Miris..! Akibat Beda Pilihan Politik, Pekerja Sekolah Selama 5 Bulan Tak Digaji

Bandung, LamanQu.com — Peranan Tata Usaha di Sekolah dalam mengelola Pendidikan terlepas dari tanggungjawabnya secara struktural, tanpa diragukan berada pada porsi rangkaian utama demi mendukung gerbong proses belajar mengajar.
Sederet bidang yang harus dia taklukan dengan segala kerumitan nya tetap dinantikan dengan tangan profesional nya seperti urusan kesiswaan, kepegawaian, peralatan sekolah, urusan infrasturcture sekolah, keuangan, laboratorium, perpustakaan dan hubungan masyarakat.

Inti nya tata usaha sekolah memegang data data penting sebagai basis pelayanan dan bahan pengambilan keputusan sekolah. Semakin lengkap dan akurat data terhimpun maka pemberian pelayanan makin mudah dan pengembilan keputusan makin tepat.

Miris terjadi di Bandung Barat, Juhaeri, S.Pd.I, tata usaha SMK Bandung Barat 2 yang berada di Jl. Raya Cihampelas no. 88, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, mengaku sudah hampir 5 bulan ini gajinya belum juga diberikan.
Menurut keterangan, hal itu dikarenakan beda pandangan politik antara kepala sekolah dengan Juhaeri yang sama-sama menjadi pendukung Cabup-Cawabup masing-masing. Kepsek SMK BB2 pendukung pasangan Doddy-Pupu, sedangkan Juhaeri pendukung Aa Umbara-Hengky Kurniawan (AKUR).
Lebih parah lagi, Juhaeri yang merupakan salah satu perintis SMK tersebut, semenjak itu tidak pernah lagi dilibatkan dalam kegiatan apapun. Termasuk dalam penerimaan siswa-siswi baru pada tahun ajaran ini.

Kepala Sekolah SMK Bandung Barat 2, Drs. Yuyun Yuniarsih, S.Pd.i.,M.Pd, menurut Juhaeri, secara sepihak telah menurunkan jabatannya menjadi Humas dibawah naungan kepala sekolah.
“Jika seperti ini terus, kepsek terkesan akan membuat saya tidak betah bekerja disini dan ingin mengeluarkan saya dengan cara halus seperti rekan-rekan perintis awal yang lain,” ungkap Juhaeri.
Juhaeri mengaku, sejak Bulan April ia tidak mendapat gaji dengan alasan bahwa dana BOS dipakai untuk pembangunan sekolah tersebut.

“Menurut saya ini sudah keterlaluan. Jika benar hal ini karena saya mendukung AKUR, berarti sekolah ini sudah bermain politik praktis,” tandas Juhaeri.
Padahal menurutnya, selama menjadi relawan AKUR ia tidak pernah mengabaikan tugasnya sebagai bidang tata usaha disekolah itu. “Bisa dilihat dari absensi saya. Saya tidak pernah merasa membolos dan melalaikan tugas saya sebagai TU,” aku dia. (UM)