Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani (1704-1789 M)

Filsuf dan Ulama Tassawuf dari Palembang (Bagian 1)

LamanQu.com – Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani dilahirkan pada 1116 Hijriyah (1704 Masehi) di Palembang. Di dalam buku Ensiklopedi Islam nama lengkap beliau ditulis Abdus Samad Al-Jawi Al-Palimbani. Di dalam sumber-sumber berbahasa Melayu, sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994),  nama lengkap beliau dituliskan Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani. Masih menurut Azyumardi, bila merujuk pada sumber-sumber Arab, nama lengkap beliau adalah Sayyid Abdus Al-Samad bin Abdurrahman Al-Jawi Al-Palimbani. Azyumardi berpendapat nama terakhirlah yang lebih mendekati kebenaran, yaitu Syeikh Abdus Samad. Sebagaimana tradisi penyebutan nama orang di Arab dan Timur Tengah yang biasanya ditautkan dengan asal atau tempat kelahiran, karena beliau berasal dari Palembang ditambahkanlah Al-Palembani pada akhir nama beliau sehingga menjadi Abdus Samad Al-Palimbani.

Al-Palimbani lahir dari pasangan Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahab bin Syeikh Ahmad Al-Mahdani dengan Radin Ranti. Ayahnya (Syeikh Abdul Jalil) adalah mubaligh asal Yaman yang pada abad ke-18 menjabat sebagai Mufti di Kesultanan Kedah. Sedangkan ibunya (Radin Ranti) adalah perempuan asal Palembang. Sebelum menikahi Radin Ranti, Syeikh Abdul Jalil sudah memperisteri Wan Zainab putri Sultan Kedah, yaitu Dato Sri Maharaja Dewa.

Dari pernikahan dengan putri dari Kedah itu – berdasarkan sumber-sumber Melayu – Syeikh Abdul Jalil mendapatkan dua anak, yaitu Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir. Dari pernikahan dengan Radin Ranti, Syeikh Abdul Jalil mendapatkan seorang anak bernama Abdus Samad. Puluhan tahun kemudian pemikiran tasawuf filosofis Abdus Samad Al-Palimbani inilah yang berhasil menembus batasan-batasan teritorial di dunia Islam, baik pada masanya maupun sekarang.

Ensiklopedi Islam yang beredar luas di Arab, Timur Tengah, dan Barat menempatkan kepopuleran Al-Palimbani setara dengan Bung Karno Presiden ke-1 Republik Indonesia. Nama Al-Palimbani di kalangan umat Islam di Arab dan Timur Tengah sangat dihormati dan disegani. Dalam data sejarah di Masjid Al-Haram, Mekkah tercatat nama Al-Palimbani sebagai satu-satunya ulama dari Nusantara yang mendapatkan kehormatan sebagai imam besar Masjid Al-Haram.

Beberapa kitab karangan Al-Palembani sampai sekarang masih menjadi salah satu kitab pokok tentang tassawuf yang dipelajari di berbagai pesantren di Thailand bagian selatan (terutama Patani) dan Malaysia. Di Arab, Timur Tengah, Barat, dan Semenanjung Malaya ketenaran nama Al-Palimbani sebagai ulama tassawuf boleh dianggap melampaui Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Abdul Rauf Singkel, Yusuf Al-Maqassari, dan sebagainya.