Ya Cacam! Masyarakat Sumsel Lebih Dewasa Berpolitik Satu Langkah Dari Penyelenggara Nya

Reporter: Nedyanto | Editor: Arjeli SS

Palembang, LamanQu.com – Sesuai agenda Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Selatan, Debat Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel 2018 digelar, bertempat di Hotel Wyndham OPI,  Palembang, Kamis (21/6/18).

Debat terbuka ini dimulai sejak pukul 19:30 dan berakhir pukul 21:30 WIB yang diikuti oleh empat pasang Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel 2018.

Tysa Novenny Presenter TV One, pada Debat Terbuka Pilgub Sumsel 2018 ini, bertindak selaku moderator berupaya menenangkan audiens yang berteriak kecewa.

Pasalnya saat berlangsungnya gelaran debat dimana semua jutaan pasang mata masyarakat terfokus pada layar TV masing masing, eh malah kejadian atau sebuah aksiden yang tidak seharusnya terjadi.

Mati lampu (padamnya aliran listrik) yang membuat acara langsung dihentikan sejenak oleh moderator atau pembawa acara.

Pertanyaan dan spekulasi bercampur prasangkah terhujam pada penyelenggara acara. Tidak becuskah? Sabotase dan sebagai nya. Tak luput dari sangkaan juga dalam hal ini, Hotel Grup Wydham,  sebuah grup Tourism Industry, terbesar di Asia Tenggara atau sering memakai istilah Hospitality Industry. Malam ini Hospitality nya atau keramahtamahan nya minggat, lenyap kemana hingga hal memalukan ini terjadi.

Untung nya, Paras cantik nan berwibawah besutan wartawan senior Karni Ilyas ini,  memang sudah ditempah, selain memang mungkin mengantongi talenta sejak lahir, bisa saja dia meredam suasana malam itu.

Artikulasi yang fasih sering keluar dari mulut mungil mojang Bandung itu, “Mohon tenang bapak, Ibu dan tamu undangan, acara akan segera dilaksanakan setelah pihak bersangkutan membenarkan genset,”

Bisa saja sang penguasa acara itu memilih kata ‘pihak bersangkutan’?

Ya saat tulisan ini dilansir tak banyak yang selidiki, ya setidaknya cari tau atau karena permintaan maaf kah? Mungkin karena kurang penting?

Memang sudah sifat kita selalu sepeleh kan sesuatu yang sebenarnya bukan sepele.

Ini soal wibawah, soal negara dan penyelengaraan negara  walaupun tingkat daerah, tetap daerah adalah bagian dari negara

Daerah siapa, ya daerah kita Sumsel tercinta, siapa lagi kalau bukan kita ini saja yang seharus marah.

Pemandangan bahasa retorika dan permainan kata membanjiri Acara Debat terbuka malam itu.

