Plus-Minus Generasi Milenial Di Tempat Kerja, Simak 5 Karakteristiknya

LamanQu.com – Gaya Hidup Generasi Milenial sebagian menilai bahwa merupakan Pola hidup yang tak suka banyak aturan yang mengekang ganggu produktivitas.
Secara usia juga generasi milenial atau generasi Y (kelahiran 1980-2000) termasuk generasi yang mudah berpindah kantor/pekerjaan, dalam rentang waktu di bawah 2 tahun. Ini menyebabkan generasi Y dicap sebagai generasi yang tidak punya etika kerja yang baik. Padahal karakteristik generasi Y tidak hanya sekedar menjadi kutu loncat di tempat kerja.

Gen Y Loyalitasnya Lebih Rendah Pada Pekerjaan. Generasi Y, sama seperti generasi-generasi pendahulunya punya banyak karakteristik positif yang bisa jadi nilai plus di tempat kerja juga di kehidupan sehari-hari. Namun, ada juga karakteristik negatif yang menyertai.

Ini dia 5 karakteristik lain dari generasi Y yang patut Anda ketahui.

1. Melek teknologi

Dibandingkan generasi sebelumnya (kelahiran 1960 atau dikenal dengan generasi X), generasi Y memang fasih menggunakan teknologi. Meskipun para milenial awal masih mengalami masa-masa analog tanpa internet, pada dasarnya generasi Y bisa dibilang terdepan dalam hal memanfaatkan teknnologi, ini bisa jadi poin plus. Namun, sayangnya, generasi milenial bisa dikatakan memiliki ketergantungan berlebih terhadap teknologi

2. Serba instan

Terbiasa mendapatkan informasi secara cepat lewat internet, juga mendapatkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari membuat generasi ini dikenal menginginkan semua hal, termasuk peningkatan karier dilakukan dengan cepat, ini yang jadi pendorong generasi Y menjadi kutu loncat.

3. Jago multitasking

Distraksi yang ditimbulkan oleh kehadiran teknologi membuat para milenial terbiasa mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu bersamaan. Bekerja sambil mendengarkan musik dan membalas pesan singkat, misalnya. Kebiasaan multitasking punya efek positif dalam bekerja, tetapi seringkali dianggap negatif karena terkesan tidak fokus.

4. Narsistik

Banyak paparan yang menyebutkan bahwa generasi Y atau para milenial adalah generasi yang egois dan mementingkan diri sendiri. Namun, sebetulnya teknologi dan media sosial adalah medium yang mendorong perilaku ini. “Lewat media sosial, para milenial menggunggah imaji diri yang lebih baik dan lebih sempurna, setelah itu mereka akan rajin mengecek respons dari para follower di dunia maya. Kebiasaan ini yang menyebabkan meningkatkan narsisme di kalangan generasi Y,” terang Keith Campbell, profesor di bidang Psikologi dari University of Georgia seperti dikutip dari ppm manajemen.

5. Kreatif, fleksibel, dan percaya diri

Selain perkembangan teknologi, pola asuh orangtua terhadap para milenial juga berpengaruh pada pembentukan karakter. Orangtua generasi Y cenderung lebih protektif, penuh dukungan dan tak ragu memberikan bantuan di segala tahap kehidupan para milenial, dan meninggalkan pola didikan keras yang diberikan orangtua mereka. Dibesarkan dalam lingkungan positif seperti ini menjadikan milenial sebagai pribadi yang percaya diri dan kreatif. Generasi Y juga lebih outspoken (berani) mengemukakan pendapat, selalu ingin dilibatkan, dan fleksibel (tidak mengindahkan hierarki) sehingga sering dianggap tidak sopan dan sering bertindak overlaping.(womantalk)