Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam, Pelanggan Setia Batik Air Lion Group
Palembang, LamanQu.Com – Sruputan kopi hitam pagi ini terasa lebih tajam. Bukan karena takarannya yang meleset, tapi karena membayangkan betapa ringkihnya sistem keamanan “langit” kita. Di pojok warkop, orang-orang sibuk menghujat Khairun Nisya, gadis 23 tahun asal Palembang yang nekat “nyaru” jadi pramugari Batik Air. Tapi saya? Saya justru ingin mengangkat gelas kopi ini tinggi-tinggi dan berkata; Terimakasih, Nisya.
Kenapa berterimakasih pada seorang yang berbohong? Karena lewat koper dan seragam hasil belanja online itu, Nisya baru saja melakukan “audit keamanan” paling jujur yang pernah ada. Tanpa alat canggih, tanpa ancaman bom, ia berhasil melenggang masuk ke perut pesawat rute Palembang–Jakarta ID 7058 sebagai extra crew. Ia menelanjangi satu kenyataan pahit: sistem keamanan maskapai kita ternyata masih bisa disuap oleh sekadar “tampilan visual” dan atribut kain.
Sembilu di Balik Kain Batik
Sebagai pelanggan setia Batik Air “yang sering duduk termenung di kursi kabin sambil memperhatikan detail layanan” saya merasa perlu memberikan dukungan moral untuk Nisya. Tentu, kita perlu melihat ke dalam batin Nisya yang remuk. Ia bukan kriminal. Ia hanyalah anak manusia yang tersesat di labirin ekspektasi. Gagal seleksi tapi takut pulang membawa malu, ia menjahit kebohongannya demi satu hal; membahagiakan orang tua.
Ada kesedihan yang dalam saat membayangkan Nisya berdandan rapi, menyanggul rambutnya dengan tangan gemetar, lalu melangkah ke bandara membawa beban kebohongan yang beratnya melebihi batas bagasi kabin. Di balik seragam putih dan kain batik merah itu, ada jantung yang berdegup kencang karena takut, sekaligus rindu akan pengakuan sebagai “orang berhasil”. Nisya, saya berdiri di sampingmu secara moral; saya paham betapa kerasnya dunia menuntut kita untuk selalu terlihat sukses.
Hacker di Atas Awan
Namun, drama kemanusiaan ini adalah tamparan keras bagi seluruh maskapai di Indonesia. Di dunia teknologi informasi, ada istilah White Hat Hacker, mereka yang meretas sistem bukan untuk merusak, tapi untuk menunjukkan di mana letak “bug” atau celah keamanannya. Dalam dunia digital, peretas seperti ini justru direkrut atau diberi penghargaan tinggi karena telah menyelamatkan perusahaan dari serangan yang jauh lebih berbahaya di masa depan.
Nisya adalah “hacker” di dunia penerbangan kita. Ia masuk tanpa merusak, tapi ia menunjukkan bahwa pintu “firewall” maskapai kita sangat keropos. Jika seorang gadis yang hanya bermodal nekat dan atribut toko online bisa lolos hingga onboard, bagaimana jika yang memakai seragam itu bukan Nisya yang rindu pujian ibu, melainkan sosok dengan niat jahat atau teroris yang ingin membajak pesawat?
Maskapai seharusnya tidak hanya menyita atribut Nisya. Mereka harus menyita ego mereka dan berterima kasih secara tersirat. Kejadian pada 6 Januari 2026 ini adalah stress test gratis yang menyelamatkan nyawa di kemudian hari.
Hukum memang sudah selesai dengan jalan damai dan surat pernyataan. Tapi bagi kita para pengguna jasa penerbangan, Nisya adalah pengingat bahwa keamanan tidak boleh hanya berdasarkan “seragam”, melainkan sistem verifikasi data yang tak bisa ditembus sandiwara.
Maka, biarlah ampas kopi ini menjadi saksi. Kita tidak membenarkan kebohongan, tapi kita butuh kejujuran dari apa yang ia tunjukkan secara tidak sengaja.
Sekali lagi, Terimakasih, Nisya. Karena ulah nekatmu, kami jadi tahu bahwa sistem keamanan bandara kita sedang butuh “reboot” total. Sekarang, giliran para petinggi maskapai yang harus bekerja keras memperbaiki celah itu, agar kami bisa terbang dengan rasa tenang.