Bagindo Togar Bb, yang sering kita mintai pendapat berujar pada awak media katanya,
” Sangat menyayangkan perhelatan debat kandidat terbuka sessi ke II Pemilihan Gubernur Sumsel yang dilaksanakan di Salah Satu Hotel baru beroperasional di Palembang, ” Tercoreng” oleh padamnya lampu selama dua kali, dalam beberapa menit, penyebabnya genset milik stasiun TV swasta yang menyiarkannya ada masalah teknis”
Kemudian Togar melanjutkan, “pembawa acara yang bersolo lisan dan tata cahaya yang kurang kontras, mengakibatkan lalulintas debat menjadi kurang maximal”.
Ditambah panelis yang mengajukan pertanyaan yang tidak mampu menyesuaikan dengan durasi waktu yang begitu terbatas.
“Memang para akademisi yang menjadi panelis dalam acara debat kandidat sangat berkelas, akan tetapi terkesan dipahami ” Berat ” bagi Para Paslon Gubernur dalam menjawab, dalam bahasa sederhana atau mudah dimengerti oleh audiens.
Akhirnya pembahasan tema besar dalam debat ini, peningkatan daya saing daerah, menjadi bias.
Akan tetapi bila menyoroti kapabilitas para Paslon secara keseluruhan, dari empat sessi alur acara debat terbuka ini, diungkapkan Bagindo Togar, Paslon nomor 1 begitu seronok percaya dirinya, khusus sosok calon Gubernur, terkesan ” Sepele ” atau tanpa persiapan yang berarti ketika akan mengikuti acara debat.
“Misalnya dalam opening statement melakukan over spending time , menjawab pertanyaan panelis dan para Paslon lainnya, kurang jelas deskripsi atau tujuannya, lebih mengandalkan retorika, normatif dan tebar pesona,” capnya.
Mengenai Paslon Gubernur nomor urut 2, untuk debat  kali ini, mampu mencuri perhatian audiens juga penonton diluar panggung debat, karena penampilannya yang rapi, casual, lugas, santun dan realistis dalam bertanya dan memberi jawaban.
“Sepertinya paslon nomor dua mampu mampu memposisikan diri sebagai figur yang mampu merangkul antar paslon lain, yang tengah memuncak ambisinya untuk segera menjadi pemenang dalam kontestasi pilkada ini,” ujarnya.
Sedangkan paslon nomor 3, kelihatan lancar dan jelas dalam menyatakan program kerja,visi misi maupun jawaban atas pertanyaan panelis maupun perwakilan warga.
“Mungkin saja hal ini dikarenakan, kombinasi latar belakang Paslon,yakni pasangan birokrat berpengalaman dengan akademisi profesional. Walau tak terhindarkan agak textual serta kurang plus intonasi penyampaiannya,” jelas Bagindo.
Sedangkan, Paslon nomor urut 4, energinya relatif banyak terkuras untuk tampil sempurna yang justru “menjadi tidak sempurna” membangun performa menjadi  paslon yang sangat siap mengikuti event debat kandidat ini.
“Walau tak bisa dipungkiri Paslon nomor 4, memiliki kemampuan mumpuni dalam memberi jawaban, maupun penjelasan atas pertanyaan yang disampaikan kepada mereka,” tandasnya.
Dilanjutkan Bagindo, “Memang, tujuan dan efekfitas debat terbuka kandidat Pilkada Gubernur Sumsel, bukan menjadi acuan utama para pemilih dalam mengambil keputusan pilihan politik masyarakat, dalam menentukan pemimpin daerah ini untuk periode 5 tahun kedepan, akan tetapi, melalui media debat seperti ini, publik diharapkan memperoleh manfaat atau masukan tambahan akan kualitas profil calon Gubernur yang telah atau kelak didukungnya”.
“Sehingga, lanjut Bagimdo, pemilih tidak terjebak atau salah pilih, memberikan hak politiknya kepada Figur  dalam artian pemberi cek kosong”
“Dimana sesungguhnya pemerintah adalah fasilitator serta regulator pembangunan. Itu juga bukan berarti semua permasalahan dan tuntutan masyarakat bisa diserap serta dengan mudahnya diselesaikan oleh pemerintah,” pungkasnya.
 Sisi lain yang mungkin menarik dibeberkan disini, mengenai debat Cagub Sumsel semalam yang kental dengan kedaerahan masyarakat Sumsel. Masih ada kesantunan komunikasih dalam bersapah.
Mungkin karena mereka para Paslon ini unggul dari daerah nya masing masing dan juga pernah sama samengawaki sebuah ormas atau Parpol dalam rekam jejak karir masing masing.
Pada sesi tanya jawab antar Paslon, sapaan ‘Dindo’ dan ‘Kando’ sering keluar ketika atensi pertanyaan dilempar ke salah satu Paslon oleh salah satu Paslon.
Misal HD sering menyapa Paslon 4, ‘Dindo Dodi’  dan ketika dia dapat giliran bertanya pada Paslon 3 HD juga panggil Paslon dengan sapaan ‘ Kando Ishak’  serta ‘Kando Wari’
Begitu juga pada giliran Paslon yang lain.
Tutur sapa ini cermiman kesantunan calon calon pemimpin Sumsel yamg dewasa berpolitik Serta indikasi masyarakat Sumsel yang makin cerdas tidak gampang terprovokasi, tak mudah tergiring isu.
Maka sering terdengar  dengan gerutu atau “berotok’ misal nya,” kendak nyo la oi mati la situ’. Bentuk  ungkapan tak perduli dengan hiruk pikuk di depan mata.
Semogah Sumsel tetap berjaya!.