Ketika Karyawan Tidak Dianggap Aset Maka Sebutan Bebanlah Harus Diberikan

LamanQu.com – Judul diatas memang terlalu extrem jika kata Aset bertubrukan dengan kata beban, karena ini menyangkut anggapan dan sudut pandang yang tentu saja relatif berbeda dari para pemangku kebijakan di sebuah perusahaan.

Fakta nya fakar SDM sering kali menyebut karyawan yang peformanya baik disebut sebagai Aset Tapi alasan kenapa para HR tidak memperpanjang PKWT karena karyawan tersebut hanya menjadi beban. Jadi wajar saja jika kata kata yang sering muncul dalam meeting para staf menyebut ungkapan misalnya, ” Masih banyak orang yang ingin kerja peluang cuma sedikit saja” atau ” Mau berhenti iya pilihan, kami masih bisa mampu cari orang bisa ganti posisi anda”.

Jadi yang sebenarnya seperti apa anggapan pemilik perusahaan terhadap karyawan nya itu?
Apakah perlu menulis pertanyaan karyawan adalah aset atau beban?
Tak asing mungkin pertanyaan diatas, saya kira banyak dipertanyakan oleh sebagian banyak orang. Dan sebenarnya dari judul inipun, kalau kita nalar bagi pembaca sudah tahu jawabannya. Namun dalam praktek-praktek perusahaan di negeri ini, bisa menggabungkan keduanya.
Mengapa saya mengatakan demikian? Sejak perusahaan berdiri, sudah pasti mempunyai visi dan misi yang akan diraih. Visi dan misi ini sebenarnya merupakan roh perusahaan untuk menggerakkan karyawan agar ikut berperan penting bagi kelangsungan hidup perusahaan. Dengan dasar visi dan misi ini, dan tentunya nilai yang terkandung didalamnya, mari kita telaah satu persatu pertanyaan diatas.
Karyawan adalah aset perusahaan. Mengapa demikian? Perusahaan berkembang tidak lepas dari peran karyawan. Dan sekecil apapun peran karyawan, perusahaan tidak dengan serta merta mengabaikannya. Kita bisa melihat ini dari proses awal perekrutan karyawan, perusahaan menetapkan standart tertentu agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dari proses perekrutan ini, dapat dilihat bahwa perusahaan sangat membutuhkan keahlian calon karyawan. Jadi ada proses saling membutuhkan, dengan dasar ketentuan aturan perusahaan. Dari sisi karyawan, dapat dilihat adanya peluang dan harapan untuk memberikan keahliannya bagi perusahaan. Keahlian adalah sesuatu yang mahal. Apalagi ditambah calon karyawan tersebut memunyai bakat tertentu yang tidak dimiliki oleh yang lain. Saya yakin orang-orang yang berbakat ini akan menggerakkan perusahaan meraih tujuannya sekaligus mampu bersaing dalam dunia bisnis.
Kalau berbicara mengenai bisnis, salah satunya akan menyentuh soal profit. Ketika perusahaan tanpa profit, untuk apa perusahaan itu berlama-lama berdiri. Sudah pasti akan runtuh menjadi abu. Dan dampaknya tidak hanya bagi owner tapi karyawan yang berkarya didalamnya.

Sejak perusahaan tiap bulan targetnya turun, yang gerah tidak hanya owner atau pemegang saham atau direktur dan manajer, tetapi mereka-mereka yang berada di level karyawan juga. Pada prinsipnya semua yang terlibat dalam pengembangan perusahaan pasti gelisah dan risau.

Maka dikeluarkanlah kebijakan khusus untuk menanggulangi krisis perusahaan. Kebijakan ini yang akan dijalankan oleh semua level di perusahaan tersebut. Jadi berkembang ataupun runtuhnya perusahaan tidak lepas dari karyawan.
Apabila perusahaan memasukkan karyawan sebagai asset, tentunya ada beberapa hal yang menjadi kepedulian perusahaan. Atas dasar aset ini, perusahaan memberikan hak bagi karyawan. Termasuk gaji, cuti, THR, kesehatan, kesejahteraan keluarga dan lain sebagainya Perusahaan juga akan memperhatikan, fokus pada assetnya yang berharga.
Bahkan diluar itu perusahaan memberikan bonus bagi karyawan yang berprestasi. Mungkin juga memberikan kebebasan bagi karyawan yang mau mengembangkan potensinya dan bakatnya.

Ini sudah diatur dalam perundang-undangan dan hukum dalam tata cara SDM serta aturan yang dikeluarkan perusahaan. Kalau semua pihak menyadari hal ini, keselarasan hubungan industrial akan berjalan dengan baik, sehingga tercapailah visi misi perusahaan.

Berbicara mengenai karyawan merupakan beban perusahaan, kita patut melihat secara jeli. Berarti perusahaan hanya memanfaatkan bakat keahliannya untuk mengembangkan tanpa memberikan hak karyawan. Kalau begitu buat apa perusahaan membutuhkan karyawan?.
Bukankah akan lebih baik perusahaan menggunakan robot. Jadi dengan robot perusahaan tidak akan lagi berpikir memberikan THR, gaji dan seterusnya. Bahkan perusahaan menghilangkan unsur sosial sebagai bagian dari keberadaannya di tengah masyarakat.
Perusahaan juga menghilangkan hak karyawan, baik secara terang-terangan dan dengan cara yang halus. Bisa jadi perusahaan hanya menganggap karyawan sebagai robot tanpa melihat sisi manusiawinya. Bekerja, bekerja dan bekerja!!!!

Padahal satu sisi karyawan tidak hanya sekedar menginginkan bahwa perusahaan hanya mengukur dari gaji, namun ada keinginan dari karyawan yang lain, yaitu dipenuhinya kehausan rohani. Misalnya rekreasi, outing atau training dan sebagai nya. Sekaligus perhatian dari perusahaan, secara prinsip. Memanusiakan manusia, yang artinya perusahaan perlu menyentuh hal yang berhubungan dengan sisi kejiwaan dan pribadi karyawan. Menghargai keseluruhan potensi yang dimiliki karyawan. Semoga bermanfaat.