• Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
Jumat, April 24, 2026
No Result
View All Result
lamanqu.com
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi
No Result
View All Result
lamanqu.com
No Result
View All Result
danau ranau, oku selatan banner pemkab muba
ADVERTISEMENT
Home Tokoh

Jejak Mayjen TNI Kosasih dari Marbot Masjid, Kini Jadi Pangdam III Siliwangi

Reporter UMR
24 April 2026
Jenderal Santri di Tanah Siliwangi
Bagikan ke Whatsapp

LamanQu.Com – Pada tanggal 2 April 1971, telah lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan suami istri yang bernama Ust. H. Jufran Efendi (almarhum) dan Hj. Siti Khadijah (almarhumah). Doa dan harapan dari orang tua bayi kelak akan berbakti kepada keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Bayi tersebut diberi nama Kosasih, nama yang sangat identik dengan orang-orang Sunda. Nama tersebut terinspirasi oleh seseorang dimasa itu sebagai seorang tentara yang berwibawa, friendly, lincah, bersahaja, menjadi panutan untuk banyak orang, merakyat dan mudah bergaul tanpa ada sekat, dan beliau adalah R.A. Kosasih yang tak lain adalah Panglima Kodam Siliwangi pada masanya (Pangdam VII periode 1958-1960).

Kosasih kecil tumbuh berkembang seperti layaknya anak-anak lainnya di desa dengan kegiatan dan permainan ala desa; petak umpet, mandi dan berenang di sungai, memanjat pohon dan mengumpulkan pasir untuk dijual. Kosasih merupakan anak ke 4 (empat) dari 6 (enam) bersaudara dan besar harapan orang tuanya supaya Kosasih dapat menjadi guru (ustadz) serta masuk sekolah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta.

Masa sekolah SD dihabiskan sampai kelas V (lima) di kampung halamannya dan selebihnya diselesaikan di Jakarta sampai SMA karena mengikuti kedua orang tuanya. Sejak SMP hari-hari dihabiskan di salah satu masjid sebagai marbot dan selain itu sebelum berangkat ke sekolah, Ia sebagai kuli Toko Bangunan PD Dua Saudara sambil jualan Es Mambo dan jual TTS sampai tingkat SMA di Jakarta. Hal ini dilakukan untuk membantu perekonomian keluarga karena Bapak beliau pekerjaannya sebagai guru mengaji dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

Begitulah keseharian Kosasih sampai menjelang tamat SMA dan satu ketika setelah Shalat Isya dan merapikan alat-alat shalat di masjid dan menutup pintunya, lalu Ia pergi makan mie ayam “Pak Yanto” terletak di belakang Masjid Al-Falaq, satu hal yang tidak pernah diduga ada seorang anggota TNI datang makan mie ayam dan selesai makan mie ayam, tentara tersebut langsung keluar dan tidak membayar, seketika ditagih oleh Pak Yanto untuk membayarnya namun tentara tersebut menghampiri Pak Yanto dan mencabut sangkur lalu menancapkannya di atas gerobak mie ayam tersebut dan tidak membayarnya.

Kosasih kaget pada waktu itu dan dalam hatinya disertai dengan doa dan mengucapkan istiqfar, mudah-mudahan saya dapat menjadi tentara dan dapat memperbaiki akhlak tentara. Sejatinya tentara harus mengayomi, melindungi dan bahkan membantu masyarakat yang membutuhkannya dan itulah niat dan doa dipanjatkannya. Atas kejadian tersebut membekas sampai hari ini bahwa tentara tidak boleh melukai dan menyakiti hati masyarakat serta harus Manunggal bersama rakyat.

Pada akhirnya, Kosasih mendaftar sebagai calon tentara secara diam-diam dan saat mendaftar Ia tidak tahu jenis pendidikan tentara apa Ia daftar dan saat pengisian format pendaftaran maka seluruh format ditandatangani sendiri yang seharusnya ditandatangani oleh bapaknya. Hal ini dilakukan karena khawatir tidak diizinkan untuk mendaftar tentara, dan setelah dinyatakan lulus untuk melanjutkan ujian seleksi di Magelang maka barulah menyampaikan semuanya kepada kedua tuanya bahwa Ia akan ke Magelang untuk seleksi AKABRI Tingkat Pusat dan akhirnya dinyatakan lulus AKMIl di Magelang.

