Timbang Kepala Kebo, Tradisi Banyuasin yang Mulai Dilupakan

Raffa diarak dengan tandu/joli didampingi oleh orangtua dan sepupunya Sultan menuju timbangan kepala kebo [Foto-foto Rahmat S.K/LamanQu.com].

 

Oleh Rahmat Septiawan Kemal

Timbang Kepala Kebo adalah tradisi (prosesi adat turun temurun) masyarakat Pangkalan Balai yang biasanya dilakukan oleh Orangtua yang melakukan nazar (suatu janji yang diwajibkan dilaksanakan apabila suatu tujuannya tercapai).

Penyiiapan dacing timbangan kepala kerbau.

Tak banyak yang tahu tentang adat Timbang Kepala Kebo ini. Masyarakat sekarang,
terutama di Pangkalan Balai perlu diberi informasi memadai secara terus-menerus
yang agar prosesi adat ini terus tetap dilestarikan.

Dalam konteks yang lain, biasanya Timbang Kepala Kebo dilakukan pada saat salah
seorang masyarakat ingin meminta diberi keturunan kepada Allah dan berjanji akan
melakukan adat Timbang Kepala Kebo jika keinginannya tercapai (nazar).

Kusma (kiri), Raffa (tengah), dan Sultan (kanan).

Nazar ini dalam adat Pangkalan Balai lebih di kenal dengan istilah sangi. Sangi
biasanya dilakukan pada saat anak yang lahir setelah bernazar melakukan khitan bagi
anak laki-laki dan dapat pula dilakukan berupa syukuran bagi anak laki-laki maupun
perempuan.

Selain itu dapat pula dilakukan ketika khitanan maupun syukuran. Banyak pula yang
melakukannya ketika sang anak menikah, yang biasanya hal ini dilakukan oleh
orangtua yang khawatir sang anak tidak mendapatkan jodoh. Lalu orangtua bernazar
jika anaknya menikah, orangtua tadi akan melakukan Timbang Kepala Kebo.

Pembacaan pantun/syair oleh bibi/kerabat (Kusma) menyambut kedatangan orangtua yang bernazar dan anaknya.

Timbang Kepala Kebo ini sudah sangat jarang dilakukan dan perlahan-lahan sudah
mulai dilupakan oleh masyarakat Pangkalan Balai. Hingga kini tradisi ini bisa
dihitung dalam setahun dapat dilihat rata-rata hanya dua kali.

Namun pada kesempatan kali ini pada Minggu, 18 Maret 2018, LamanQu.com bisa
menyaksikan kembali tradisi adat Pangkalan Balai yang mulai punah dalam acara
syukuran khitanan Raffa Adzim Attahir (6 tahun) putera dari pasangan Noviyanti dan Firmansyah yang juga didampingi oleh sepupunya Muhammad Alfarizi Sulthan Savarras (6 tahun) putera dari pasangan Anna Rosdiana, S. Kom dan Alvero Friko, Amd.

Dan ini merupakan bentuk nyata dari masih dilestarikannya adat kebudayaan sekitar,
meski adat ini tak banyak dijalankan.

Acara ini diselenggarakan di Jln. Merdeka Lorong Mbah Bejo, Kelurahan Talang
Gelumbang, Banyuasin, pada pukul 09.00 WIB hingga selesai. Hadir dalam acara
Timbang Kepala Kebo, antara lain Pemangku Adat Pangkalan Balai, tokoh masyarakat,
dan masyarakat sekitar.

Tata cara adat Pangkalan Balai ini terbilang unik dan menarik. Untuk khitanan,
salah satu keunikannya diawali arak-arakan menggunakan joli, ada ayunan dan dacing
timbangan yang dihiasi buah-buahan lokal. Juga ada 9 (sembilan) kain yang
dibentangkan sepanjang jalan menuju ayunan dan sudah pasti ada kepala kerbau yang
digantungkan di atas kepala di bagian atas ayunan.

Karena acara ini lebih menjurus ke khitanan maka pantun-pantun atau syair-syair,
yang dilantunkan bertema pendidikan anak-anak. Umumnnya dalam Timbang Kepala Kebo
dimulai dengan syair Selendang Delima, dilanjutkan syair Serambe, membacakan
pantun-pantun adat berisi nasihat. Pembaca pantun saling bersambutan terdiri dari
dua orang sekaligus sebagai pembawa acara, yaitu Affanul Z. Kheir dan Kusma.

Adapun mengenai makna-makna dari bahan-bahan yang disediakan, Sekretaris Sanggar Seni Beremben Besi Kusma mengatakan, “Ada beberapa hal di dacing timbangan ini.
Ada yang namanya perabe-perabe (istilah Pangkalan Balai). Perabe-perabe ini adalah
bahan-bahan hasil bumi dan ini mengandung filosofi sebagai wujud syukur pada
limbangan bahan hasil bumi Pangkalan Balai. Bahan-bahan hasil bumi itu ditempelkan
di setiap detail dacing timbangan ini.”ujarnya.

Kusma melanjutkan, “kemudian begitu anak ini menuju dacing timbangan, nanti akan
ada titian kain panjang sembilan lembar, itu menandakan filosofinya, anak ini
selama sembilan bulan dalam kandungan ibunya, jadi ini merupakan simbol kain ini di
bentangkan sebanyak sembilan lembar.”jelasnya.

Dengan kembalinya tradisi yang mulai terlupakan ini, diharapkan Pemerintah
Kabupaten Banyuasin dan Dinas terkait agar tetap terus melestarikan kebudayaan yang
ada. Generasi penerus perlu terus diajarkan dan dimotivasi tentang betapa
pentingnya budaya lokal mereka.