jalan sepanjang 750 meter, pembuatan parit dan gorong-gorong, pembangunan sumur bor di Pondok Pesantren Minhajul Aulia, pembangunan poskamling, rehabilitasi RTLH dan MCK rumah Suwarni, Sumilah, Karyo dan Fernando, pembangunan sumur bor Rumah Tahfidz Al Fatihah, sumur bor Mushola Al Mufakat, rehabilitasi Mushola Baitul Magfurin, sumur bor Mushola Hidayatullah, sumur bor Kampung Kreatif Pelangi serta bedah rumah RTLH Sriyanti.
“Pembangunan jalan 750 meter, pembuatan parit dan enam titik gorong-gorong semuanya sudah selesai. Kita berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan dan dirawat bersama oleh masyarakat,” ujar Erik.

Selain pembangunan jalan, Satgas juga menyelesaikan rehabilitasi lima unit RTLH, rehabilitasi mushola, pembangunan poskamling dan pembangunan lima sumur bor.
Menurut Erik, seluruh sasaran tersebut disusun berdasarkan pemetaan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan TMMD tidak hanya dilihat dari berdirinya bangunan atau selesainya jalan, tetapi dari sejauh mana hasil pembangunan tersebut digunakan dan dirasakan warga.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Selama pelaksanaan TMMD, masyarakat ikut terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk gotong royong. Ini menunjukkan bahwa program TMMD memang mendapat dukungan dan diterima dengan baik oleh masyarakat,” katanya.
Tidak hanya membangun fisik
Selama satu bulan pelaksanaan, TMMD ke-129 juga menjalankan berbagai kegiatan nonfisik.
Kegiatan tersebut meliputi penyuluhan bela negara, penyuluhan hukum, pelayanan kesehatan, pelayanan keluarga berencana, Posyandu dan berbagai kegiatan edukasi.
Sejumlah program tambahan juga dilakukan, antara lain penanaman 500 pohon, program ketahanan pangan terpadu melalui pemberian bibit dan pupuk kepada petani, gotong royong, pembagian sembako, bakti sosial donor darah, pelayanan kesehatan gratis dan pelayanan pemasangan KB gratis.
“Seluruh kegiatan tambahan juga berjalan dengan baik. Harapannya, apa yang sudah dilakukan selama TMMD tidak berhenti ketika program ini ditutup, tetapi terus dilanjutkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah,” kata Erik.
Ia menegaskan bahwa TMMD bukan sekadar membangun sarana dan prasarana.
“Bersama rakyat TNI kuat, dan pembangunan semakin maju. TMMD ke-129 mengabdi untuk negeri, membangun bersama rakyat,” ujarnya.
Gotong royong setelah upacara penutupan.
Dalam amanat Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis yang dibacakan Kasdam II/Sriwijaya Brigjen TNI Iwan Ma’ruf Zainudin, ditegaskan bahwa TMMD merupakan program lintas sektoral yang melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat.
Program tersebut menjadi bentuk sinergi berbagai unsur untuk membantu pemerintah daerah mempercepat pembangunan, khususnya infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Program TMMD ke-129 Tahun Anggaran 2026 merupakan program lintas sektoral yang melibatkan Polri, pemerintah daerah dan masyarakat setempat. TMMD membantu pemerintah daerah mempercepat akselerasi pembangunan infrastruktur jalan dan infrastruktur lainnya, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat,” demikian amanat Pangdam.
Pangdam juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Palembang, Forkopimda dan masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan TMMD di Kelurahan Talang Jambe.
Menurut dia, dukungan tersebut menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan penting dalam pembangunan.
“Ini merupakan bukti nyata gotong royong yang menjadi ruh bangsa kita. Dengan kebersamaan selama satu bulan, apabila kita bersatu, tidak ada tantangan pembangunan yang tidak dapat diselesaikan,” katanya.
Pangdam meminta masyarakat bersama pemerintah daerah menjaga dan merawat hasil pembangunan yang telah dikerjakan Satgas TMMD.
“Infrastruktur yang sudah dibangun agar dipelihara, dijaga dan dirawat sehingga dapat dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Demikian juga kemanunggalan TNI dengan rakyat dan semangat gotong royong harus terus dijaga,” pesannya.
Evaluasi terhadap pelaksanaan TMMD juga akan dilakukan sebagai bahan perbaikan untuk program berikutnya.
“Kita akan melakukan evaluasi secara menyeluruh agar ke depan pelaksanaan TMMD dapat menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.
Bagi warga, penutupan TMMD bukan sekadar seremoni. Ada jalan yang kini lebih mudah dilalui, rumah yang berubah menjadi lebih layak, serta air bersih yang untuk pertama kalinya dapat dinikmati tanpa harus selalu membeli.
Salah satunya dirasakan Siswanto, warga RT 10 Kelurahan Talang Jambe. Ia masih mengingat kondisi Jalan Rawa Jaya sebelum dibangun melalui program TMMD.
“Jalan 750 neter masih berupa jalan tanah. Kalau hujan becek dan licin sehingga sangat sulit dilalui. karena kalau hujan seperti kubangan,” ujar Siswanto.
Melalui TMMD, jalan tersebut dibangun sepanjang sekitar 750 meter dengan lebar lima meter. Pembangunan juga dilengkapi saluran drainase atau parit serta enam titik gorong-gorong.

