Palembang, LamanQu.Com – Sosok advokat senior sekaligus legislator, Chairul S Matdiah, SH, MHKes, bersiap meluncurkan karya literatur terbarunya yang bertajuk Di Balik Toga Hitam. Buku ini menjadi catatan penting bagi dunia hukum Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan (Sumsel), yang memotret realitas pahit-manis perjuangan seorang pengacara selama puluhan tahun berkarier.
Melalui buku ini, Chairul tidak hanya berbicara sebagai praktisi hukum, tetapi juga sebagai penyambung lidah masyarakat kecil. Ia membuka tabir tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik megahnya jubah toga hitam yang ia kenakan.
“Toga hitam yang saya pakai mungkin terlihat kaku, namun di baliknya ada tanggung jawab moral yang sangat cair dan menyentuh setiap sendi kehidupan manusia. Buku ini adalah saksi bahwa keadilan harus diperjuangkan, bukan ditunggu,” ujar Chairul S. Matdiah.
Sebelumnya, Chairul S Matdiah sudah meluncurkan buku biografi berjudul Jejak Penjual Kopi yang ditulis oleh Ferly Marison. Buku itu sudah dilaunching pada, Sabtu (23/8/2025) di Aryaduta Hotel Palembang.
Chairul mengatakan, buku Di Balik Toga Hitam akan memberikan perspektif baru mengenai dunia hukum di Indonesia. Buku ini bukan sekadar catatan kasus, melainkan sebuah narasi mendalam tentang perjuangannya sebagai pengacara dalam mencari keadilan di tengah labirin hukum yang sering kali dingin dan kaku.
Judul Di Balik Toga Hitam dipilih untuk melambangkan apa yang tidak terlihat oleh publik saat seorang pengacara berdiri di depan hakim. Jika selama ini pengacara identik dengan ketegasan dan retorika di ruang sidang, buku ini justru menyoroti dilema moral tentang pertarungan batin antara nurani dan profesionalisme saat menangani kasus-kasus pelik.
Pengorbanan personal seperti waktu, keluarga, hingga ancaman keselamatan yang sering kali menjadi “harga” yang harus dibayar. Kemudian sisi humanis klien tentang kisah-kisah rakyat kecil yang mencari secercah harapan di tengah sistem yang rumit.
“Saya ingin mematahkan stigma bahwa hukum hanya milik mereka yang berkuasa. Saya ingin mengajak pembaca mengikuti perjalanan dari meja hijau hingga ke pelosok daerah, di mana keadilan sering kali harus dijemput dengan keringat dan air mata,” katanya.
“Toga hitam ini bukan sekadar seragam. Ia adalah beban tanggung jawab. Di baliknya ada detak jantung yang berdegup kencang setiap kali kami memperjuangkan nasib seseorang,” Chairul menambahkan.
Chairul mengatakan, menjadi pengacara bukan sekadar tampil perlente di ruang sidang. Di balik kemegahan retorika mereka, ada jam-jam panjang yang dihabiskan untuk riset, diskusi malam yang melelahkan, dan pergulatan batin tentang apa itu keadilan yang sebenarnya.
“Di Balik Toga Hitam bukan hanya tentang profesi, melainkan tentang manusia yang mencoba menyeimbangkan antara hukum tertulis dan keadilan nurani,” katanya.
Chairul mengungkapkan bahwa motivasi menulis buku ini adalah untuk memberikan edukasi sekaligus inspirasi.
“Banyak orang mengira pengacara itu hanya soal menang perkara dan uang. Lewat buku ini, saya ingin bilang bahwa hukum itu punya hati. Ada tangis yang harus kita hapus dan ada hak yang harus kita jemput,” ujar Chairul dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Buku ini juga menyisipkan pesan kuat bagi generasi muda di Sumsel agar tidak takut bermimpi menjadi penegak hukum yang jujur. Baginya, menjadi pengacara adalah panggilan jiwa, bukan sekadar profesi mencari nafkah.