Pendidikan Umum dan Militer

Kosasih memulai pendidikan formalnya di Sekolah Dasar (SD) Tamat Tahun 1984, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Tamat Tahun1987, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Tahun 1990, Sarjana (S1) Tamat Tahun 1999, dan Magister (S2) Tahun 2025.

Kosasih, tidak hanya melekat sebagai identitas personal, tetapi juga merepresentasikan perjalanan panjang seorang prajurit yang tumbuh, ditempa, dan mengabdi sepenuhnya untuk bangsa dan negara. Dalam struktur kepangkatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, pangkat Mayor Jenderal (Mayjen) merupakan salah satu jenjang perwira tinggi yang menuntut pengalaman luas, integritas tinggi, serta kepercayaan penuh dari pimpinan TNI dan negara.

Penyematan pangkat Mayor Jenderal TNI mencerminkan keberhasilan melalui proses seleksi ketat dan penilaian berlapis atas rekam jejak pengabdian, loyalitas, serta kapasitas kepemimpinan. Pada pangkat ini, seorang perwira tidak hanya dituntut cakap secara taktis dan strategis, tetapi juga mampu menjadi teladan moral bagi prajurit di bawah kepemimpinannya.

Gelar akademik Sarjana Ekonomi (S.E.) dan Magister Manajemen (M.M.) yang disandang menegaskan bahwa tidak hanya mengandalkan pendidikan dan pengalaman militer, tetapi juga memiliki fondasi keilmuan umum yang kuat. Pendidikan di bidang ekonomi dan manajemen sumber daya manusia memberikan bekal penting dalam memahami manajemen organisasi, pengelolaan sumber daya, perencanaan anggaran, serta pengambilan keputusan yang rasional dan berbasis analisis.

Perpaduan antara pangkat militer tinggi dan gelar akademik tersebut menjadikan Kosasih, sebagai figur perwira tinggi (Prajurit TNI AD) yang memiliki keseimbangan antara ketegasan komando, kecerdasan intelektual, dan kematangan berpikir. Identitas lengkap yang melekat pada namanya mencerminkan sosok pemimpin yang tidak hanya memimpin dengan kewenangan struktural, tetapi juga dengan kapasitas personal dan moral yang kuat.

Dalam setiap penyebutan nama dan gelarnya, tersirat tanggung jawab besar sebagai perwira tinggi TNI yang mengemban amanah negara, menjaga kehormatan institusi, serta menjadi panutan bagi prajurit dan masyarakat. Oleh karena itu, penyebutan lengkap Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan atas perjalanan panjang pengabdian, kompetensi, dan integritas seorang Jenderal di Tanah Siliwangi.
Selain pendidikan umum yang telah ditempuh, Kosasih juga telah melewati Pendidikan militer yakni AKMIL dan tamat Tahun 1993, kemudian SESSARCAB INFANTERI Tahun 1994, SUSLAPA INFANTERI Tahun 2000, SESKOAD Tahun 2007, SESKO TNI Tahun 2018, dan LEMHANNAS RI Tahun 2021.

Tidak hanya berhenti pada Pendidikan Pengembangan Umum saja tetapi juga melewati kursus specialis kemiliteran yakni DIK KOMANDO Tahun 1995, SUSSPES BAK DUK (Sniper) Tahun 1995, Counter Terrorisem Intel Course Tahun 1996, Kursus Bahasa Perancis Tahun 1999, SUSPA MINPERS PRA Tahun 2000, SUS Bahasa Inggris Crash Program Tahun 2005, dan SUS DANYON Tahun 2009, serta SUS Auditor Pertama Tahun 2013.

Riwayat Jabatan

Dalam mengemban tugas dan jabatannya, Kosasih selalu didampingi sosok perempuan yang selalu setia mendampinginya yakni seorang istri bernama Asri Wiraningsih dan dua anak yakni Alfia Tasya Karisa dan Adelia Naila Karisa. Keberhasilan dalam mengemban amanah ini tentu telah diberi dukungan penuh dari istri, anak-anak dan keluarga besarnya.

