Palembang,LamanQu.Com-Pada Sabtu (25/7/2026), Ustad Ardian Mustaqim berdiri di halaman Rumah Tahfidz Al Fatihah, Jalan Gotong Royong, Kelurahan Talang Jambe, Palembang.
Pandangannya tak lepas dari sejumlah personel TNI dan warga yang tengah merakit pipa PVC serta memasang mesin air pada sumur bor yang dibangun melalui program TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang.
Suara mesin bor memang telah berhenti beberapa hari sebelumnya. Namun, bagi Ardian, hari itu menjadi salah satu momen yang paling ditunggu.
Pemasangan mesin air menandai bahwa impian panjang memiliki sumber air bersih yang mandiri semakin dekat menjadi kenyataan.
“Kalau melihat prosesnya sampai di tahap ini, rasanya seperti mimpi yang akhirnya terwujud,” ujar Ardian dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Selama bertahun-tahun, kebutuhan air di Rumah Tahfidz Al Fatihah bergantung pada jaringan air bersih yang debitnya tidak selalu stabil. Pada jam-jam tertentu, aliran air sering mengecil, bahkan terkadang berhenti. Kondisi itu cukup menyulitkan aktivitas para santri yang setiap hari belajar, beribadah, sekaligus tinggal di lingkungan rumah tahfidz.
Air menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda. Digunakan untuk berwudu, mandi, mencuci, memasak, hingga menjaga kebersihan lingkungan. Ketika pasokan air terganggu, seluruh aktivitas ikut terdampak.
“Kami sering harus mengatur penggunaan air agar cukup sampai malam. Kalau sedang kecil alirannya, anak-anak harus bergantian. Kadang kami juga menampung air sebanyak mungkin ketika alirannya sedang deras,” tutur Ardian.
Karena itulah, ketika Rumah Tahfidz Al Fatihah ditetapkan menjadi salah satu sasaran pembangunan sumur bor dalam program TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, ia merasa bersyukur.
Baginya, bantuan tersebut bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan jawaban atas kebutuhan yang selama ini dirasakan seluruh penghuni rumah tahfidz.
Pada hari ke-11 pelaksanaan TMMD, pekerjaan difokuskan pada pemasangan mesin air serta perakitan jaringan pipa PVC sebagai bagian dari penyelesaian sistem distribusi air. Tiga personel TNI bersama tiga warga bergotong royong menyelesaikan tahapan tersebut agar sumur bor segera dapat difungsikan.
Ardian mengaku terkesan melihat semangat kebersamaan yang ditunjukkan para personel Satgas TMMD. Sejak awal pembangunan, mereka bekerja tanpa mengenal lelah, berbaur dengan masyarakat, saling membantu, dan menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan secara bergotong royong.
“Yang kami lihat bukan hanya TNI yang sedang membangun sumur. Kami melihat ada kepedulian yang benar-benar hadir di tengah masyarakat. Mereka bekerja bersama warga, saling membantu, sehingga hubungan yang terjalin terasa sangat dekat,” katanya.
Ia berharap, setelah seluruh proses selesai, sumur bor tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang, bukan hanya bagi ratusan santri yang belajar di Rumah Tahfidz Al Fatihah, tetapi juga bagi warga di sekitar yang membutuhkan air bersih.
“Bagi kami, air bukan hanya soal kebutuhan sehari-hari. Air adalah bagian dari keberlangsungan pendidikan. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, anak-anak bisa belajar dan beribadah dengan lebih nyaman,” ujarnya.
Komandan SSK Satgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kapten Inf Pringgo BS, mengatakan pemasangan mesin air dan jaringan pipa merupakan tahapan penting sebelum sumur bor dioperasikan secara penuh.
Menurutnya, setiap sasaran fisik dalam program TMMD dirancang agar benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami terus mengoptimalkan setiap tahapan pekerjaan agar sumur bor dapat segera berfungsi. Kehadiran fasilitas air bersih ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung aktivitas Rumah Tahfidz Al Fatihah dalam mencetak generasi yang berakhlak dan berilmu,” kata Kapten Pringgo.
Menjelang siang, proses pemasangan terus berlangsung. Pipa-pipa mulai tersambung, mesin air dipasang pada tempatnya, sementara warga turut membantu menyiapkan berbagai kebutuhan teknis. Suasana gotong royong terasa begitu hidup.
Bagi Ardian Mustaqim, selesainya sumur bor nanti akan menjadi penanda bahwa TMMD bukan sekadar menghadirkan pembangunan fisik. Program itu juga membawa harapan baru bagi lembaga pendidikan keagamaan dan masyarakat sekitar.
Dari setetes air yang mengalir, lahir semangat baru untuk terus belajar, beribadah, dan membangun masa depan yang lebih baik bersama.
(Yanti)










