Oleh: Ki Edi Susilo
Sekretaris Jenderal Himpunan Keluarga Tamansiswa Indonesia (HIMPKA Tamansiswa)
Palembang, LamanQu.Com – Dunia mengawali tahun 2026 dengan guncangan hebat yang merobek nalar hukum internasional. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh operasi militer Amerika Serikat di Caracas bukan sekadar manuver politik. itu adalah Terorisme Negara yang dilegalkan oleh laras senapan.
Washington tidak sedang menegakkan hukum; mereka sedang mempertontonkan premanisme global di halaman belakangnya sendiri.
Namun, yang jauh lebih menyedihkan dari agresi Amerika adalah sikap diamnya Indonesia. Di tengah gemuruh ketidakadilan ini, saya melihat Garuda kita hanya diam terpaku. Macan Asia yang sering kita banggakan di podium kampanye domestik mendadak kehilangan suaranya, tampak lunglai dan kehilangan taji di panggung diplomasi dunia.
Anatomi Perlawanan dan Blunder Global
Caracas tidak menyerah. Melalui aktivasi rencana pertahanan nasional dan dekrit “Keadaan Guncangan Eksternal”, Venezuela telah memilih jalur perang semesta melawan agresi imperialis. Mereka berdiri di atas Pasal 51 Piagam PBB tentang pembelaan diri.
Tindakan Donald Trump adalah kalkulasi keliru yang bersifat “eksperimental”. Dengan menghancurkan kedaulatan Venezuela, AS seolah ingin menguji nyali aliansi BRICS dan poros perlawanan global. Secara strategis, ini adalah blunder.
Penculikan kepala negara berdaulat tanpa mandat internasional hanya akan memicu radikalisasi global. Jika preseden ini dibiarkan, maka kedaulatan negara mana pun, “termasuk Indonesia di Laut Natuna” akan selalu berada di bawah bayang-bayang ancaman “hukum rimba” kekuatan besar.
Diplomasi “Cari Selamat” dan Belenggu Utang
Mengapa Kemenlu kita begitu lembek? Mengapa pernyataan resmi Jakarta hanya sebatas diksi “prihatin” yang hambar? Jawabannya mungkin terselip di dalam buku besar utang luar negeri dan ketergantungan investasi.
Kita sedang terjebak dalam diplomasi “perut kenyang, nyali hilang”. Kita gagah berani meneriakkan nasionalisme di dalam negeri, namun tak berkutik saat sang “Polisi Dunia” melakukan penculikan di negara lain. Kita seolah lupa bahwa kemerdekaan itu, sebagaimana amanat Bung Karno, adalah jembatan emas untuk berdiri sama tinggi, bukan untuk menjadi pelayan kepentingan adidaya demi menjaga stabilitas indeks pasar saham.
Mengubur Roh CONEFO
Tahun 1965, Bung Karno tidak butuh izin siapa pun untuk menggagas CONEFO (Conference of New Emerging Forces). Beliau paham bahwa PBB seringkali hanya menjadi alat bagi pemegang veto untuk melegalkan kesewenang-wenangan. Bung Karno membangun harga diri bangsa yang tidak bisa dibeli.
Hari ini, roh itu tampaknya telah dikubur dalam-dalam oleh para pengambil kebijakan di Pejambon. Kita lebih takut pada fluktuasi investasi daripada hilangnya wibawa bangsa. Jika Indonesia hanya berani mengaum di hadapan rakyat sendiri namun “manut” saat kedaulatan negara sahabat dikangkangi, maka gelar “Macan Asia” hanyalah olok-olok sejarah. Kita telah berubah menjadi kucing rumahan yang mengeong manis saat tuannya datang membawa janji bantuan ekonomi.
Menagih Keberanian Indonesia
Petuah kuno mengatakan, “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”. Segala kekuatan akan luluh oleh kebajikan. Namun ingat, kebajikan dan kebenaran tidak bisa ditegakkan tanpa keberanian (Sura).
Indonesia, sebagai pemegang amanah politik luar negeri Bebas Aktif, wajib mengecam keras serangan washington ke Caracas dan penculikan Maduro. Indonesia harus.
Pertama Menjadi Lokomotif Diplomasi, dengan Menggerakkan Gerakan Non-Blok (GNB) untuk menuntut akuntabilitas Washington di PBB.
Kedua Membangun Tatanan Baru, dengan Mempelopori kekuatan dunia baru yang tidak disetir oleh satu negara adidaya.
Ketiga Kewaspadaan Energi, dengan Segera mengamankan ketahanan energi nasional dari dampak inflasi konflik Karibia tanpa harus mengemis pada aktor intelektual konflik tersebut.
Dunia hari ini tidak lagi memiliki wasit. Jika kita membiarkan Caracas terbakar hari ini, kita sebenarnya sedang membiarkan dunia masuk ke dalam kegelapan kekacauan tanpa batas. Jangan biarkan Garuda hanya gagah di lambang negara sementara sayapnya lunglai terjerat tali utang. Indonesia harus tegak, atau kita akan selamanya menjadi penonton yang mengangguk-angguk di pojokan sejarah.