Perjalanan karier Kosasih di lingkungan TNI Angkatan Darat mencerminkan proses panjang pembentukan seorang pemimpin militer yang ditempa melalui pengalaman lapangan, jabatan staf, hingga posisi strategis ditingkat komando.

Setiap jabatan yang diembannya menjadi tahapan penting dalam membangun kapasitas kepemimpinan, ketajaman analisis, serta kedewasaan dalam mengambil keputusan. Sejak awal penugasan sebagai perwira, Kosasih dikenal sebagai sosok yang disiplin, tegas, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap prajurit. Pengalaman di satuan operasional memberinya pemahaman mendalam mengenai dinamika lapangan, karakter prajurit, serta pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya berbasis perintah, tetapi juga keteladanan.

Memasuki jenjang perwira menengah hingga perwira tinggi, dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis, baik di satuan kewilayahan maupun staf komando. Jabatan-jabatan tersebut menuntut kemampuan manajerial, perencanaan operasi, penguasaan teritorial, serta koordinasi lintas institusi atau instansi, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan lainnya, hingga tokoh masyarakat.

Dalam kapasitasnya sebagai pejabat TNI AD, Kosasih, terlibat aktif dalam; Pembinaan satuan dan personel, memastikan kesiapsiagaan prajurit baik secara fisik, mental, maupun ideologis, Penguatan tugas kewilayahan, khususnya dalam menjaga stabilitas keamanan, ketahanan nasional, dan kemanunggalan TNI dengan rakyat dan Pengelolaan organisasi dan sumber daya, termasuk perencanaan program kerja, pengawasan, serta evaluasi kinerja satuan.

Puncak kepercayaan institusional terhadap dirinya terlihat saat ia ditunjuk untuk menduduki jabatan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) III/Siliwangi ke 47, berdasarkan Surat Keputusan PANGLIMA TNI NOMOR KEPUTUSAN/ 1001/ VII/ 2025, Tertanggal 31 JULI 2025.

Jabatan ini menempatkan Kosasih, sebagai pemegang kendali tertinggi di Kodam III/Siliwangi mengikuti jejak pendahulunya Raden Ahmad Kosasih (Pangdam Siliwangi ke VII). Sebagai Pangdam III/Siliwangi, beliau bertanggung jawab atas; pembinaan dan kesiapan seluruh satuan jajaran Kodam III/Siliwangi; pelaksanaan operasi militer selain perang (OMSP), pengamanan wilayah Jawa Barat dan Banten yang memiliki kompleksitas sosial, politik, ekonomi, dan budaya serta penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh agama, dan Masyarakat.

Pengangkatan Kosasih, menggantikan Pangdam sebelumnya menandai kesinambungan kepemimpinan Kodam Siliwangi, dengan pendekatan yang menekankan ketegasan, profesionalisme, pendekatan religius dan humanis. Di bawah kepemimpinannya, Kodam Siliwangi diarahkan untuk tetap adaptif terhadap tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri sebagai tentara rakyat.

Riwayat jabatan yang dilalui Kosasih, menunjukkan bahwa kepemimpinannya bukan hasil proses instan, melainkan buah dari pengabdian panjang, loyalitas tinggi, serta rekam jejak yang konsisten. Pengalaman lintas jabatan tersebut menjadi pondasi kuat dalam menjalankan peran strategisnya sebagai Pangdam III/Siliwangi, sekaligus mempertegas posisinya sebagai figur pemimpin militer yang matang, berintegritas, dan berakar pada nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.

Beberapa jabatan penting yang telah dilaluinya antara lain DANREM 062/TARUMANEGARA KODAM III/SILIWANGI, Kepala Biro Kepegawaian SETJEN KEMHAN, Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Keamanan, Sekretariat Militer Presiden Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Selain itu Kosasih juga pernah berdinas di lingkungan Istana Kepresidenan sejak tahun 2001 sampai tahun 2007 untuk mengawal Presiden dan Wakil Presiden RI.

