Palembang,LamanQu.Com-Di sudut RT 17 RW 05, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang, berdiri sebuah rumah sederhana yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjuangan hidup Fernando.
Sebagian dindingnya masih berupa papan kayu yang mulai lapuk dimakan usia, sementara bagian lainnya sudah menggunakan bata. Rumah itu bukan dibangun sekaligus, melainkan bertahap, mengikuti kemampuan ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Kini, rumah itu perlahan berubah. Suara palu, adukan semen, dan canda para prajurit TNI menjadi warna baru di halaman rumah Fernando. Melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0418/Palembang, rumah yang selama ini jauh dari kata layak huni sedang direhabilitasi.
Bagi Fernando, perubahan itu terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.
Pria berusia 56 tahun itu mengaku tidak pernah menyangka rumahnya akan menjadi salah satu sasaran rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dalam program TMMD.
“Awalnya Pak RT yang mengajukan. Kami sendiri tidak tahu kalau ada program rehab RTLH dari Kodim 0418/Palembang,” ujarnya.
Fernando mengenang perjalanan panjang keluarganya menempati rumah tersebut. Sejak tahun 1995, ia bersama keluarga tinggal di lahan itu. Saat pertama kali membangun, kondisinya hanya berupa pondok sederhana.
Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit rumah itu diperbaiki sesuai kemampuan. Sebagian dinding diganti menggunakan bata, sementara bagian lainnya tetap menggunakan kayu bekas pondok yang masih bisa dimanfaatkan.
“Kami bangun semampunya. Yang penting ada tempat berteduh,” katanya.
Di rumah sederhana itu, Fernando hidup bersama istri dan seorang anak. Ketiganya bertahan dalam keterbatasan, namun tetap menyimpan harapan suatu hari nanti dapat memiliki rumah yang lebih layak.
Harapan itu sebenarnya sudah lama diperjuangkan.
Fernando bercerita, sejak tahun 2014 dirinya pernah diusulkan melalui ketua RT untuk mendapatkan program bedah rumah. Petugas bahkan telah datang mendata dan memotret kondisi rumah dari berbagai sisi.
Namun, waktu terus berlalu tanpa kabar.
Tahun berganti tahun, rumah itu tetap berdiri dengan kondisi yang sama. Atap mulai menua, dinding kayu semakin rapuh, sementara impian untuk memperbaiki rumah harus terus ditunda karena kebutuhan hidup sehari-hari lebih mendesak.
“Sudah didata, rumah difoto kiri kanan, tapi belum dapat juga waktu itu,” kenangnya.

Sebagai seorang pengemudi ojek online, Fernando mengaku penghasilannya tidak menentu. Pendapatan yang diperoleh setiap hari sebagian besar habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Penghasilan saya tidak seberapa. Cuma cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Jadi memang tidak sanggup kalau harus merehab rumah dengan biaya sendiri,” tuturnya.
Karena itulah, ketika mendapat kabar rumahnya akan direhabilitasi melalui program TMMD, rasa syukur tak mampu disembunyikannya.
“Alhamdulillah, saya sangat bahagia. Bantuan ini sangat membantu keluarga kami,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Setiap pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, para personel Satgas TMMD mulai berdatangan bersama warga. Mereka bekerja hingga pukul 17.00 WIB tanpa mengenal lelah.
Fernando hampir setiap hari menyaksikan proses pembangunan itu dari dekat. Sesekali ia membantu pekerjaan ringan atau sekadar berbincang dengan para prajurit yang bekerja.
Baginya, para anggota TNI bukan sekadar membangun rumah, tetapi juga menghadirkan semangat baru bagi keluarganya.
Memasuki hari ke-10 pelaksanaan TMMD ke-129, progres pembangunan rumah Fernando terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Pekerjaan telah memasuki tahap pemasangan plester pada dinding rumah, pembangunan dinding bata untuk bagian dapur, serta persiapan pembangunan kamar mandi dan WC yang selama ini menjadi kebutuhan penting keluarga.
Perubahan demi perubahan itu membuat Fernando semakin optimistis bahwa rumah impiannya akan segera selesai.
Rumah yang dahulu hanya dibangun semampunya, kini perlahan menjelma menjadi tempat tinggal yang lebih aman, sehat, dan nyaman bagi keluarganya.
Program rehabilitasi RTLH yang dijalankan Satgas TMMD bukan hanya memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga mengembalikan rasa percaya diri dan harapan masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan.
Kehadiran prajurit TNI di tengah masyarakat memperlihatkan bahwa TMMD bukan sekadar program pembangunan, melainkan bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., berharap proses rehabilitasi rumah Fernando dapat selesai sesuai target yang telah ditetapkan.
Menurutnya, kualitas pekerjaan tetap menjadi prioritas sehingga rumah yang dibangun benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi penerima.
“Kami berharap rehabilitasi rumah Pak Fernando dapat selesai tepat waktu sesuai target sehingga beliau bersama keluarga dapat segera menempati rumah yang nyaman, aman, dan layak huni,” ujarnya.
Bagi Fernando, rumah baru itu bukan sekadar bangunan berdinding bata dan beratap kokoh. Rumah itu adalah simbol dari penantian panjang yang akhirnya berbuah harapan.
Setelah lebih dari satu dekade menunggu kesempatan untuk memiliki rumah yang layak, kini ia hanya tinggal menghitung hari hingga dapat menikmati hasil kerja keras para prajurit TMMD.
Di usia yang tak lagi muda, Fernando akhirnya dapat memandang masa depan dengan lebih tenang.
Ia percaya, rumah yang sedang dibangun itu akan menjadi tempat terbaik bagi keluarganya untuk melanjutkan kehidupan—sebuah tempat yang lahir dari gotong royong, kepedulian, dan semangat pengabdian TNI kepada rakyat.
(Yanti)










