Ternyata Filsuf Barat “Existency Theory” Tersimpan Kisah Hidup Tragis

LamanQu.com-Anda suka baca Filsuf Barat dan ini salah satu paling fenomenal dan populer. Pemikirannya tentang masa depan semakin mendekati kenyataan, katanya manusia semakin eksis dalam berkarya dan menciptakan sesuatu. Manusia semakin mengambil alih dalam memaknai dunia dan hidupnya.

Manusia semakin tahu dengan hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya, dan nilai-nilai budaya usang seperti agama dan adat-istiadat hanya menjadi simbol tradisi saja yang tidak lagi menyentuh alam pikiran. Manusia hanya termotivasi bagaimana untuk tetap hidup dan eksis tanpa harus berfikir bagaimana kehidupan itu diciptakan dan dipertahankan.
Seluruh dunia mengenal dia dengan Nietzche sang pemikir theori Existensi.

Bernama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzsche lahirkan pada 15 Oktober 1844 di Röcken bei Lützen, wilayah Sachsen, terletak di daerah pedesaan tanah pertanian di sebelah barat daya Leipzig, Jerman. Dinamakan Friedrich Wilhelm karena hari kelahirannya sama dengan hari kelahiran Friedrich Wilhelm IV, seorang raja Prusia yang sangat dihormati pada masanya, karenanya, merupakan kebanggaan bagi Nietzsche kecil karena hari kelahirannya selalu dirayakan banyak orang.

Berasal dari keluarga yang taat kepada Protestan Lutheran, karena ayahnya, Carl Ludwig beserta kakek-neneknya merupakan biarawan, kecuali ibunya, Franziska Nietzsche, ia bukan seorang yang dekat dengan profesi suaminya (biarawati).

Nietzsche merupakan anak pertama. Ia mempunyai adik laki-laki dan perempuan. Adik perempuannya bernama Elizabeth lahir pada tahun 1846 sedangkan adik laki-lakiny bernama Joseph lahir pada tahun 1849. Kehidupan keluarga Nietzsche sangat bahagia, namun kebahagiaan ini tidak berjalan lama karena pada tahun itu pula sang ayah meninggal.

Setahun kemudian, Joseph, sang adik meninggal dan menyebabkan keluarga ini pindah ke Naumburg dan Nietzsche tinggal di lingkungan keluarga ibunya yang kebanyakan adalah perempuan.

Pada usia 10 tahun (1854), Nietzsche masuk Gymnasium yang terletak lima mil dari kota Naumburg yang merupakan sekolah asrama yang menerapkan peraturan sangat ketat tak ubahnya bagai hidup di penjara. Nietzsche kecil bukanlah murid yang pandai bergaul. Disana, teman-temannya mengenalnya sebagai pendeta kecil karena selalu menyendiri. Namun, empat tahun kemudian, ibunya memintanya pindah ke kota Pforta.

Di sana ia belajar di sebuah sekolah asrama Lutheran. Ia mulai membaca karya-karya para sastrawan dan pemikir besar, seperti Schiller, Hölderlin dan Byron, ia juga meminati kejeniusan kebudayaan Yunani kuno terutama pemikiran Plato dan Aeschylus. Pada tahun-tahun terakhir di Pforta, Nietzsche sudah menunjukkan sikap liar dengan mengarang “Ohne Heimat” (tanpa kampung halaman) yang di dalamnya memuat gejolak hatinya yang ingin bebas dan berharap bisa dipahami.

Pada tahun 1864 Nietzsche melanjutkan studi di Universitas Bonn bersama temannya, Paul Duessen. Saat bersama Nietzsche, Dussen pernah mengatakan bahwa do’a itu hanyalah ilusi belaka dan kemudian Nietzsche menanggapi dengan mengatakan: “itu salah satu dari kedunguan Feuerbach”. Nietzsche menanggapi demikian karena waktu itu ia masih memeluk agamanya.