Tanda Kehormatan Negara

Sepanjang perjalanan pengabdiannya di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), Kosasih, telah menerima berbagai tanda kehormatan negara sebagai bentuk pengakuan negara atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian tanpa pamrih kepada bangsa dan negara. Tanda jasa tersebut tidak diberikan secara otomatis, melainkan melalui penilaian ketat terhadap rekam jejak, integritas, kinerja, dan kontribusi nyata dalam pelaksanaan tugas.

Sebagai perwira yang meniti karier dari bawah hingga mencapai pangkat perwira tinggi, Ia berhak atas berbagai tanda jasa/tanda kehormatan yang diberikan kepada prajurit dengan masa dinas panjang dan tanpa cacat. Penghargaan ini mencerminkan kesetiaan dan loyalitasnya terhadap institusi TNI serta kesungguhan dalam menjalankan amanah di setiap penugasan. Selain itu, dalam kapasitasnya sebagai pejabat komando dan staf strategis, Kosasih juga menerima penghargaan atas prestasi dan kinerja, baik dalam pembinaan satuan, peningkatan profesionalisme prajurit, maupun keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas kewilayahan.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam menjaga stabilitas keamanan, memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat, serta membangun sinergi yang harmonis dengan pemerintah daerah dan unsur masyarakat. Sebagai Pangdam III/Siliwangi, berbagai capaian satuan di bawah kepemimpinannya turut menjadi refleksi dari kualitas kepemimpinannya. Dalam konteks ini, tanda jasa dan penghargaan yang disematkan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga merupakan pengakuan atas keberhasilannya sebagai pemimpin kolektif yang mampu menggerakkan organisasi secara efektif dan berintegritas.

Lebih jauh, penghargaan yang diterima Kosasih juga merepresentasikan kepercayaan pimpinan TNI dan negara terhadap kemampuannya dalam mengemban tugas strategis. Kepercayaan tersebut tercermin dari kesinambungan penugasan penting yang diberikan kepadanya, hingga akhirnya dipercaya memimpin salah satu kodam paling bersejarah di Indonesia. Dalam perspektif moral dan religius yang ia pegang teguh, tanda jasa dan penghargaan bukanlah tujuan akhir pengabdian, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Tanda kehormatan negara yang telah diterima yakni sebagai berikut; Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Bhayangkara Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Satyalancana Kesetiaan 32 Tahun, Satyalancana Dharma Bantala, Satyalancana Kesetiaan 24 Tahun, Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun, Satyalancana Kesetiaan 8 Tahun, Satyalancana Dwidya Sistha, Satyalancana Dharma Nusa, Satyalancana Wira Nusa, Satyalancana Wira Dharma, Satyalancana Wira Siaga, Satyalancana Ksatria Yudha, Satyalancana Bhakti Pendidikan, Satyalancana Wira Karya, Satyalancana Kebaktian Sosial.

Ia memandang setiap penghargaan sebagai pengingat untuk terus menjaga integritas, meningkatkan kualitas kepemimpinan, serta menjadi teladan bagi prajurit di bawah komandonya. Demikian, rangkaian tanda jasa dan penghargaan yang melekat pada diri Kosasih, sebagai refleksi dari perjalanan panjang seorang prajurit yang mengabdi dengan kesetiaan, profesionalisme, dan nilai-nilai keislaman. Penghargaan tersebut mempertegas posisinya sebagai perwira tinggi yang tidak hanya berhasil secara struktural, tetapi juga dihormati secara moral sebuah kualitas yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan TNI di tengah tantangan zaman.

Penugasan Dalam Negeri dan Luar Negeri

Dalam perjalanan karier militernya, Kosasih telah menerima penugasan dalam negeri yaitu Operasi TIMTIM, Operasi Irian, Ekspedisi NKRI Sulawesi, dan Ekspedisi NKRI Maluku dan Maluku Utara.
Selain itu Kosasih tidak hanya ditempa melalui penugasan di dalam negeri, tetapi juga melalui berbagai penugasan dan keterlibatan berskala internasional. Penugasan luar negeri merupakan bagian penting dari pembentukan perwira TNI modern, karena membuka cakrawala berpikir global, memperkuat diplomasi militer, serta meningkatkan profesionalisme prajurit dalam menghadapi tantangan keamanan regional dan internasional.
Beberapa penugasan luar negeri yang telah dijalankannya antara lain; OJT Korea Selatan, Pengamanan VVIP di Polandia, Uni Emirat Arab, Sudan, Yaman, Saudi Arabia, Qatar, Kansas, Australia, Myanmar, Kuba, China, Brunei Darussalam, Turki, Ceko, Austria, Rusia, Perancis, Inggris, Belgia, dan Mesir.

