LamanQu.Com – Di tengah kesibukan mengawal stabilitas ekonomi negara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencananya untuk bertolak ke Arab Saudi guna melaksanakan ibadah haji pada Kamis (21/5/2026) lusa apabila tidak menemui kendala. Oleh karena itu, agenda spiritual ini dijadwalkan secara matang di sela-sela tanggung jawab kenegaraannya.
Saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin kemarin, Purbaya menyatakan, “Kamis (21/5/2026), kalau nggak ada halangan,”
Selain itu, Purbaya mengungkapkan bahwa rangkaian proses pembekalan untuk kelancaran di Tanah Suci telah dilakoninya sejak empat belas hari ke belakang. Mengenai proses persiapannya, Purbaya berujar, “Persiapan haji sudah dua minggu lalu, sudah belajar tapi doa-doanya, masih lupa juga,”
Maka dari itu, durasi kepergiannya kali ini dirancang dalam waktu yang relatif singkat agar roda organisasi di kementerian tetap berjalan optimal. Terkait estimasi waktu perjalanannya ke Baitullah, Purbaya menjawab secara ringkas, “10 hari,”
Selanjutnya, sebelum membagikan kabar mengenai rencana keberangkatannya tersebut, sang Bendahara Negara terlebih dahulu menghadiri forum sidang kabinet terbatas bersama para menteri sektor ekonomi di bawah arahan langsung Presiden Prabowo Subianto pada Senin sore.
Kehadiran Purbaya di istana sekaligus untuk memastikan bahwa manajemen makroekonomi domestik tetap terkendali dengan baik. Sementara itu, setelah rampungnya pertemuan tertutup tersebut, Purbaya menegaskan otoritasnya tetap berkomitmen penuh mengawal fluktuasi mata uang domestik lewat penetrasi yang intensif di sektor surat utang.
Menkeu memaparkan, “Kita sudah masuk ke ‘bond market’ bertahap. Asing juga sudah masuk juga, jadi seharusnya ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil,”
Terlebih lagi, kebijakan mitigasi ini bakal direalisasikan lewat payung hukum Dana Stabilisasi Obligasi (Bond Stabilization Fund) dengan mengoptimalkan ketersediaan anggaran yang ada. Oleh sebab itu, demi memberikan dampak instan pada penguatan rupiah, ia menginstruksikan penggelontoran likuiditas sebesar Rp2 triliun setiap hari ke lantai bursa.
Terkait pos anggaran yang digunakan untuk menyokong penetrasi pasar tersebut, ia menjamin hal itu murni bagian dari tata kelola kas internal yang aman. Purbaya meluruskan, “Kita masih punya beberapa tempat, itu kan hanya ‘cash management’ saja. Jadi tidak masalah,”
Kemudian, pergerakan modal dalam volume besar secara berkala tersebut diharapkan mampu membangun gairah investasi yang sehat di kalangan pelaku pasar modal.
Dengan demikian, atmosfer perdagangan yang positif dipercaya otomatis mengundang ketertarikan dari para pemodal global untuk menaruh asetnya kembali di Indonesia.