Pada tahun 1865, Nietzsche memutuskan untuk tidak belajar teologi, keputusan ini sangat erat hubungannya dengan keraguannya akan keimanannya dan tentunya mendapat tantangan dari ibunya. Namun ia pernah menulis surat yang isinya

“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, maka percayalah, jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, maka carilah…

dan pemikiran ini yang mendasari Nietzsche untuk menjadi free thinker. Di universitas Bonn, ia hanya bertahan selama 2 semester kemudian pindah ke kota Leipzig untuk belajar filologi klasik selama 4 semester di bawah bimbingan Friedrich Ritschl dan hal ini banyak membantu kemahiran Nietzsche dalam bidang filologi klasik.

Di sini ia banyak mendapatkan penghargaan di bidang filologi klasik dari universitas. Di sini pulalah, secara kebetulan di tukang loak, dia menemukan buku Schopenhauer yang berjudul “Die Welt als Wille und Vorstellung”. Di kota ini pula, ia meninggalkan agamanya.

Tahun 1867 sampai 1868, Nietzsche mengikuti wajib militer untuk melawan Perancis sebagai salah satu penunggang kuda resimen artileri lapangan dekat Naumburg dan di sana ia mendapatkan banyak pengalaman yang tak terduga. Masa dinasnya berakhir karena ia mengalami kecelakaan jatuh dari kuda dan terluka.

Setelah berakhirnya masa dinas militer, Nietzsche merasa studi filologi itu hambar dan mati, namun pendapat ini berubah setelah ia berkenalan secara pribadi dengan musisi Richard Wagner di rumah Herman Brockhaus (1806-1877), seorang ahli pengetahuan ketimuran yang telah menikah dengan adik Wagner. Dari sinilah Nietzsche memperoleh optimismenya kembali bahwa kebebasan dan karya yang jenius masih dapat dicapai asalkan diresapi oleh semangat Wagner.

Pada tahun 1869, atas rekomendasi dari Ritschl, Nietzsche diangkat menjadi professor luar biasa jurusan filologi klasik dan mendapatkan gelar doktornya tanpa ujian. Ia kemudian mengajar di Universitas Basle.

Setelah mendapatkan itu semua, Nietzsche berencana melepaskan kewarganegaraan Prusia. Kemudian ia mulai mengawali serangkaian kunjungan idilisnya pada Wagner di daerah Tribschen, dekat danau Lucerne.

Pada bulan Maret tahun 1870, Nietzsche diangkat menjadi profesor penuh. Sejak saat itu pula secara sukarela, ia ikut dalam perang antara Perancis dan Prusia sebagai perawat medis pada bulan Agustus tahun yang sama. Baru hari keempat sejak keikutsertaannya sebagai tenaga medis, Nietzsche terserang disentri dan diphtheria sehingga ia kembali ke Basle untuk mengajar.

Pada bulan Oktober 1870, Nietzsche bertemu dengan Franz Overbeck dan hidup serumah bersamanya selama lima tahun. Ia banyak belajar kata-kata dan sejarah kuno dari Franz Overbeck yang merupakan seorang sejarahwan.

Beberapa tahun kemudian, Nietzsche terlibat skandal asmara dengan gadis bernama Lou Andreas Salomé. Dalam surat yang diberikan kepada Lou (2 Juli 1882) nampak jelas bahwa ia amat mencintai Lou :

“Hari yang lewat tampak seakan ulang tahunku; engkau kirimi aku persetujuanmu (datang dan tinggal selama tiga minggu), hadiah terbaik yang pernah diberikan orang kepadaku” (Nietzsche, 1977: 14)

Namun pernikahan impiannya gagal karena tidak disetujui oleh kakak perempuannya yang mengetahui adanya asmara segitiga antara Nietzsche, Lou dan Paul Ree. Setelah sadar pernikahannya tidak akan pernah terwujud, ia jatuh ke jurang keputusasaan yang sampai menjadi depresi. Depresi inilah yang lama-kelaman membuatnya gila pada 1889.

Setelah Nietzsche benar-benar menjadi gila, ia dirawat oleh kakak perempuannya hingga akhirnya Nietzsche meninggal pada 1900 di Weimar. Kematiannya termasuk yang tragis, karena selain ia meninggal dalam keadaan gila, ia juga meninggal karena tidak bisa menikahi Lou serta ia juga tidak mengetahui bahwa ibunya juga telah meninggal.