Penugasan luar negeri juga memperkenalkannya pada lingkungan operasi multinasional, dimana kerja sama, koordinasi, dan komunikasi lintas negara menjadi kunci keberhasilan. Dalam situasi tersebut, Ia dituntut untuk mampu merepresentasikan TNI dan Indonesia secara profesional, menjaga kehormatan bangsa, serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip perdamaian dan stabilitas internasional.

Sebagai perwira yang berlatar belakang religius dan dikenal menjunjung nilai etika dan moral, Kosasih membawa pendekatan humanis dan etis dalam setiap keterlibatan internasional. Ia memandang penugasan luar negeri bukan semata sebagai ajang unjuk kekuatan militer, melainkan sebagai ruang dialog, kerja sama, dan kontribusi nyata Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Pengalaman internasional tersebut memperkaya perspektif kepemimpinannya, terutama dalam memahami bahwa tantangan keamanan modern bersifat lintas batas dan multidimensional, mencakup aspek militer, sosial, ideologis, hingga kemanusiaan.

Wawasan ini menjadi bekal penting saat ia mengemban jabatan strategis di dalam negeri, termasuk sebagai Pangdam III/Siliwangi. Penugasan luar negeri yang pernah dijalani juga menegaskan bahwa sosok Jenderal Santri tidaklah terbatas pada ruang lokal atau nasional semata. Dengan bekal keimanan yang kuat dan wawasan global yang luas, Kosasih menunjukkan bahwa nilai-nilai religius dapat berjalan seiring dengan profesionalisme militer modern dan diplomasi internasional. Dengan demikian, rekam jejak penugasan luar negeri Kosasih, menjadi bagian penting dari jejak kepemimpinannya membentuk perwira tinggi yang tidak hanya kokoh menjaga kedaulatan negara, tetapi juga mampu membawa nama baik Indonesia di kancah internasional, dengan sikap santun, berwibawa, dan berintegritas.

Figur Jenderal Yang Biasa Dipanggil Jenderal Santri di Tanah Siliwangi

Kehadiran Kosasih, sebagai Pangdam III/Siliwangi tidak hanya dimaknai sebagai pergantian kepemimpinan struktural semata, melainkan sebagai hadirnya figur pemimpin militer yang membawa nilai spiritual dan kearifan lokal dan moral di tengah dinamika sosial masyarakat di Tanah Siliwangi. Sosoknya merepresentasikan apa yang kerap disebut sebagai “Jenderal Santri” seorang perwira tinggi yang memadukan ketegasan militer dengan kedalaman nilai keislaman dan kesantunan budaya.

Latar belakang religius yang melekat pada diri Kosasih tidak terlepas dari lingkungan asalnya di Pandeglang, Banten, wilayah yang dikenal kuat dengan tradisi pesantren, ulama, dan kehidupan keagamaan yang kental. Nilai-nilai santri seperti kesederhanaan, keikhlasan, kedisiplinan, dan penghormatan kepada guru serta orang tua menjadi fondasi karakter yang terbawa hingga kejenjang tertinggi karier militernya. Di Tanah Siliwangi wilayah yang sarat dengan nilai budaya Sunda dengan falsafah Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, dan Silih Wawangi.

Sejarah panjang perjuangan figur Jenderal Santri menemukan relevansi yang kuat dalam kepemimpinannya, Kosasih hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai militer, religiusitas, dan kearifan lokal yang menciptakan harmoni antara kekuatan negara dan denyut kehidupan masyarakat. Sebagai Pangdam III/Siliwangi, Ia dikenal menekankan pentingnya keteladanan moral dalam kepemimpinan.

Baginya, prajurit yang kuat bukan hanya yang unggul secara fisik dan taktis, tetapi juga yang memiliki akhlak, integritas, dan kesadaran spiritual. Pendekatan ini menjadikan nilai keimanan bukan sebagai simbol seremonial, melainkan sebagai landasan etika dalam menjalankan tugas.

