Melihat Dua Sisi Doktrin dan Radikalisme Pada Anak Bombers Surabaya

Sosok Heroik Anggota Polisi Selamatkan Anak Bomber

Palembang, LamanQu.com – Dalam serentetan peristiwa terkait aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo kemarin, ada sisi menarik soal anak-anak para pelaku terorisme ini. Yang kita tahu 4 anak pelaku pengeboman 3 gereja yakni Dita dan Puji ikut tewas. Puji mengajak dua anak perempuannya beraksi di GKI Diponegoro dan bahkan bom pun ditempelkan di tubuh dua gadis kecil ini. Dua anak laki-laki lainnya dengan menunggangi motor berboncengan melakukan pengeboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel Madya.

Sebelum kita lanjutkan baik nya kita ketahui dulu 2 istilah yang tak asing ini:

Doktrin/dok·trin/  menurut  wikipedia adalah 1. Ajaran (tentang asas suatu aliran politik, keagamaan; 2 pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan) secara bersistem, khususnya dalam penyusunan kebijakan Negara.

Radikalisme/ra·di·kal·is·me/ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  1 Paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dalam aliran politik

Dalam serentetan peristiwa terkait aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo kemarin, ada sisi menarik soal anak-anak para pelaku terorisme ini. Yang kita tahu 4 anak pelaku pengeboman 3 gereja yakni Dita dan Puji ikut tewas. Puji mengajak dua anak perempuannya beraksi di GKI Diponegoro dan bahkan bom pun ditempelkan di tubuh dua gadis kecil ini. Dua anak laki-laki lainnya dengan menunggangi motor berboncengan melakukan pengeboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel Madya.

Nah dalam aksi berikutnya, ada peristiwa ledakan di Rusunawa Sepanjang, Taman, Sidoarjo. Dalam kasus ini terduga teroris bernama Anton Febrianto tewas bersama istri dan satu anaknya. Nah anak-anak Anton yang lain selamat meski terluka akibat bom yang meledak ini. Tiga anak yang selamat ini adalah AR (15), FPH (11), dan Hu (11). FPH terluka di paha kiri belakang, sementara Hu terluka di hidung. Kabarnya AR ini membawa adik-adiknya ke RS Siti Khadijah, Sepanjang, hingga kemudian dibawa oleh Kepolisian untuk dirawat di RS Bhayangkara, Kompleks Mapolda Jatim.

Satu aksi berikutnya menyisakan anak teroris bernama A yang selamat meski Ayah, Ibu, dan dua kakaknya tewas saat melakukan pengeboman di Polwiltabes Surabaya. Dalam video yang beredar terlihat usai ledakan tampak tubuhnya yang terhuyung akhirnya diangkat oleh AKBP Roni Faisal Saiful Faton, Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya. Padahal sesuai protap seharusnya Polisi tidak boleh mendekati pelaku karena bisa saja masih ada bom yang belum meledak.

Pada akhirnya, kisah dua anak teroris ini ternyata memunculkan dua sisi berbeda. AR mengaku ayahnya itu kerap mengajaknya berjihad. Namun, berulang kali pula AR menolak ajakan tersebut karena baginya tidak sesuai pemikirannya dan bertolak belakang dengan ajaran Islam. AR juga membenarkan bahwa bom yang meledak tersebut adalah milik ayahnya dan dirakit sendiri. Ayahnya belajar merakit bom melalui internet dan sering mendengar ceramah dari sana (ini sepertinya harus ditanyakan siapa penceramah yang sering didengarkan ayahnya).

Ini sesuai dugaan saya karena setelah membaca berita bahwa AR sempat menyelamatkan adik-adiknya yang terluka berarti kemungkinan besar dia sebetulnya nggak mau untuk ikut jadi korban dalam aksi ini. Anak-anak ini selama ini juga dipaksa oleh orangtuanya berbohong bahwa mereka menjalani homeschooling sehingga tidak bersekolah di sekolah umum. Padahal kenyataannya mereka tak belajar apapun dan hanya didoktrin orangtuanya.

Yang membuat sedih adalah A. Istri Kapolda Jatim yang tadi menjenguknya mengungkapkan bahwa :

Kita juga takut anak-anak ini, tadi sudah sempat diwawancara dan sepertinya dia juga tercuci pemikirannya, otaknya. Ngerinya itu dalam wawancara, pemikiran mereka itu sudah radikal, sudah keras. Dalam hati kita miris ya tidak ada keluarga lain yang berani dampingi, tapi kalau tahu juga pasti ndak mau dampingi karena dia anaknya siapa. Ada rasa kasihan. Tapi tentu butuh perjuangan yang sangat berat untuk mengembalikan mereka menjadi anak normal yang tidak memiliki pemikiran radikal.

Bayangkan padahal anak ini saya yakin masih dalam fase kondisi badannya belum fit betul dan bahkan mungkin belum mencapai kesadaran penuh usai menjalani sejumlah perawatan medis tapi dia masih bisa bersikap keras seperti itu. Padahal dia harusnya bersyukur ada Polisi yang rela mempertaruhkan nyawa menyelamatkan dia.

Perbedaan sikap yang ditunjukkan anak-anak teroris ini buat saya wajar. Kita saja tak selalu sepaham dengan orangtua kita meskipun menghormati dan sangat sayang pada mereka kan? Pada intinya anak itu individu yang juga punya pemikiran dan hati nurani sendiri sehingga sangat mungkin punya cara pandang yang beda.

Buat saya ini PR berat untuk Kepolisian, Dinas Sosial, bahkan mungkin institusi lain seperti KPAI, Kemendikbud, hingga psikolog punya PR bersama bagaimana meng-handle anak-anak ini ke depannya. Terutama KPAI, ayo dong jangan cuma kalau anak artis bermasalah atau kasus-kasus legit saja kalian terjun. Ini mungkin kondisi yang banyak dialami anak Indonesia, besar di tengah keluarga yang orangtuanya bergabung dan mengagumi ideologi radikal. Di mana mereka akhirnya mengalami doktrinasi, kehilangan kesempatan hidup normal layaknya anak-anak lain, dan bahkan bisa jadi mereka suatu hari dipaksa ikut jadi martir.

Bahkan untuk anak seperti AR pun yang tidak setuju dengan radikalisme tetap saja PR itu berat. Bagaimana cara agar AR dan adik-adiknya bisa melupakan trauma, rasa minder karena orangtuanya banyak dikecam, dan segala hal lain yang mungkin mereka alami. AR dan adik-adiknya maupun A sekarang bisa dibilang sudah tak punya siapa-siapa di dunia. Keluarganya pun mungkin juga 50:50 untuk merawat karena ini bukan masalah mudah. Belum lagi jaminan keamanan kepada anak-anak itu sendiri dan bagaimana mereka kelak bisa hidup normal dan punya pandangan yang waras tentang kehidupan beragama dan bermasyarakat. (Sumber:net)