Musi Rawas, LamanQu.Com – Dugaan pelanggaran etika yang menyeret seorang anggota DPRD Kabupaten Musi Rawas dari Partai Golkar berinisial I kini menjadi sorotan luas, tidak hanya sebagai persoalan personal, tetapi sebagai ujian serius bagi komitmen partai politik dalam menjaga moralitas pejabat publik.
Isu ini mencuat setelah beredarnya foto-foto yang menunjukkan kedekatan antara oknum legislator tersebut dengan seorang perempuan yang bukan istrinya. Peristiwa itu diduga terjadi saat yang bersangkutan tengah menjalankan tugas dinas luar di Provinsi Bengkulu.
Bagi sebagian kalangan masyarakat, dugaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari status yang bersangkutan sebagai wakil rakyat. Publik menilai, perilaku pribadi pejabat tetap melekat pada tanggung jawab moral dan etika jabatan, terlebih jika terjadi dalam konteks kegiatan kedinasan.
Minimnya pernyataan resmi dan langkah terbuka dari struktur Partai Golkar di tingkat daerah justru memunculkan pertanyaan publik.
Sejumlah pihak menilai, partai politik seharusnya memiliki mekanisme etik yang responsif dan transparan ketika kadernya terseret isu yang berpotensi merusak kepercayaan masyarakat.
“Yang diuji saat ini bukan hanya individu, tetapi bagaimana partai menegakkan standar etika bagi pejabat publiknya,” ujar seorang pengamat politik lokal, Senin (19/01/2026).
Tekanan agar dilakukan evaluasi internal juga datang dari elemen masyarakat sipil.
Ketua Umum Badai Anti Korupsi, Moh Didink Arrahim, menyebut bahwa lambannya penanganan di tingkat daerah berpotensi memperbesar dampak politik terhadap Partai Golkar.
Menurutnya, jika tidak segera direspons secara terbuka, kasus tersebut dapat berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas, tidak hanya di Musi Rawas, tetapi juga terhadap citra Golkar di Sumatera Selatan hingga nasional.
Ia juga menyinggung peran pimpinan partai di tingkat provinsi dan pusat agar tidak terkesan menghindari tanggung jawab moral di tengah sorotan publik.
Pengamat menilai, di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat semakin kritis dan menuntut keteladanan dari wakil rakyat. Partai politik, sebagai institusi pengusung, dinilai memiliki kewajiban untuk memastikan kadernya menjunjung tinggi etika, baik dalam ranah publik maupun pribadi.
Hingga berita ini diterbitkan, anggota DPRD Musi Rawas berinisial I belum memberikan klarifikasi resmi. Upaya konfirmasi kepada DPD Partai Golkar Musi Rawas, DPD Golkar Sumatera Selatan, serta DPP Partai Golkar masih terus dilakukan.
Media ini menegaskan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Namun demikian, langkah tegas dan transparan dari partai politik dinilai menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif dan sistem demokrasi.