Kedekatannya dengan ulama, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, budayawan dan pimpinan pesantren menjadi salah satu ciri khas kepemimpinannya. Dalam berbagai kesempatan, Ia mendorong sinergi antara TNI dan elemen keagamaan sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan nasional dan ketahanan sosial. Baginya, pesantren dan komunitas keagamaan bukan sekadar mitra, tetapi pilar penting dalam menjaga stabilitas, perdamaian, dan moral bangsa.

Figur sebagai Jenderal Santri juga tercermin dari gaya komunikasi dan sikap personal Kosasih. Ia dikenal berbicara lugas namun santun, tegas tanpa arogansi, serta dekat dengan prajurit dari berbagai lapisan. Kepemimpinannya tidak berjarak, melainkan membumi menghidupkan kembali semangat pamong, pengayom, dan pelindung rakyat sebagaimana jati diri TNI.

Dalam konteks sejarah, Kodam Siliwangi yang memiliki akar kuat dalam perjuangan kemerdekaan, Kosasih membawa kesinambungan nilai juang yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Ia memaknai perjuangan modern sebagai upaya menjaga keutuhan bangsa dari berbagai ancaman baik yang bersifat nyata maupun laten dengan pendekatan yang mengedepankan kebijaksanaan, dialog, dan ketegasan yang berkeadilan.

Lebih luas lagi, figur Jenderal Santri di Tanah Siliwangi menjadi simbol bahwa militerisme tidak bertentangan dengan religiusitas. Justru sebaliknya, nilai-nilai keimanan dapat menjadi penguat profesionalisme, pengendali kekuasaan, dan penuntun arah kebijakan. Dalam diri Kosasih, dua dunia tersebut berpadu secara harmonis menghasilkan kepemimpinan yang kuat secara struktural dan meneduhkan secara moral.

Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menanamkan disiplin dan nilai keagamaan sejak usia dini. Dari ruang keluarga itulah Ia belajar bahwa ketegasan tidak harus keras, dan kepemimpinan tidak selalu bersuara lantang. Kultur Sunda yang menjunjung kesantunan berpadu dengan ajaran Islam yang membumi membentuk karakter kepemimpinannya tenang, bersahaja, namun tegas saat prinsip harus ditegakkan. Dalam keseharian, sosok ini dikenal tidak gemar menonjolkan diri. Ia lebih memilih mendengar, berdialog, dan memahami sebelum mengambil keputusan. Dari sikap inilah kemudian tumbuh sebutan “Jenderal santri”, sebuah julukan yang melekat bukan karena simbol, melainkan karena laku hidup.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks mulai dari dinamika sosial, perubahan budaya, hingga ancaman non militer figur Jenderal Santri memberikan harapan akan hadirnya kepemimpinan yang tidak hanya responsif dan adaptif, tetapi juga berakar pada nilai luhur bangsa. Kepemimpinan semacam inilah yang relevan di Tanah Siliwangi dan Indonesia secara keseluruhan. Dengan demikian, Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., tidak sekadar menjalankan peran sebagai Pangdam III/Siliwangi, tetapi juga menghadirkan makna kepemimpinan yang lebih dalam yaitu kepemimpinan yang tegas namun berakhlak, kuat namun menyejukkan, serta modern tanpa kehilangan jati diri, inilah esensi dari Jejak Jenderal Santri, Kini di Tanah Siliwangi dan semua hal ini dilakukan sebagai implementasi dari motto beliau “Jabatanku adalah Ibadahku”, dan didasari pada hadis nabi yang berbunyi “sebaik-baik manusia adalah paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.

