LamanQu.Com – Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman memberikan klarifikasi terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat pedesaan yang tidak menggunakan mata uang dolar AS. Oleh karena itu, penjelasan ini dimaksudkan untuk meluruskan persepsi publik bahwa penekanan tersebut sejatinya merujuk pada kemandirian pemanfaatan potensi komoditas lokal oleh warga daerah.
Selain itu, pernyataan ini disampaikan oleh Dudung usai dirinya melakukan peninjauan langsung terhadap proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin kemarin. Dudung mengemukakan, “Beliau pemimpin yang bijak, maksudnya di daerah itu tidak kenal dolar. Di daerah makan dengan sumber daya alam yang lokal,”
Maka dari itu, pimpinan Kantor Staf Presiden (KSP) tersebut menguraikan bahwa sebagian besar pemenuhan hajat hidup warga desa ditopang oleh hasil bumi sendiri, mulai dari komoditas jagung, pasokan ikan, hingga peternakan ayam mandiri yang dikembangkan di wilayah masing-masing. Selanjutnya, ia mengimbau agar masyarakat tidak memicu polemik yang meluas atas analogi yang dilontarkan Kepala Negara. Dudung mengimbuhkan, “Pengertiannya seperti itu, tidak usah ditanggapi yang berlebihan saya rasa,”
Sementara itu, Dudung juga menggarisbawahi bahwa fenomena koreksi nilai tukar terhadap mata uang dolar AS sejatinya merupakan imbas dari dinamika moneter global yang turut dirasakan oleh berbagai negara lain, bukan hanya Indonesia. Terlebih lagi, ia menegaskan bahwa sektor pemenuhan logistik dan stabilitas pasokan pangan domestik sejauh ini masih berada dalam koridor yang aman. Dudung memaparkan, “Tapi yang jelas menurut beliau pangan tetap terjaga, kita masih bisa,”
Sebagai informasi latar belakang, perbincangan ini bermula dari pidato Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu lalu. Oleh sebab itu, dalam agenda tersebut, Presiden berupaya menumbuhkan optimisme publik dan meyakinkan bahwa fondasi ekonomi nasional masih sangat kokoh meski rupiah tengah mengalami tekanan (undervalued) dalam beberapa pekan terakhir.




