Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani (1704-1789 M)

Filsuf dan Ulama Tassawuf dari Palembang (Bagian 2)

Memberantas Wujudiyah Mulhid

LamanQu.com – Pada pertengahan abad ke-18 di Palembang menyebar paham atau tarikat wujudiyah mulhid (WM). Paham yang menyimpang dari Alquran dan Alhadits ini telah lebih dulu berkembang di Nangroe Aceh pada akhir abad ke-17. Berkat usaha-usaha dakwah para ulama terutama Syeikh Nuruddin Al-Raniri, umat Islam di Nangroe Aceh berhasil dibersihkan dari segala pengaruh wujudiyah mulhid.

Tak dinyana di belakang hari praktik WM ini telah pula ditemukan menyebar dan berkembang di Palembang. Al-Palimbani yang bermukim di Mekah mengetahui di kota kelahirannya telah berkembang paham WM. Beberapa pelajar dan jemaah haji asal Palembang menemui beliau dan melaporkan perkara paham yang dapat menyesatkan umat Islam tersebut.

Penguasa Kesultanan Palembang Darussalam ketika itu berhasrat kuat memberantas paham WM sedini mungkin sebelum menyebar lebih luas. Sultan yang memerintah pada saat itu diduga kuat adalah Sultan Mahmud Badaruddin II (1767-1862) mengirim surat kepada Al-Palimbani melalui jemaah haji. Sultan meminta fatwa kepada Al-Palimbani selaku ulama tasawuf tentang perkara WM dan bagaimana ikhtiar umat Islam dalam mengatasinya.

Atas dasar tanggung sebagai ulama sekaligus berdasarkan permintaan sultan Palembang selaku umara, pada tahun 1188 H bertepatan dengan tahun 1774 M Al-Palimbani menyelesaikan penulisan kitab, berjudul Tuhfat al-Raghibin fi Bayan Ḥaqiqat Iman al-Mu’minin wa Ma Yufsiduhu fi Riddat al-Murtaddin.  Di dalam kitab ini Al-Palimbani menyampaikan hujjah dan targib kepada seluruh umat Islam agar tidak tersesat oleh berbagai paham yang menyimpang dari Islam seperti ajaran tarikat yang mengabaikan syariat, tradisi menyanggar (memberi sesajen), paham wujudiyah mulhid. Di dalam kitab ini Al-Palimbani juga menyatakan penulisan kitab tersebut atas permintaan sultan Palembang.