Tags: Jenderal Santri di Tanah SiliwangiPangdam III/ Siliwangi
ADVERTISEMENT
Previous Post

Reses Dapil II DPRD Palembang: Mie Gacoan Dinilai Bantu Kurangi Pengangguran di Alang-Alang Lebar

UMR

Info Terkait

Mayjen TNI Mohammad Fadjar

Mayjen TNI Mohammad Fadjar, Akmil 1993 Resmi Jabat Pangdam III/Siliwangi

8 Maret 2024
Pidana Asusila, Prajurit Siliwangi, 7 pelanggaran berat, Pangdam III/ Siliwangi

Pangdam III/Siliwangi, Pecat Perwira TNI AD di Cimahi

3 November 2020
Pangdam III/Siliwangi Bersama Menteri Pertanian Kunjungi Balai Besar Pertanian Lembang

Pangdam III/Siliwangi Bersama Menteri Pertanian Kunjungi Balai Besar Pertanian Lembang

17 Juni 2020
Kapolda Jabar Himbau Masyarakat Untuk Bersabar Menunggu Hasil KPU

Kapolda Jabar Himbau Masyarakat Untuk Bersabar Menunggu Hasil KPU

23 April 2019
Pangdam III/Siliwangi : Menjalin Silaturahmi Untuk Membangun Jawa Barat

Pangdam III/Siliwangi : Menjalin Silaturahmi Untuk Membangun Jawa Barat

23 April 2019
Pangdam III/Siliwangi Dan Kapolda Jabar Patroli Wilayah Jelang Pemilu

Pangdam III/Siliwangi Dan Kapolda Jabar Patroli Wilayah Jelang Pemilu

14 April 2019

Berita Terbaru

Reses Dapil II DPRD Palembang: Mie Gacoan Dinilai Bantu Kurangi Pengangguran di Alang-Alang Lebar

Workshop Desa Tangguh Tanpa Narkoba, Jadi Contoh Bagi Seluruh Kabupaten dan Kota di Sumsel

MENJELANG MAY DAY, POLDA SUMSEL BUKA RUANG DIALOG BERSAMA GENK REMAJA

Aksi di Kejati Sumsel, LSM Mitra Mabes Soroti Dugaan Mark-Up Proyek Jalan di OKU Tahun 2025

Aksi di Kejati Sumsel, LSM Mitra Mabes Soroti Dugaan Mark-Up Proyek Jalan di OKU Tahun 2025

Pemkab Muba Umumkan Daftar Lengkap Nama Peserta Lulus Seleksi Pelatihan Migas TA 2026

Wujudkan SDM Unggul, Bupati HM. Toha Tohet Umumkan Peserta Lulus Pelatihan Migas 2026

Celine Abigail Br Sinulingga: Jawaban Indah di Ujung Penantian 13 Tahun

BNNP Sumsel Musnahkan 16,9 Kg Sabu Jaringan Malaysia–Palembang, Dua DPO Diburu

Berita Populer

IKA KSMA Ada Dibeberapa Daerah Di Indonesia, Berikut Beberapa Pesan Disampaikan

IKA KSMA Ada Dibeberapa Daerah Di Indonesia, Berikut Beberapa Pesan Disampaikan
Reporter YN
19 April 2026

Palembang. Lamanqu. Com Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru, S.H., M.M...

Read more

Chairul S Matdiah : Gubernur adalah Wajah Provinsi, Fasilitas Sesuai Kebutuhan Tugas

Chairul S Matdiah : Gubernur adalah Wajah Provinsi, Fasilitas Sesuai Kebutuhan Tugas
Reporter YN
19 April 2026

Palembang. Lamanqu. Com Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Chairul S Matdiah, angkat bicara terkait dinamika rencana pengadaan mobil dinas senilai...

Read more

Gubernur Herman Deru Ajak Mahasiswa Gunakan AI Secara Bijak

Lomba Video AI
Reporter YN
19 April 2026

Palembang, LamanQu.Com - Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, mengajak para mahasiswa untuk menggunakan Artificial Intelligence (AI) secara bijak....

Read more

Enam Kandidat Ketua DPC PKB Palembang Siap Jalani Uji Kelayakan

Enam Kandidat Ketua DPC PKB Palembang Siap Jalani Uji Kelayakan
Reporter YN
19 April 2026

Palembang. Lamanqu. Com Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Palembang yang digelar pada Sabtu malam (18/4/2026) menghadirkan terobosan...

Read more

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

  • Indeks
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Hubungi-kami
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Fashion
    • Treveling
    • Health
    • Komunitas
    • Opini
    • Tokoh
    • Religi

© 2025 DIgital Media Sriwijaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In