Bagikan Takjil 200 Paket Gratis, Anak Punk Rubah Image Masyarakat

Reporter: Rahmat Septiawan | Editor: Arjeli SS

Palembang, LamanQu.com – Anak-anak jalanan atau yang lazim di sebut sebagai anak punk telah di pandang dengan image yang buruk di kalangan sebagian Masyarakat, dengan gaya-gaya ala (maaf) berandalan, skinhead dan penampilan yang tak lazim, biasanya anak punk sering di kaitkan dengan hal-hal yang berbau narkotika, mabuk-mabukan, bermusik tak jelas dan kekerasan.

Namun pada Minggu, 3 Juni 2018. Ada hal yang sedikit berbeda dari anak-anak punk yang selalu di pandang buruk, kini di Sumatera Selatan mereka mampu mengubah pandangan Masyarakat Palembang bahwa Anak punk juga bisa berbuat kebaikan, pasalnya pada puasa ke-18 di bulan Ramadhan sejumlah anak-anak punk berkumpul dan bersatu untuk berbagi takjil kepada sesama.

Sejumlah 200 takjil yang mereka bagikan di pelataran simpang 5 (Lima) DPRD Provinsi ini mampu menarik perhatian pengendara yang melintas, dan hal ini merupakan tontonan unik tersendiri bagi pengendara mobil maupun motor.

Dengan Tema Palembang for the Punk, kegiatan yang tergabung ke dalam Karno Kito Punk ini berguna untuk mempererat tali silahturahim di antara sesama punk dan guna untuk menunjukan bahwa tidak selamanya anak punk itu berperilaku buruk.

Salah seorang perwakilan Punk, Ardhy Fitriansyah biasa dipanggil Anang mengaku bahwa giat ini merupakan tindakan positif dan anak punk juga bisa berbagi tidak hanya bisa berdandan semberawut, “bahwa punk tuh biso berbagi, biso berbuat hal positif lah. Idak do seperti yang ado di stigma Masyarakat yang selamo ini tau punk itu cuma biso bemusik dan bedandan semberawutlah tapi kami jugo biso membuktikan diri bahwa kami biso berbagi dan berbuat,” Ungkap Anang.

Ardhy Fitriansyah perwakilan anak punk saat diwawancarai awak media

Anang mengharapkan dari kegiatan ini dapat membuka pandangan Masyarakat bahwa sebagian anak punk juga bisa berbagi dan berkarya, “harapan kedepan mampu membukakan mato Masyarakat bahwa kami ni idak cuma sekedar biso ngamen, bemusik tapi kami jugo biso berbagi, kreatifitas kami banyak lagu-lagu dewek ado. Kemudian Kami jugo biso berkarya; dengan nyablon, biso nyari duet dewek dengan bikin pin, sablon baju dan sebagainya. Jadi intinyo kami ingin buka mato Masyarakat bahwa kami tidak seburuk yang mereka duga dan bahwa kami biso berbuat hal positif,” kata Dia.

Kegiatan yang di adakan setiap tahun ini merupakan kegiatan ketiga pada dua tahun terakhir dan 200 Takjil yang mereka bagikan merupakan hasil dari patungan 15 ribu perorang.

“Ini sekitar 200 Takjil dari hasil CK (patungan) setiap uwong 10-15.000, ini dari hasil ngamen, jualan pin, nyablon baju samo kawan-kawan yang sudah begawe,” Ujar Anang.

“Sudah berjalan 3 kali kegiatan ini kita lakukan. setelah ini mungkin akan kita lakukan ke panti-panti,” Tutup Anang.