Hoaks Tumbuh Lintasi Zaman, Bagaimana Peran Pemerintah?

Palembang, LamanQu.com- Telah lama kata “hoax” atau “Hoaks” beredar beberapa tahun belakangan ini kerap diperbincangkan di media massa maupun media sosial, karena dianggap meresahkan publik, dengan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Lantas apa itu hoax dan darimana asalnya?

Menurut Lynda Walsh dalam buku berjudul Sins Against Science, istilah hoax atau kabar bohong, merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang masuk sejak era industri. Diperkirakan pertama kali muncul pada 1808.

Seperti dilansir Antara, Jumat 6 Januari 2016, asal kata ‘hoax’ diyakini ada sejak ratusan tahun sebelumnya, yakni ‘hocus’ dari mantra ‘hocus pocus’. Frasa yang kerap disebut oleh pesulap, serupa ‘sim salabim’.

Alexander Boese dalam bukuny, Museum of Hoaxes, mencatat hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak atau penanggalan palsu yang dibuat Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709.

Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John Partridge. Agar meyakinkan publik, ia bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya.

Swift mengarang informasi tersebut untuk mempermalukan Partridge di mata publik. Partridge pun berhenti membuat almanak astrologi hingga enam tahun setelah hoax beredar.

Kemudian salah satu Hoaks yang pernah beredar adalah ancaman asteroid menghantam bumi hingga menyebabkan kiamat. NASA, pada 2015, membantah rumor asteroid jatuh dan mengakibatkan kerusakan besar di bumi.

Menurut mereka, asteroid yang berpotensi berbahaya memiliki 0,01 persen berdampak pada bumi selama 100 tahun ke depan.

“Kalau ada objek besar yang akan merusak pada September, tentu kami sudah bertindak sekarang,” kata Manajer Objek Dekat Bumi NASA Paul Chodas, pada Agustus 2015.

Di Indonesia, saat itu kepolisian sedang melacak penyebar berita bohong mengenai jutaan pekerja asal Tiongkok di Indonesia. Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebelumnya membantah kabar jumlah pekerja Tiongkok di Indonesia, yang mencapai puluhan juta orang. Jokowi menyatakan, ada 21 ribu pekerja asal Tiongkok di Indonesia.

Lantas kenapa Hoaks tersebar menurut Direktur Institute of Cultural Capital di University of Liverpool Simeon Yates, dalam tulisannya yang dimuat di world.edu, Fake News-Why People Believe It and What Can Be Done to Counter It,(Berita Bohong-Kenapa Masyarakat Percaya dan Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi nya?)  menyebutkan ada fenomena bubbles atau gelembung dalam penggunaan media sosial atau medsos.

Pengguna medsos cenderung berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri. Dikaji dari studi kelas sosial, gelembung medsos tersebut mencerminkan gelembung ‘offline’ sehari-hari.

Kelompok tersebut kembali ke model lama, juga bertumpu pada opini pemimpin mereka yang memiliki pengaruh di jejaring sosial. Kabar bohong yang beredar di medsos, menjadi besar ketika diambil oleh situs atau pihak terkemuka yang memiliki banyak pengikut.

Kecepatan dan sifat medsos yang mudah dibagikan (shareable), berperan dalam penyebaran berita. Sebagaimana ditekankan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, kala itu. Kata Obama, “Menjadi sulit membedakan mana yang palsu dari fakta, dan sudah banyak bukti serta butuh perjuangan untuk menghadapi ini”.

Erwin ibrahim,ST.,MM.,MBA selaku Kadis Kominfo Kabupaten Banyuasin Sumsel ditanya apa yang mesti dilakukan untuk menghadapi fenomena hoaks, dia mengatakan bahwa pemerintah harus memberikan informasi secara rutin dan membentuk agen agen informasi sampai ke daerah sebagai agen Desiminasi informasi yg benar.

” Jika informasi benar wujud dimasyarakat secara rutin maka informasi hoax akan hilang secara sendiri nya”, jelas Erwin. “Melalui pejabat pengelola informasi dan dokumentasi (PPDI) dan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat)
lanjut dia, “Berita hoax pasti ada, tetapi dengan memberitahu informasi benar secara rutin maka akan bisa mengurangi hoaks”, tutup orang No 1 di Kadisinfokom Banyuasin ini.