Palembang, LamanQu.Com – Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUII) menggelar Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat (MUTU) se-Pulau Sumatera, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten, yang dipusatkan di Asrama Haji Palembang, Sabtu (24/2/2026).
Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Jenderal MPUII Prof. Daniel Mohammad Rasyid, Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, Ketua Panitia Pelaksana MUTU se-Sumatera Drs. H. Umar Said, Sekretaris Panitia Afdhal Azmi Jambak, SH, serta para ulama, tokoh umat, akademisi, politisi, pebisnis, dan praktisi hukum dari berbagai daerah.
Acara secara resmi dibuka oleh Wali Kota Palembang, Ratu Dewa.
Ratu Dewa menyampaikan apresiasi atas kepercayaan MPUII menjadikan Palembang sebagai tuan rumah MUTU. Ia berharap forum ini mampu melahirkan konsep-konsep keumatan yang dapat menjadi landasan pembangunan di berbagai tingkatan pemerintahan.
“Harapan saya, forum ini bisa melahirkan sinergi di tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Kita membutuhkan nilai-nilai keumatan dan ketuhanan sebagai filter dalam pelaksanaan pembangunan, agar amanah pemerintahan dan kehidupan kemasyarakatan tetap terjaga,” ujar Ratu Dewa.
Terkait kesejahteraan marbot masjid di Kota Palembang, Ratu Dewa mengungkapkan bahwa program insentif telah berjalan dan akan terus ditingkatkan.
“Kemarin sekitar 500 marbot sudah menerima insentif. Tahun ini akan kita tambah lagi, kita berikan bantuan insentif sebagai bentuk perhatian pemerintah,” katanya.
Sementara itu, Sekjen MPUII Prof. Daniel Mohammad Rasyid menegaskan pentingnya persatuan umat Islam di tengah tantangan global yang semakin kompleks, termasuk dinamika geopolitik yang dihadapi bangsa Indonesia.
“Umat Islam tidak boleh terpecah belah. Banyak pihak yang ingin memecah persatuan. Umat Islam harus menjadi unsur perekat bangsa. Ketika Presiden mengambil manuver arah baru, umat Islam harus membersamai dengan tenang, agar kapal besar bangsa ini tidak terguling,” tegasnya.
Daniel juga menjelaskan alasan pemilihan Palembang sebagai lokasi MUTU, salah satunya berkaitan dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Kita ingin umat Islam siap menghadapi bencana. Selama ini sering kali kita tidak siap. Karena itu, umat Islam harus bersatu, lebih kompak, dan tidak mudah diadu domba,” tuturnya.
Lebih lanjut, Daniel menambahkan bahwa MUTU membuka ruang dialog antarulama dan tokoh umat dari berbagai daerah, guna memperkuat silaturahmi sekaligus menyusun program bersama yang berpihak kepada kepentingan umat.
“MPUII dibentuk tahun 2019 dan kini sudah ada di 25 provinsi. Anggota kami berasal dari ulama-ulama lokal. Aspirasi yang kami himpun akan kami dorong agar kebijakan publik berpihak kepada umat, baik di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, maupun pengelolaan SDM,” jelasnya.
Ketua Panitia Pelaksana MUTU se-Sumatera, Drs. H. Umar Said, menyampaikan bahwa MPUII diharapkan menjadi pemandu umat hingga ke tingkat akar rumput.
“MPUII diharapkan mampu memandu umat dan menyampaikan aspirasi kepada para pemimpin, sehingga kebijakan yang lahir benar-benar mencerminkan kepentingan masyarakat,” katanya.
Senada, Sekretaris Panitia Afdhal Azmi Jambak, SH menegaskan bahwa MPUII tidak hanya bergerak dalam wacana, tetapi juga aksi nyata, terutama dalam penanganan bencana.
“Saat terjadi bencana di Sumatera, MPUII bergerak memberikan bantuan ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, hingga Banten. Kami ingin umat Islam tidak hanya menjadi penonton, tetapi memahami hak dan perannya,” ujarnya.
Afdhal juga mengapresiasi kebijakan Wali Kota Palembang yang dinilai berpihak pada nilai-nilai keumatan.
“Kami mengapresiasi kebijakan Pak Wali Kota yang melarang hura-hura saat malam tahun baru. Beliau tokoh Islam, mantan Ketua PMII dan ISNU Palembang, memiliki hati nurani yang kuat. Kami berharap sinergi seperti ini terbangun dengan seluruh pemerintah daerah,” pungkasnya.