Bagi Siswanto, jalan itu bukan sekadar hamparan infrastruktur baru. Jalan tersebut menghubungkan RT 10 dengan RT 03, RT 04 dan RT 23. Akses itu juga menuju Jalan Mataram dan Jalan Sugi Waras yang setiap hari digunakan warga untuk bekerja, bersekolah dan menjalankan aktivitas lainnya.
“Sekarang jalan ini mulai bisa berfungsi dengan baik. Sebelumnya memang susah dilalui. Kami sangat bersyukur karena akhirnya pembangunan ini bisa terlaksana,” katanya.
Keberadaan Pondok Pesantren Minhajul Aulia di kawasan tersebut membuat perbaikan akses semakin berarti. Mobilitas santri, pengelola pondok dan masyarakat diharapkan menjadi lebih mudah.
“Kami sangat bersyukur mendapatkan bantuan dari TMMD Kodim 0418/Palembang. Mudah-mudahan dengan jalan yang lebih baik, akses menuju Pondok Pesantren Minhajul Aulia juga semakin lancar dan kawasan ini semakin berkembang,” ujar Siswanto.
Cerita lain datang dari Sriyanti, warga penerima manfaat rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Selama puluhan tahun, Sriyanti tinggal di sebuah gubuk beratap daun rumbia. Sejak 1987, bangunan sederhana itu menjadi tempat ia membesarkan dua anaknya di tengah keterbatasan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sriyanti bekerja sebagai buruh tani dan buruh ternak sapi. Ia membantu menanam dan merawat tanaman milik orang lain. Dia ia bekerja merawat sapi milik warga.
Di samping gubuk tempat tinggalnya, Sriyanti juga membuat kandang sapi.
Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa kandang tersebut suatu hari justru menjadi bagian dari perubahan besar dalam hidupnya.

Rumah Sriyanti menjadi salah satu sasaran rehabilitasi RTLH dalam TMMD ke-129. Kandang sapi dibongkar. Bagian bangunan yang sudah tidak layak diganti dengan konstruksi baru.
Atap rumbia berganti rangka baja. Dinding seadanya berubah menjadi dinding bata yang diplester dan diplamir. Lantai tanah berganti keramik.
Rumah itu kini memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi.
“Saya rasanya sangat senang mendapat bantuan dari TMMD Kodim 0418/Palembang,” kata Sriyanti.
Ia masih mengingat proses ketika kandang sapi miliknya dibongkar.
“Kandang sapi dibongkar dan dibangun rumah baru dari program TMMD Kodim 0418/Palembang. Bangunannya sudah selesai,” ujarnya.
Bagi Sriyanti, rumah baru tersebut bukan hanya bangunan dengan dinding lebih kokoh dan lantai keramik. Rumah itu menjadi tempat baru bagi dirinya dan kedua anaknya untuk menata kehidupan.
“Saya ucapkan beribu terima kasih kepada bapak-bapak dari TNI Kodim 0418/Palembang yang sudah memberi bantuan pembangunan rumah ini,” katanya.

Jika jalan menjadi jawaban atas persoalan akses, bagi warga Kampung Kreatif Pelangi, sumur bor menjadi jawaban atas persoalan air bersih.
Selama bertahun-tahun, sebagian warga mengandalkan bekas galian batu bata yang berubah menjadi genangan air. Airnya keruh, berlumut, bahkan berbau.
Air tersebut tetap digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk memasak dan minum, warga harus membeli air isi ulang.
Kuria, salah seorang warga penerima manfaat sumur bor TMMD, mengatakan kondisi itu selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga. Ia telah menetap di kawasan tersebut sejak 1979.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada air bersih. Terima kasih kepada TMMD Kodim 0418/Palembang. Dulu kami pakai air bekas galian bata, airnya keruh, berlumut, bau, dan kuning,” ujarnya.
Kuria sehari-hari bekerja sebagai buruh upahan pembuat batu bata. Penghasilannya harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membeli air.
“Kalau ada uang bisa beli air galon. Kalau tidak ada uang, ya tidak bisa beli. Sekarang air dari sumur bor ini jernih dan bisa dipakai untuk memasak. Kami benar-benar senang,” katanya.

Bagi warga seperti Kuria, sumur bor tidak sekadar fasilitas fisik. Air bersih berarti pengeluaran rumah tangga yang lebih ringan dan kehidupan yang lebih sehat.
Sumur bor untuk rumah tahfidz dan mushola
Manfaat serupa dirasakan Rumah Tahfidz Al Fatihah Talang Jambe.
Kepala Rumah Tahfidz Al Fatihah, Ustad Ardian Mustaqim, S.Hum., mengatakan lembaga tersebut sebenarnya telah terhubung dengan jaringan PAM. Namun, keterbatasan fasilitas penampungan dan aliran air yang tidak menentu sering mengganggu aktivitas para santri.
Rumah tahfidz yang mulai beroperasi pada Agustus 2025 itu kini memiliki hampir 400 santri.
“Kita mulai beroperasional Agustus 2025. Sudah masuk jaringan PAM, tetapi belum memiliki penampungan air yang memadai. Ditambah lagi air sering tidak hidup, sehingga aktivitas santri sering terganggu,” kata Ardian.
Karena itu, sumur bor yang dibangun melalui TMMD menjadi sangat berarti.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena Rumah Tahfidz Al Fatihah mendapatkan program sumur bor dari Kodim 0418/Palembang. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami. Santri di sini jumlahnya hampir 400 orang,” ujarnya.

Air dari sumur tersebut juga dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar.
“Santri kami sudah bisa menikmati air bersih dari sumur bor program TMMD Kodim 0418/Palembang. Sumur bor ini memiliki banyak manfaat, bukan hanya bagi santri, tetapi juga masyarakat sekitar,” katanya.
Manfaat air bersih juga dirasakan pengurus Mushola Hidayatullah. Sebelum memiliki sumur bor, kebutuhan air mushola harus dipenuhi dengan membeli air.
Kebutuhan itu semakin besar ketika aktivitas keagamaan meningkat, termasuk selama Ramadan.
“Kalau bulan Ramadan, air yang kami beli cepat sekali habis karena ada kegiatan pesantren Ramadan. Banyak anak-anak dan jemaah yang menggunakan air di mushola,” kata Farida.
Dengan adanya sumur bor, pengurus tidak lagi harus mengeluarkan biaya rutin untuk membeli air.
“Kami bersyukur dan berterima kasih sekali kepada TNI. Dengan adanya sumur bor ini kami tidak perlu lagi membeli air untuk mushola,” ujarnya.
Upacara penutupan akhirnya menandai berakhirnya satu bulan kerja bersama di Talang Jambe. Namun, bagi warga seperti Siswanto, Sriyanti, Kuria, Farida dan ratusan santri Rumah Tahfidz Al Fatihah, dan penerima manfaat lainnya dari TMMD justru meninggalkan sesuatu yang akan terus digunakan setelah para prajurit kembali.
Ada jalan yang kini lebih mudah dilalui. Ada rumah yang tidak lagi beratap rumbia. Ada air bersih yang mengalir tanpa harus selalu dibeli.
Dan di antara semua hasil pembangunan itu, ada satu hal yang diharapkan tidak ikut ditutup bersama berakhirnya TMMD semangat gotong royong dan kebersamaan antara TNI, pemerintah dan masyarakat.
(Yanti)










